Orang Samaria yang Baik Hati



Dari Yerikho ke Yerusalem

Saya masih ingat ada lagu tentang perikop Orang Samaria yang baik hati, yang liriknya dimulai dengan kalimat, “Dari Yerikho ke Yerusalem, ada jalan belas kasih ….” Ya, belas kasih. Itulah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam perikop ini. Mengapa? Sebab Tuhan Yesus ingin mengajarkan kepada kita bahwa hukum Allah yang terutama bukanlah “Jangan berbuat ini…. jangan berbuat itu” yang kesannya negatif, berupa larangan. Sebaliknya, hukum Tuhan yang terutama adalah sangat positif yaitu, “Kasihilah….” yang berupa perintah untuk berbuat kebaikan. Kasih ini terutama ditujukan kepada Tuhan, dan kemudian, demi kasih kita kepada Tuhan, kita diajarkan untuk mengasihi sesama. Perikop ini selanjutnya menjabarkan tentang siapakah sesama yang harus kita kasihi.

Bacaan Injil Luk 10:25-37

25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”
26 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”
27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
28 Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”
29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”
30 Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.
31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Telaah teks

Perikop ini seolah terbagi menjadi dua bagian. Bagian yang pertama menyampaikan tentang apakah perintah Tuhan yang utama, dan bagian yang kedua menyampaikan tentang siapakah sesama manusia.

1. Perintah Tuhan yang utama: Kasihilah Tuhan

Mengapa perintah Tuhan yang utama adalah agar kita mengasihi Tuhan? Khotbah St. Yohanes Maria Vianney (1786-1859) mungkin dapat membantu kita memahami, mengapa demikian:

“Ya, pekerjaan kita satu- satunya di dunia ini adalah perbuatan mengasihi Tuhan- yaitu mulai melakukan pekerjaan yang akan kita lakukan kelak di dalam kekekalan. Mengapa kita musti mengasihi Tuhan? Sebab kebahagiaan kita diperoleh dari mengasihi Tuhan; dan bukan dari hal yang lain. Jadi, jika kita tidak mengasihi Tuhan, kita akan selalu tidak bahagia; dan jika kita berharap untuk menikmati penghiburan dan kelepasan dari kesakitan kita, kita akan mencapainya hanya jika kita mengasihi Tuhan.

 Jika kamu ingin menjadi yakin akan hal ini, pergilah dan temukanlah seseorang yang paling bahagia menurut ukuran dunia ini; jika ia tidak mengasihi Tuhan, kamu akan menemukan bahwa ternyata ia adalah orang yang tidak bahagia. Dan sebaliknya, jika kamu menemukan seseorang yang tidak bahagia menurut ukuran dunia, kamu akan melihat, bahwa karena ia mengasihi Tuhan ia bahagia di dalam segala sesuatu. O Tuhan! Bukalah mata hati kami, dan kami akan mencari kebahagiaan di mana kami sungguh dapat menemukannya.”[1]

Jika kita membaca berita tentang tokoh selebriti baik di dalam negeri maupun di luar negeri, sedikit banyak kita dapat mengetahui bahwa apa yang ditulis oleh St. Yohanes Maria Vianney benar adanya. Sebab ada banyak orang yang nampak bahagia dari luar, namun hatinya kosong, sebab mereka tidak mengenal dan mengasihi Allah. Tak jarang, ada di antara mereka yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri, karena merasa hidupnya tak berarti. Namun sebaliknya, ada juga orang- orang yang nampaknya tidak berkelebihan di mata dunia, namun mereka hidup bahagia, sebab Tuhanlah yang menjadi sumber suka cita mereka. Kita dapat menyebutkan sendiri, orang- orang semacam ini yang Tuhan ijinkan untuk hadir dalam kehidupan kita, untuk membuka mata kita, bahwa bukan kemewahan duniawi yang menentukan kebahagiaan seseorang, tetapi hubungan kasih yang erat dengan Tuhan.

