Tampilkan postingan dengan label ULMWP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ULMWP. Tampilkan semua postingan

Kita Harus Mengakhiri Alir Tangis Rakyat Papua



Oleh Mohamad Chandra Irfan

Siapa yang bisa memenjarakan bahasa dan kata-kata? Tak satu orang pun berhak memenjarakannya. Biar itu orang yang punya senjata. Biar itu orang yang punya kuasa. Biar itu orang yang punya banyak harta. Tak ada yang bisa memenjarakan bahasa dan kata-kata. Apalagi teriakan “Merdeka!” yang diawali terlebih dahulu seruan “Papua”.

Di Papua, bukan hanya terjadi agresi militer. Tapi di bumi Papua, hal lain yang terjadi adalah agresi budaya. Agresi budaya ini mestilah menjadi satu bahan untuk kita rumuskan bersama. Di antara organ tubuh kita, mulai dari mata, telinga, hingga pancaindra lainnya, mesti menjadi peka terhadap kehancuran bersama: penindasan atas nama kuasa dan senjata.

Yang umum kita kenal selama ini soal Papua hanyalah tarian adat dan paduan suaranya. Tapi kita selalu menjadikan mata kita sendiri buta terhadap realitas sesungguhnya. Bahwa di balik tarian adat dan paduan suara yang kerap dibanggakan banyak kalangan di Indonesia, terjadi pembantaian diam-diam terhadap orang Papua-nya.

Tak heran, pekikan perang dengan suara khas burung, selalu menggema di mana-mana pasca rakyat Papua berteriak “merdeka”. Kawan-kawan Papua percaya, dengan begitu ia sedang menabung masa depan Papua menuju satu gerbang yang mereka cita-citakan: merdeka. Selain euforia dalam teriakan khas yang meniru suara-suara burung, jauh di dalam dadanya, mereka sedang menyucikan dirinya dari roh-roh jahat yang bernama, sebut saja di antaranya: Indonesia dan Amerika Serikat.

Dalam suasana gegap gempita sekaligus penuh duka, budaya bisa menjadi siasat lain dalam menundukkan penguasa. Ya, sebagai media propaganda. Mau tidak mau, sepakat ataupun tidak, berbicara Papua, yang berhak menentukan secara mandiri masa depan bangsanya, masa depan kehidupannya, masa depan tatanan sosialnya, adalah harus orang Papua.

Tak ada doa yang sempurna, selain digenapkan dalam aksi massa. Kita harus mengakhiri segala kebejatan di seisi semesta—menjadi satu barisan dengan kawan-kawan Papua. Sebab cinta terhadap rakyat Papua hanya akan menjadi basa-basi semata, apabila tak dibarengi tindakan yang nyata. Berteriak atas nama cinta pada sesama manusia. Berteriak untuk menyulam kembali gagasan merdeka, di jalan raya.

Bukan satu atau dua manusia yang hilang nyawanya di bumi Papua akibat moncong senjata. Data-data hanya menjadi catatan yang kehilangan rumah, kala ia tersimpan di laci penguasa, yang hanya cukup mereka ketahui, tak pernah diselesaikan dengan seksama. Seandainya saja aku bisa menghapus tiap ingatan pembantaian di Papua, ingin sekali ingatan-ingatan itu kugunting, memilih dan memilah mana yang paling aku suka.

Tapi tak bisa. Tak bisa. Genosida di Papua terus menjadi cermin nyata manakala aku duduk di beranda hanya untuk menghabiskan sisa usia, atau di gedung pertunjukan manakala menonton pementasan yang penuh dengan adegan palsu dan penuh dusta. Bumi Papua selalu mengetuk-ngetuk dengan segala peristiwa kejam yang menimpanya. Aku tersiksa, tapi rakyat Papua jauh lebih tersiksa dan nyaris binasa.