2. Sesama manusia= siapapun yang membutuhkan pertolongan

Perikop ini sesungguhnya jelas mengajarkan kepada kita bahwa sesama bagi kita adalah siapapun -tidak terbatas oleh ras ataupun golongan- yang membutuhkan pertolongan kita. Maka belas kasihan tidak hanya berarti merasa kasihan, tetapi kasih itu harus diwujudkan dalam bentuk yang nyata. Kita sebagai murid- murid Kristus diajak untuk membagikan belas kasih kita kepada sesama. Sesama di sini bukan hanya teman kita, tetapi juga mereka yang bukan teman kita, bahkan musuh/ orang yang membenci kita. Perumpamaan ini menjelaskan perintah Kristus, “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu… “(Luk 6:27; lih. Mat 5:43). Sebab kasih yang tulus sifatnya memberi, tanpa mengharapkan balasan; menolong karena mengetahui bahwa orang tersebut membutuhkan pertolongan.

Penjelasan The Navarre Bible tentang perikop ini mengatakan bahwa perbuatan belas kasih ada empat belas macam, tujuh bersifat rohani dan tujuh lainnya bersifat jasmani. Perbuatan kasih yang bersifat rohani adalah: membawa orang yang berdosa kepada pertobatan, mengajar mereka yang tidak tahu, menasehati orang yang bimbang, menghibur orang yang berduka, menerima kesalahan dengan sabar, mengampuni kesalahan orang lain, mendoakan orang- orang yang masih hidup dan yang sudah meninggal.

 Sedangkan tujuh perbuatan kasih yang bersifat jasmani adalah: memberi makan orang yang lapar, memberi minum orang yang haus, memberi pakaian kepada orang yang tidak berpakaian, memberi tumpangan kepada yang tidak mempunyai tempat tinggal, mengunjungi orang sakit, mengunjungi para tahanan di penjara, dan mengubur orang yang meninggal dunia.[2]

3. Mengapa Yesus menggunakan perumpamaan dalam mengajarkan tentang belas kasihan ini?

Kemungkinan Yesus mengajar dengan perumpamaan dengan maksud mengkoreksi kebiasaan kesalehan yang palsu yang dilakukan oleh orang- orang pada jaman itu. Menurut hukum Taurat, persentuhan dengan jenazah menjadikan seseorang najis secara hukum, sehingga perlu menjalani ritual pemurnian
 (lih. Bil 19:11-22, Im 21:1-4, 11-12).
Hukum- hukum ini bukan dimaksudkan untuk mencegah orang- orang menolong orang yang terluka; tetapi hukum itu ditujukan untuk alasan kesehatan dan penghormatan kepada orang mati. Penyimpangan para imam dan orang Lewi pada perumpamaan ini adalah, mereka yang tidak tahu apakah orang yang dirampok itu sudah mati atau belum, sengaja memilih untuk menerapkan interpretasi yang keliru terhadap hukum ritual -yang merupakan hukum yang sekunder- dan malah mengabaikan hukum yang lebih utama, yaitu mengasihi sesama dan memberikan bantuan yang diperlukannya.[3]

Dengan demikian Yesus mengajarkan kita bahwa hukum kasih merupakan hukum yang terutama, dan ini mengatasi hukum- hukum yang lainnya. Hukum kasih mengatasi batas ras/ golongan, seperti yang ditunjukkan dalam perumpamaan ini. Sebab yang terluka karena dirampok itu adalah seorang Yahudi, sehingga sesungguhnya seorang imam Yahudi dan seorang Lewi yang lewat di sana mempunyai kewajiban yang lebih besar untuk menolongnya, karena mereka sebangsa, namun juga karena kedudukan mereka sebagai pemuka umat. Sebaliknya, akan lebih mudah dimengerti jika orang Samaria itu memilih untuk tidak menolongnya, sebab saat itu bangsa Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria (lih Yoh 4:9). Namun demikian, yang terjadi dalam perumpamaan itu adalah sebaliknya: sesama orang Yahudi yang seharusnya menolong malah tidak menolongnya, sedangkan orang Samaria yang tidak dianggap teman itulah yang menolongnya. Kisah ini seharusnya membuka pemikiran kita tentang apakah kita sudah menjadi ‘orang Samaria yang baik hati’ bagi orang yang membutuhkan pertolongan, terutama jika itu adalah saudara kita sendiri?