Mula-mula aku mengatupkan mata, sebelum kantuk benar-benar tiba. Dalam pandangan yang gelap dari berbagai warna, yang tersisa hanya ingatan hitam yang memanjang ke arah Papua. Sejak itu, adegan paling tragis dalam kepalaku mulai masuk satu per satu. Seorang perempuan yang diperkosa tentara. Seorang lelaki berambut gimbal ditabrak tanpa sebab apa-apa.

Seorang lelaki mengepalkan tangan kirinya sambil bilang “merdeka”, ususnya terburai memanjang ke tanah yang baru saja dijarah Pemerintah Indonesia, dijaga ketat Brimob dan tentara. Seorang buruh kepalanya kena batu sebesar tubuh koala. Seorang anak kehilangan ibunya karena baru saja mengikuti aksi massa. Bisakah adegan ini diakhiri? Kepalaku semakin berat membayangkan anak-anak yang kepalanya akan dipenggal, tinggal menunggu usia mereka menginjak dewasa. Tak ada adegan bahagia. Tak ada!

Aku menyangkal Edo Kondologit, bahwa bumi Papua adalah surga yang jatuh ke bumi. Sekarang tidak begitu adanya. Bumi Papua adalah darah yang terus menggelontor dari tiap organ tubuh orang-orang Papua. Surga di Papua telah beralih menjadi neraka yang tak kenal batas usia. Setiap bayi yang lahir sudah ditentukan usianya oleh makhluk yang bernama pemerintah dan aparat kolonial Indonesia dan Amerika Serikat, bukan lagi oleh Tuhannya.

Tak ada lagi surga di Papua. Itu hanya kalimat untuk menibobokan kita. Kini, neraka itu bernama Papua dan para penjaganya adalah pemerintah, aparat dan korporat dari Indonesia dan negeri asing lainnya. Mereka saling berebut kuasa untuk mendapatkan investasi yang membabi buta.

Jika sekarang bumi Papua adalah neraka, maka orang-orang yang berjuang untuk keluar dari kerak neraka yang diciptakan secara biadab, selamanya adalah orang-orang yang sedang membangun kembali surga. Meski nyawa selalu jadi taruhannya.

Tak lama lagi, asalkan kita tetap satu suara, antara kawan-kawan Papua dan kawan-kawan Indonesia yang bersepakat untuk membangun kembali surga dan sejarah Papua yang sebenarnya. Kita akan merebut kembali Bintang Kejora di langit pagi seputih salju Puncak Jaya, seharum bunga gerbera. Lantas kita akan mengibarkannya di seantero jagat raya. Menyanyi dan menari tanpa jeda. Sampai benar-benar terbentuk sebuah bangsa yang mengamalkan ilmu sejahtera untuk semua umat manusia.
Kita harus mengakhiri alir tangis rakyat Papua. Tentu saja dengan segenap perlawanan yang patuh terhadap kesepakatan bersama, yakni: mati atau merdeka!


Sumber: http://pembebasan.org/kita-harus-mengakhiri-alir-tangis-rakyat-papua/


Pemusnahan Etnis Bangsa West Papua Secara Sistematik Di Era Modern & Realitas Yang Sangat Paradoks



Oleh Dr. Socratez S.Yoman

1. Pendahuluan
Anda setuju atau tidak setuju, Anda suka atau tidak suka, Anda terima atau tidak terima, Anda percaya atau tidak percaya, Anda senang atau tidak senang, saya mau menulis dan sampaikan apa yang saya yakini, apa yang saya lihat, apa yang saya alami dan apa yang saya dengar dan apa yang saya baca.

Kita pelajari teori penjajahan dan pendudukan. Jika para kolonial ingin menguasai dan memusnahkan rakyat dan bangsa yang diduduki, ia biasanya melumpuhkan dan menghancurkan 5 pilar utama yang dimiliki penduduk asli.
Penjajah dengan fokus hancurkan pendidikan, kesehatan, ekonomi, kebudayaan ( bahasanya dihilangkan, sejarahnya dihilangkan), tanahnya dirampas atas nama pembangunan dan kepentingan perusahaan.