4. Makna allegoris dari perumpamaan ini

Dikisahkan bahwa orang yang jatuh ke tangan penyamun itu sedang dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho. Secara geografis, ketinggian Yerusalem dari air laut lebih tinggi daripada ketinggian Yerikho, sehingga jalan dari Yerusalem menuju Yerikho adalah jalan menurun. Yerusalem sering disebut sebagai kota yang kudus/ surgawi, sedangkan Yerikho, kota duniawi. Maka secara simbolis, penurunan ini menggambarkan jatuhnya seseorang dari keadaan rahmat.

St. Agustinus mengajarkan bahwa orang Samaria ini menggambarkan Kristus sendiri, dan orang yang jatuh ke tangan penyamun itu adalah Adam, yang menggambarkan keseluruhan umat manusia yang jatuh dalam dosa oleh jebakan si Jahat.[4] Terdorong oleh belas kasihan, Kristus turun ke dunia untuk menyembuhkan luka-luka manusia, dan menjadikan luka-luka tersebut sebagai luka-luka-Nya sendiri (lih. Yes 53:4; Mat 8:17, 1 Pet 2:24, 1 Yoh 3:5). Kristus merawat luka- luka itu dan mengolesinya dengan minyak dan anggur, yang menggambarkan sakramen; sedangkan tempat penginapan itu menggambarkan Gereja. Perumpamaan ini menggambarkan kisah belas kasihan Kristus kepada umat manusia, sejalan dengan banyak ayat lain di dalam Injil yang menunjukkan betapa Ia berbela rasa dengan sesama-Nya yang menderita (lih. Mat 9:36, Mrk 1:41, Luk 7:13).

5. Pengajaran Magisterium tentang perumpamaan Orang Samaria yang baik hati

a. Katekismus Gereja Katolik

KGK 1825    Kristus telah wafat karena kasih terhadap kita, ketika kita masih “musuh” (Rm 5:10). Tuhan menghendaki agar kita mengasihi musuh-musuh kita menurut teladan-Nya (Mat 5:44), menunjukkan diri kita sebagai sesama kepada orang yang terasing (Bdk. Luk 10:27-37), dan mengasihi anak-anak (Bdk. Mrk 9:37) dan kaum miskin (Bdk. Mat 25:40, 45).
Santo Paulus melukiskan gambaran mengenai kasih yang tidak ada tandingannya: Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri: Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Kor 13:4-7).

b. Paus Yohanes Paulus II

Dalam surat ensikliknya, Christifideles laici, Salvifici doloris, seperti dikutip dalam khotbahnya di peringatan ke delapan World Day of the Sick, di Roma 11 Februari 2000.
“Gereja, “dari abad ke abad…. telah membuat perumpamaan Injil Orang Samaria yang baik hati menjadi nyata kembali dan menyampaikan kasihnya yang menyembuhkan dan penghiburan Yesus Kristus….Ini terjadi melalui komitmen yang tak kenal lelah dari komunitas Kristiani dan mereka semua yang merawat para orang sakit dan yang menderita …. bersama dengan pelayanan yang ahli dan murah hati dari para petugas kesehatan.”[5].

“Teladan Kristus, Sang Orang Samaria yang baik hati, harus menjadi inspirasi bagi sikap orang beriman, mendorongnya untuk “dekat” kepada saudara dan saudarinya yang menderita, melalui penghormatan, pengertian, penerimaan, kelemahlembutan, belas kasihan dan kesediaan tanpa pamrih. Adalah masalah memerangi ketidakpedulian yang membuat tiap-tiap orang dan kelompok dengan egonya menarik diri ke dalam diri mereka sendiri. Sampai akhir, “keluarga, sekolah dan institusi- institusi pendidikan harus, jika untuk alasan-alasan kemanusiaan, bekerja keras demi membangunkan kembali dan menyempurnakan rasa peduli terhadap sesama dan penderitaannya.”[6].

Dalam surat ensikliknya Evangelium Vitae:
“Selanjutnya, bagaimana kita gagal untuk menyebutkan semua tanda sehari- hari tentang keterbukaan, pengorbanan dan perawatan yang tak memikirkan diri sendiri yang dibuat oleh orang- orang yang tak terhitung banyaknya di dalam keluarga, rumah sakit, panti asuhan, panti jompo dan pusat- pusat lain atau komunitas lainnya yang mendukung kehidupan?