Akibatnya penduduk asli tidak mendapat pendidikan yang layak, tidak menerima pelayanan kesehatan yang baik, ekonomi dikendalikan kaum pendatang, tidak punya tanah di atas tanah leluhur mereka, tidak punya bahasa dan sejarah. Penduduk Asli sudah tidak berdaya dan telah kehilangan segalanya.

Contoh Januari 2018, kita semua prihatin dan peduli dengan campak, gizi buruk dan kematian bayi di Asmat. Anda semua adalah pahlawan kemanusiaan. Anda semua adalah orang-orang yang diberkati Tuhan. Karena Anda peduli dengan sesama manusia yang menderita dan menangis.
Apakah campak dan gizi buruk yang terjadi di Asmat itu dengan tiba-tiba?
Dimana kehadiran Negara? Dimana peran negara selama 56 tahun di West Papua?
Mengapa Negara/pemerintah selama ini hanya sibuk urus NKRI dengan mengejar OPM?
Mengapa Negara/pemerintah selama ini hanya promosi gerakan separatis harus dibrantas?
Mengapa Negara/pemerintah sibuk mengejar & menangkap KNPB?
Mengapa Negara/pemerintah tidak pernah memberikan ijin wartawan asing masuk ke Wast Papua?
Mengapa hampir 24 institusi yang memeriksa setiap wartawan yang mau masuk West Papua?


2. Negara/Pemerintah Tidak Hadir di West Papua
Pernyataan yang dikutip dibawah ini adalah paradoks. Negara seakan-akan hadir di West Papua. Sebenarnya Negara tidak pernah hadir di West Papua.
"Saya datang ke sini satu tim untuk menegaskan bahwa negara hadir. Pak Presiden Jokowi mendapat laporan (KLB campak di Asmat) langsung memberi perintah kepada Menteri Kesehatan dan Kementerian terkait agar diberikan bantuan yang diperlukan" (Sylvana Maria Apituley, Tenaga Ahli Utama Kedeputian V Kantor Staf Presiden, Antara News 18/01/2018).
Prof. Dr. Franz Magnis-Seseno pernah menulis:

"Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia" ( hal.255)
" ...kalau orang-orang asli Papua makin banyak yang meninggal karena AIDS, TBC, penyakit-penyakit lain, kalau mereka terus ketinggalan, miskin, dan tersingkir, kalau mereka mengalami nasib yang sama seperti Indian di Amerika Utara atau Aboriginal di Australia, kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab sebagai bangsa biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak senjata tajam" (hal. 257). ( sumber: Magnis: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme: Bunga Rampai Etika Politik Aktual, 2015).

Selama ini pemerintah Indonesia berusaha menutupi kekejaman, kejahatan, kebrutalan dan kegagalannya dengan berbagai cara yang berbasis kebohongan. Numun demikian, kasus campak dan gizi buruk, kematian bayi di Asmat mengumumkan bahwa Negara tidak hadir di West Papua.
Negara/pemerintah hadir di West Papua hanya dengan kepentingan politik dan keamanan untuk mengamankan ekonomi dan melindungi penduduk Transmigrasi yang didatangkan untuk menguasai lembah-lembah subur dengan menyingkirkan penduduk asli sebagai pemilik negeri.
Benarlah & amin, apa yang dikatakan Prof. Franz, keadaan penduduk asli West Papua sangat buruk, tidak normal, tidak beradab & memalukan. Ini terjadi akibat dari negara tidak hadir di West Papua.

3. Gizi Buruk dan Kematian Bayi Tidak Saja di Asmat.
Ikuti apa yang dilaporkan Yones Douw adalah bukti ketidakhadiran Negara di West Papua.
"Ada apa ini kasus kematian anak terus terjadi di tanah papua Tahun 2016 kematian 72 anak-anak di Nduga setelah itu lanjut kematian 92 anak-anak karena wabah campak di 5 desa Daerah Debei distrk Tigi barat kab Deiyai dimulai awal april s/d juni tahun 2017, sekarang awal tahun 2018 kasus kematian 67 anak-anak Asmat di kabupaten Asmat. Gereja harus cek jumlah korban yang sebenarnya anak-anak di asmat ini sebab pemerintah selalu mengurangi jumlah kematian ini. Kenapa kematian anak-anak itu berturut-turut terjadi di papua. Dulu kematian secara massal itu tidak pernah ada. Kalau kematian seperti ini terjadi maka generasi muda penerus bangsa Papua habis ini" (Sumber: Yones Douw).

4. Ikuti Kesaksian Anak Asmat (Benyamin Gurik)
Siapa pembunuh Orang Papua sesungguhnya?
Saya lahir dan besar di tepi sungai Kok, Krongkel, Fayit, Aib, Siret di Wilayah yang dulu merupakan bagian dari kabupaten Merauke dan kini masuk dalam wilayah administrasi pemerintahan kabupaten Asmat.
Apakah Anda berbicara Asmat tahun 2018 supaya perbaiki Gizi?
Kakak saya tertua lahir 1965 dan saya yang bungsu lahir 1980an semua di daerah Asmat. Daerah Asmat yang dulu terkenal karena ukiran. Tapi kini karena daerah wabah.
Sy lulus SLTP N. I Pantai Kasuari di Asmat akhirvtahun 1990an. Bapa/ayah kandung sy Pdt. Bimbert Gurik adalah satu-satunya misionaris asli Papua yang sampai kini masih hidup di daerah Selatan. Tahun ini beliau memasuki usia 50 tahun di Medan penginjilan buat orang Selatan.

Kami karena tidak ada SMA saat itu di sana, kami semua lanjutkan SMA di Merauke dan Wamena. Kami terbiasa dulu hidup makan dan minum ikut pola hidup masyarakat adat di sana. Dan saya masih hidup. Tanpa gizi & makanan sehat ala Indonesia Jawa yang kamu agungkan.
Tidak ada beras dan supermi. Dulu kami tahu beras itu saat sebulan sekali kapal masuk dari Merauke bawa jatah beras untuk pegawai di sana. Sekarang siapa yg larang orang ke hutan dengan janji supermi dan beras akan di bantu tiap 1 atau triwulan?

Saya merasa kita yang besar di kota & merasa sok tau ini telah merusak tradisi orang asmat masuk hutan di hari senin & pulang di hari Sabtu bawah bekal dari hutan. Ginetoy Ariwei.
Jadi baku lempar batu sambil pukul dada bikin diri jadi org paling berjasa saat musibah skrg ini. Jangan kamu main sandiwara.
Cukup ingat saja bahwa semua wabah ini terjadi di masa pemerintahan Joko yang kamu dewakan sebagai presiden RI terbaik. Dan Isu ini mulai marak ketika pak SBY tampil dengan program perlunya raskin buat masyarakat bawah.
Kamu rubah pola hidup berhutan masyarakat dengan cepat tanpa memperhitungkan secara matang dampaknya nanti itu adalah pembuat kejahatan.

5. Tragedi Kemanusiaan Melanda Bangsa West Papua
Saya menulis artikel ini tidak berdiri sendiri pada pendapat dan pikiran saya, tetapi integrasi beberapa pikiran dan laporan serta pengalaman. Tulisan ini untuk memberikan gambaran yang utuh tentang Tragedi Kemanusiaan terhadap bangsa West Papua.
Ada pernyataan Deputi Staf Kepresidenan, ada pendapat Frof. Dr. Franz Magnis, ada laporan dari Yones Douw dan ada pengalaman hidup dari Benyamin Gurik. Saya berusaha integrasikan tulisan ini supaya menjadi jelas pokok masalahnya.