Dipimpin oleh teladan Yesus, “Orang Samaria yang baik hati” (lih Luk 10:25-37) dan ditopang oleh kekuatan-Nya, Gereja telah selalu berada di garis depan dalam hal memberikan pelayanan kasih: begitu banyak putera puterinya, terutama para religius, dalam bentuk tradisional ataupun baru, telah membaktikan dirinya dan terus membaktikan hidup mereka kepada Tuhan, memberikan diri mereka secara cuma-cuma demi kasih kepada sesama, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan.

 Perbuatan- perbuatan ini memperkuat dasa “masyarakat kasih dan kehidupan” yang tanpanya kehidupan setiap orang dan kelompok kehilangan kualitas manusiawi yang paling asli. Bahkan jika perbuatan- perbuatan tersebut tidak nampak di hadapan kebanyakan orang, iman menjamin kita bahwa Allah Bapa “yang melihat yang tersembunyi” (Mat 6:6) tidak hanya akan memberi penghargaan akan perbuatan- perbuatan ini, tetapi telah di sini dan sekarang membuat mereka menghasilkan buah yang kekal demi kebaikan semua orang.[7]


Seorang asing bukan lagi orang asing bagi orang yang harus menjadi sesama bagi yang membutuhkan pertolongan, sampai pada titik menerima tanggung jawab bagi kehidupannya, seperti ditunjukkan jelas dalam perumpamaan Orang Samaria yang baik hati (lih. Luk 10:25-37). Bahkan musuh berhenti menjadi musuh bagi orang yang wajib untuk mengasihinya (lih. Mat 5:38-48; Luk 6:27-35), untuk melakukan kebaikan kepadanya (lih. Luk 6:27, 33, 35) dan untuk segera menanggapi kebutuhan-kebutuhannya yang genting dan tanpa pengharapan untuk dibayar kembali (lih. Luk 6:34-35).

Keluhuran kasih ini adalah untuk berdoa bagi musuhnya. Dengan melakukan hal itu, kita mencapai kesesuaian dengan kasih Tuhan yang memelihara: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat 5:44-45; lih. Luk 6:28, 35)[8]

c. Paus Benediktus XVI

Dalam surat ensikliknya, Deus Caritas est:
“Perumpamaan Orang Samaria yang baik hati (lih. Luk 10:25-37) memberikan dua penjelasan yang sangat penting. Sampai saat itu, konsep “sesama” dimengerti sebagai mengacu secara mendasar kepada saudara-saudara sebangsa dan kepada orang-orang asing yang sudah menetap di Israel; dengan perkataan lain, kepada komunitas suatu bangsa yang sudah terjalin erat. Batasan ini sekarang dihapuskan. Siapapun yang membutuhkan saya, dan yang dapat saya bantu adalah sesama saya. Konsep: “sesama” sekarang menjadi universal, tetapi tetap konkret. Walaupun telah diluaskan kepada semua umat manusia, ‘sesama’ ini tidak direduksi menjadi sesuatu yang generik, abstrak dan tidak menyatakan kasih; tetapi yang meminta komitmen praktis saya, di sini dan sekarang….”[9]

Perumpamaan Orang Samaria yang baik hati tetap menjadi patokan yang menekankan kasih yang universal kepada mereka yang membutuhkan yang kita temui “secara kebetulan” (lih. Luk 10:31), siapapun dia. Tanpa menyimpang dari perintah mengasihi yang universal ini, Gereja juga mempunyai tanggungjawab yang khusus: di dalam keluarga gerejawinya tidak seorang anggotapun harus menderita kekurangan.

 Ajaran dari surat kepada jemaat di Galatia cukup tegas: “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”
((Paus Benediktus XVI, Deus Caritas est, 25))

Kesimpulan

Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita, bahwa hanya dengan mengasihi Tuhan-lah kita dapat hidup bahagia. Kasih kepada Tuhan itu diikuti dan diwujudkan oleh kasih kepada sesama, sebab kita percaya Tuhan hadir di dalam sesama kita yang membutuhkan pertolongan (lih. Mat 25:40).