Terjadinya proses pemusnahan etnis bangsa West Papua tidak bisa kita pungkiri. Ada fakta cukup bahwa pernyataan Negara dan realitas sangat paradoks.
Selamat berdebat.
Ita Wakhu Purom, 23/01/2018



AKU PAPUA




Diciptakan Frangky Sahilatua sebelum ia meninggal. Jelek jelek tetap aku Papua. Edo Kondologit maupun Doddy Latuharhari tetap sama dalam syair dan lirik. 
 Sekalipun gaya bernyanyi berbeda, mereka telah menggambarkan situasi hidup Papua bergantung alam, angin dan daun. Alam adalah hutan dan tambang, angin adalah informasi di facebook, daun adalah otsus dan aiwa.
Adalah lagu terakhir dari sekian ribu lagu yang pernah diciptakan bersama saudaranya Jane. Iapun masuk surga, diantar angin dan daun, bersama alunan lagu, aku Papua. 

Papua sebuah negeri penuh misteri. Mulai dari pembunuh misterius di pinggir pusat pertambangan, memperebutkan sehelai dolar dengan darah manusia. Sampai penyakit kolera yang berkali-kali serang sungai-sungai pinggiran penduduk. Ironi memang kehidupan disana, berharap suatu saat Vatikan Roma terpana. 

Emas memang jahat. Timika kini, kota licik, mencekam, jahat. Perang selalu ada, hidup bersama lusiver, si penjagal malam yang setiap kali merasuki militer, dan perang lokal. Suami seminggu dalam tanah, istri seminggu merana. Setiap kali sebongkah emas digali, harus dibayar dengan tumbal darah manusia dibuang ke kali.

 Perang dipelihara, adu domba tugas wajib, kejar mangsa secara senyap. Teman-teman bilang, Timika licik. Kemana saja, mobil buntuti dari belakang. Itulah Timika saat ini.
Sebuah kebiadaban yang dibudidayakan di negeri yang menempatkan keberadapan setelah Ketuhan Yang Maha Esa. Seandainya orang semacam Bupati Dogiyai memimpin disana, ia sudah larang miras dan penggunaan alat tajam, bedil dan senjata. 

Pemerintah aman, rakyat dan pengusaha aman, bisa bikin berbagai lapangan pekerjaan. Talenta bisa dikembangkan. Papua bisa bangkit berdiri bersama gubernur terpilih nanti.
Emas, sang gadis manis, bidadari kecil telah jatuh diatas bumi Amungsa. Belum berdiri sendiri, sudah dicuri orang. Penduduk lokal kehilangan sumber hidupnya. Masih bergantung ke mama alam, hanya mendulang serpihan emas, buangan limbah triliun. 

Kemolekanmu membuat Amerika gilang kepalang, basmi setiap pemalang. Apakah kepanjangan emas adalah, Engkau Membuat Aku Sakit? Engkau Membuat Aku Sedih? Engkau membuat aku sengsara? Mengapa tak bisa ganti Engkau Membuat Aku Sejuk sekalipun hanya untuk sebentar saja. Syoo,,, kaskado seh. 

Emas, engkau jahat, engkau sungguh sangat jahat, engkau sumber segala kekejaman diatas muka bumi ini. Hati dan cintahku sudah hancur terbawa angin dan daun. Sekalipun sedari dulu, aku bagian dari tanah air ini, engkau masih belum sadar, dan masih memberi makan kepada musuh kami yang setiap hari membenci kami. Tetapi itulah emas bedolah krisopras, sejatinya jin yang menyamar, mencari mangsa dibalik berlian yang bersinar. 

Orang Papua, Ambon, Pasifik, Aborijin, India dan sebagian Malaysia, pada jaman Kapur, berasal dari tanah Gondwana yang penuh emas. Tubuh dan darah kami adalah emas terbakar panas. Tapi jaman itu, India talepas dan pergi tempel dengan daratan Rusia. 

Akibat tubrukan maha dasyat, terjadilah gunung tertinggi di dunia. Everest Himalayah. Sahul Papua Australia lari naik baku tubruk dengan kota Atlantis yang hilang, jadilah kepulauan raja empat yang eksotis, dan pundak pegunungan Papua yang penuh kilapan emas, wa nur. Ini bukan mithos, tapi dikisahkan pula oleh filsuf Yunani, Plato pada 427-347 sebelum masehi dalam buku Critias dan Timaeus. Itulah Papua, aku Papua. 

Aku yakin. Sekalipun engkau memberi makan sekian ribu bangsa-bangsa, tetapi engkau mencintai aku diam-diam. Aku tau dan merasakan itu. Karena cintahmu padaku yang begitu tinggi, engkau akan menarik semua endapan emas diatas bumi Amungsa. 

Amerika akan bingun, harta karun yang kumau curi, semua pada lari menghilang kemana. Hari itu, Amerika akan tau dan sadar bahwa, selama ini aku curi di negeri yang sebenarnya bukan haknya. Ini bukan mimpi, tapi ini akan menjadi nyata. Sebab Sang Terang Abadi akan memberi kita jalan, kebenaran dan hidup. Yohanes 14:6. 



Selamat jalan Uskup Emeritus Mgr. Herman Ferdinandus Maria Muninghoff, OFM. 1921-2018. Cuma engkau sendiri yang pernah berkata: "Sekalipun saya seorang diri, masalah HAM Papua, ku bawa ke dunia internasional".

 
AKU PAPUA
cipt Frangky Sahilatua

Tanah Papua tanah yang kaya
surga kecil jatuh ke bumi
Seluas tanah sebanyak madu
adalah harta harapan
Tanah Papua tanah leluhur
Disana aku lahir
Bersama angin bersama daun
Aku di besarkan
Hitam kulit keriting rambut aku papua
Hitam kulit keriting rambut aku papua
Biar nanti langit terbelah aku papua
Oooh, Oooh,
Tanah Papua tanah yang kaya
surga kecil jatuh ke bumi
Seluas tanah sebanyak madu
adalah harta harapan
Tanah Papua tanah leluhur
Disana aku lahir
Bersama angin bersama daun
Aku di besarkan
Hitam kulit keriting rambut aku papua
Hitam kulit keriting rambut aku papua
Biar nanti langit terbelah aku papua.
Sumber: Facebook  Engelbertus P. Degey


Keanggotaan Papua dalam Melanesian Spearhead Group Tertunda



Melanesian Spearhead Group (MSG), sebuah kelompok negara-negara kecil di Kepulauan Pasifik, menyatakan belum bisa menerima keanggotaan United Liberation Movement for West Papua – ULMWP. Keputusan itu diambil dalam pertemuan di Honiara, Kepulauan Solomon yang berlangsung 14-16 Juli.


Keputusan bahwa MSG belum bisa menerima Gerakan Persatuan Pembebasan Papua Barat atau United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) sebagai anggotanya, diungkapkan oleh Victor Yeimo, ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) melalui laman Facebooknya.

Victor sendiri saat ini masih berada di Solomon, untuk mengikuti pertemuan MSG bersama sejumlah aktivis Papua Merdeka. Menurut Victor, keinginan ULMWP menjadi anggota MSG akan dibahas dalam pertemuan selanjutnya di Vanuatu.

Sebelum pertemuan itu, akan dibahas mengenai syarat-syarat keanggotaan, agar organisasi itu dapat diakomodasi. Dia juga menambahkan, bahwa proses ini hanyalah sebuah penundaan, dan telah ada komitmen dari anggota MSG yang lain untuk membuat sebuah perjanjian berisi dukungan bagi perjuangan ULMWP.

“Perjanjian ini akan ditanda tangani oleh PM Solomon Islands, PM Vanuatu, ketua FLKNS, dan sekjen ULMWP," kata Victor Yeimo. "Menuju kesepakatan itu, besok di Honiara, akan diadakan satu pertemuan khusus sejumlah anggota MSG dan PIDF dari Polinesia dan Mikronesia. Ini pertemuan pertama internasional di kawasan ini."

Sementara itu, melalui keterangan pers, Kementerian Luar Negeri memaparkan penundaan keanggotaan ini karena partisipasi aktif dan lobi intensif delegasi Indonesia. Delegasi ini terdiri dari perwakilan 5 provinsi bercorak budaya Melanesia Indonesia, yaitu Maluku Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Papua, Papua Barat..Mereka telah berhasil meyakinkan para pemimpin MSG untuk tidak menerima aplikasi keanggotaan ULMWP.