Kisah orang Samaria yang baik hati mendorong kita untuk mengasihi tanpa memandang bulu, tanpa membeda- bedakan ras dan golongan, dan tanpa mengharapkan balasan. Kristus sendiri telah memberikan teladan kepada kita, sebab Ia-lah yang digambarkan sebagai orang Samaria yang baik hati itu.

Kristus telah menolong kita, menyembuhkan luka-luka kita akibat kejatuhan kita ke dalam dosa. Setelah mengalami pertolongan Tuhan ini, kitapun dipanggil oleh Kristus untuk melakukan hal yang sama, yaitu menolong sesama kita yang juga membutuhkan pertolongan, baik itu adalah teman kita, ataupun orang yang membenci kita. Setelah kita memenuhi tugas kewajiban kita di dalam keluarga dan pekerjaan kita, kita perlu juga berkarya bagi orang lain dengan menjadi “Orang Samaria yang baik hati” bagi mereka yang membutuhkan. Dengan melakukan hal ini, kita membagikan kasih Tuhan, dan hati kita akan memperoleh suka cita.

Mari kita tanyakan kepada diri kita sendiri: kepada siapakah kita dapat menjadi “orang Samaria yang baik hati” pada hari ini?


49 Tahun Mengabdi Untuk Mewartakan Injil di Tanah Papua


Pater Frans Lieshout OFM

Pria itu terlihat tua. Ia memiliki postur tubuh yang tinggi dan kekar meski sudah tua. Terlihat kulitnya yang dulu kekar mulai keriput bertanda usianya semakin tua. Gaya bicaranya santai dan tak satupun kata yang tak terucap salah walaupun sudah tua dan pemenggalan kata-kata yang diucapkan pun terdengar dengan jelas. Senyum ria tetap dan selalu terukir di wajahnya. Cara jalannya pun masih seperti orang muda. Dia adalah Pastor Frans Lieshout OFM.


Pastor Frans Lieshout OFM yang lazim disapa dengan Pater Lieshout lahir di Moonfort, Nederland pada tanggal 15 januari 1935. Ia adalah penulis buku “Sejarah Gereja Katolik di Lembah BaliemPapua”. Ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1962. Satu tahun kemudian setelah mengikuti beberapa kursus sebagai persiapan untuk menjadi misionaris di Asia pada bulan april tahun 1963 ia diberangkat ke Nederland New Guinea atau Papua.

Tahun 1963 Selama satu tahun ia bertugas sebagai pastor di Jayapura. Kemudian pada tahun 1964 hingga tahun 1967 menjadi pastor dan mewartakan Injil di Wamena yang biasa disebut sebagai lembah Baliem. Disanalah Pater Lieshout pertama kali berkenalan dengan orang Baliem.

Selain di Baliempada tahun 1968 hingga pada tahun 1974 ia ditugaskan lagi ke paroki St.Missael Bilogai dan Bilogai. Disana ia juga berkenalan dengan orang Moni pertamakali setelah orang Baliem. 

Setelah itu selama 10 tahun dari tahun 1974 hingga tahun 1984 Pater Lieshout menjadi rektor Sekolah Pendidikan Guru yang kini menjadi SMA Taruna Bhakti dan dekan dekenat Jayapura. Dan pada tahun 1985 Pater Lieshout resmi menjadi warga Negara Indonesia. Selain di Baliemdan Bilogai, Pater Lieshout mewartakan ijil di Biak selama tiga setengah tahun dan selama dua tahun menjadi pastor paroki Jayapura. Kemudian enam tahun di paroki katerdral Jayapura. 

Kemudia sejak awal tahun 2007 kembali ke Lembah Baliem“Pulang Kampung” tempat dimana pertama ia mengenal budaya dan masyarakat Baliem. 

Saat ini ia menikmati masa pensiunnya sambil menulis buku mengenai “Sejarah Gereja Katolik dan Upaya masyarakat Lembah BaliemUntuk memepertahankan Dirinya dan Kebudayaan di Tengah Berbagai Pengaruh dari Luar”.

Pater Lieshout adalah seorang misionaris yang mewartakan Injil dan melayani umat Tuhan ditanah Papua. Selama melayani dan melaksanakan tugas-tugas pastoralnya di Tanah Papua, Pater Lieshout ia memberikan perhatian besar kepada kebudayaan asli Papua khususnya di lembah baliem.

Saat ini Pater Lieshout bantu gereja dimana tempat ia sedang menikmati masa pensiunnya sambil menulis buku dan melakukan studi bahasa Baliem dan Budaya baliem.

Arnold Belau


PRESS RELEASE KOMUNITAS SOMATUA



KOMISI
KOMUNITAS MAHASISWA INDEPENDEN SOMATUA INTAN JAYA

 
“Bertolak Dari Diri Kembalilah Ke Jati Dirimu”


PT. MINESERVE INTERNASIONAL ATAU PT. EKSPLORASI NUSA JAYA HARUS MEMBERI SOSIALISASI MENYELURUH DI INTAN JAYA

Apapun namanya PT. PT Pertambagan dari nama ke nama tetap sama saja dalam cara kerjanya. PT. PT Pertambagan yang ingin masuk di Intan Jaya sebaiknya memberikan pemahaman atau sosialisasi kepada masyarakat dari Anepone – Sanepone sampai di Mbulu – Mbulu, karena dengan belajar, dengan mendengar, dengan melihat serta mengalami akibat – akibat PT. PT Pertambagan maupun PT. PT lainnya di Indonesia maupun dibelahan dunia mana saja kaum pribumi menjadi korban dan korban akibat PT. PT tersebut, maka pada hari ini senin 9 Juli 2012 KOMISI “Komunitas Mahasiswa Independen Somatua Intan Jaya” menggelar jumpa pers di sekretariat KOMISI di Rumah Almarhum Pilipus Andreas Kum, jalan kali nona – Nabire Papua.

PRESS RELEASE

Nama berubah nama sampai kapanpun tetap cara kerja dari PT. PT Pertambagan maupun PT. PT lainnya selalu menipu masyarakat pribumi dengan keterbatasan pengetahuan yang ada pada masyarakat untuk menjadikan masyarakat pribumi sebagai korban. Tepatnya pada tanggal 5 Mei 2012 PT. Eksplorasi Nusa Jaya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat di Intan Jaya di Distrik Sugapa. Saat melakukan sosialisasi di Distrik Sugapa Kabupaten Intan Jaya PT. Eksplorasi Nusa Jaya tidak melibatkan tokoh – tokoh yang ada di Intan Jaya, seperti Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda, Tokoh Intelektual serta Mahasiswa Intan Jaya dan yang menjadi moderator saat sosialisasi itu adalah pejabat Kabupaten Intan Jaya yang KOMISI tidak ingin muat dalam press release ini, karena menjaga nama baik pejabat tersebut.
            Sosialisasi yang diberikan oleh PT. Eksplorasi Nusa Jaya kepada masyarakat setempat tidak dijelaskan secara mendalam. PT. Eksplorasi Nusa Jaya juga tidak menjelaskan apa keuntungan dari Eksplorasi? Apa kerugian? Dan bagimana hasil untuk masyarakat pemilik hak ulayat?

PT. Eksplorasi Nusa Jaya juga tidak memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang apa keuntungan Eksploitasi bagi masyarakat pribumi? Apa kerugian dari Eksploitasi untuk masyarakat pribumi? bagimana Hasil untuk masyarakat Pribumi? Dan bagimana dengan kehidupan masyarakat pribumi di Kabupaten Intan Jaya tentang bahaya Limba Tambang akibat Eksploitasi?

            PT. Eksplorasi Nusa Jaya maupun pihak – pihak yang berkepentingan terhadap kekayaan alam Intan Jaya sebaiknya memberikan pemahan tentang kerugian, dampak dan hasil untuk pemilik hak ulayat dan bahaya limba tambang, jika masyarakat memahami akan semua hal  itu, maka masyarakatlah yang akan menerima bahwa PT. PT Pertambagan boleh masuk dan tidak boleh masuk, bukan dengan melakukan penipuan dan pembodohan terhadap masyarakat dengan memberikan gula – gula manis.
PT. Eksplorasi Nusa Jaya maupun pihak – pihak yang berkepentingan terhadap kekayaan alam Intan Jaya  juga musti melihat letak geogerafis Kabupaten Intan Jaya yang bergunug – gunung dan memiliki sungai – sungai yang begitu banyak yang sangat tidak memungkinkan untuk masukan PT. PT Pertambagan.

            PT. Eksplorasi maupun pihak – pihak yang berkepentingan terhadap kekayaan alam Intan Jaya musti membuka mata lebar – lebar dan melihat kehidupan masyarakat intan jaya yang pada umumnya mengantungkan hidup mereka pada sungai – sungai yang ada di Intan Jaya. Jika perusahaan Tambang di paksakan masuk di Intan Jaya, maka ini merupakan upaya pihak – pihak yang berkepentingan terhadap kekayaan alam Intan Jaya dengan sengaja dan sengaja ingin membunuh dan menghabiskan masyarakat Anepone – Sanepone sampai Mbulu – Mbulu.

            KOMISI “Komunitas Mahasiswa Independen Somatua Intan Jaya” sudah mendapat data bahwa; ada beberapa kandidat yang meng - Gadeng Investor Asing dalam Pemilukada Intan Jaya. Hal ini dilakukan bila besok jadi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Intan Jaya terpilih, maka dengan jelas Investor akan ber – Operasi di Intan Jaya. Cara ini adalah sebuah upaya Pemerintah Kabupaten Intan Jaya dan Pihak – Pihak yang berkepentingan dengan “Segaja Ingin Membunuh Masyarakat Intan Jaya” yang tidak tau apa – apa.

 Dibawa ini pernyataan sikap  KOMISI “ Komunitas Mahasiswa Independen Somatua Intan Jaya”

Pernyataan Sikap
========================
Nomor: 009- PS/KOMISI/9/V/2012

Jika masyarakat Intan Jaya saat ini hanya ingat makan hari ini dan pake hari ini. Maka masyarakat Intan Jaya dalam gegaman binatang buas (KOMMA MBOGO) yang siap musnah dan musnah dari bumi Intan Jaya.
Kami yang tergabung dalam (KOMISI) Komunitas Mahasiswa Independen Somatua Intan Jaya menyatakan dengan tegas bahwa;
1.      Investor Asing maupun pihak – pihak yang berkepentingan terhadap kekayaan alam Intan Jaya segera sosialisasi umum di seluruh wilayah Intan Jaya tentang bahaya limba, keuntungan dan kerugian serta manfaat dari eksploitasi untuk masyarakat pemilik hak ulayat.
2.      Pihak – pihak yang mempunyai kepentingan terhadap kekayaan alam intan jaya jangan memanfaatkan masyarakat adat dengan ketertinggalan dan kebodohan mereka hanya untuk memuaskan kepentingan diri sendiri dam kelompok.
3.      Investor asing maupun pihak – pihak yang berkepentingan terhadap kekayaan alam intan jaya akan berhadapan dengan Komunitas Mahasiswa Independen Somatua Intan Jaya (KOMISI) Jika tidak mengikuti keinginan masyarakat adat dalam pembagian hasil Tambang Intan Jaya.
4.      KOMISI “Komunitas Mahasiswa Independen Somatua Intan Jaya” Tidak akan pernah tinggal diam untuk melindungi kekayaan alam Intan Jaya. 
                  Demikian pernyataan sikap ini dibuat dengan sesungguhnya untuk ditindak-lanjuti oleh pihak- pihak terkait demi menyelamatkan Umat Tuhan di Kabupaten Intan Jaya dari bahaya Binatang Buas.
                                                                                                     Nabire, Senin 9 Juni 2012
Yang Menyatakan:
                            Petrus Ugipa                                                                           Omil Jagani

Selaku Koordinator KOMISI Distrik Wandae                         Selaku Sekreraris Panitia Sosialisai KOMISI

Rufinus Japugau
Selaku Ketua Panitia Sosialisai

Mengetahui:

Karel Kobogau
Sekretaris Umum KOMISI