“Tidak ada tempat bagi ULMWP dalam masa depan MSG. Hasil ini tidak seusai dengan harapan dan keyakinan gerakan separatis Papua atau ULMWP bahwa mereka akan diterima sebagai anggota penuh di KTT khusus MSG di Honiara,” kata Desra Percaya, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, yang turut mengikuti pertemuan.


Di Papua sendiri, ribuan orang berkumpul pada Rabu dan Kamis lalu di berbagai kota untuk menunggu keputusan MSG. Penundaan ini tentu saja mengecewakan, tetapi tidak mengurangi tekad para pendukung organisasi ini dalam memperjuangkan kemerdekaan, pemisahan Papua dari Indonesia. Ratusan orang diamankan polisi pada hari Rabu, tetapi kemudian dilepaskan dan kembali mengadakan aksi dukungan pada Kamis siang.


Sonny Dogopia, aktivis anggota Aliansi Mahasiswa Papua, di Jayapura kepada VOA mengatakan, masyarakat Papua bisa memahami apa yang terjadi di Solomon. Bagi mereka, menjadi anggota MSG adalah hak yang melekat karena faktor geografis dan etnografis. Sonny menegaskan, orang Papua ingin memiliki posisi yang sama dengan saudara yang tinggal di pulau-pulau kecil di sebelah timur mereka itu.


“Kita melihat dinamika yang terjadi di MSG terkait keanggotaan Bangsa Papua melalui ULMWP ini, dinamika yang sedang terjadi kita ikuti saja. Karena politik yang dimainkan oleh negara Indonesia sedang berlangsung, kemudian harapan rakyat Papua melalui ULMWP juga sedang berlangsung di sana," kata Sonny. "Kita tidak bisa memaksa untuk harus diterima, kami juga tidak harus memaksa untuk menunda. Kita ikut dinamika, karena ini sudah menjadi hak bagi kami untuk menjadi anggota."


Sonny menduga, keputusan MSG ini muncul karena pengaruh pemerintah Indonesia dalam pertemuan di Solomon. Dia juga mengkritisi protes pemerintah Indonesia terhadap pengibaran bendera Papua Merdeka di lokasi pertemuan. Namun dia memastikan bahwa upaya ini tidak akan terhenti oleh apa yang terjadi. Sonny menuntut diberikannya kebebasan mengemukakan pendapat seluasnya bagi orang Papua, karena selama ini hak itu sudah sangat dibatasi.


“Kami yang bergerak ini adalah rakyat yang sadar. Rakyat yang sadar ini mau bersama-sama melangkah. Tetapi ada bentuk-bentuk penghadangan, bentuk intimidasi oleh negara yang disebut Indonesia ini yang kemudian membatasi ruang gerak rakyat, menakuti rakyat, dan kalau saja kami diberi kebebasan untuk tampil di muka umum, mungkin jalan raya dan setiap tempat di Papua ini akan seperti lautan manusia," ujar Sonny.

Pembatasan dalam mengeluarkan pendapat tidak hanya dilakukan di Papua. Di Yogyakarta, ratusan mahasiswa Papua yang berkumpul di Asrama Kamasan, juga menggelar berbagai kegiatan untuk mendukung upaya organisasi pembebasan Papua masuk menjadi anggota MSG.

Namun aksi damai itu direspons dengan pengerahan pasukan pengamanan dalam jumlah besar di sekitar asrama. Jalan di depan asrama mahasiswa Papua bahkan ditutup. Roy Karoba, pemimpin aksi mahasiswa Papua di Yogyakarta menyebut, tindakan aparat kepolisian berlebihan dan tidak perlu.

“Yang kita lakukan hanyalah mimbar bebas di depan asrama Papua di Jogya. Sekadar hanya membacakan sikap terkait pelaksanaan Pepera yang tepat jatuh pada 14 Juli, kami baru di depan asrama, baru mau orasi, sudah dihadang aparat disuruh masuk kembali," sebutnya. "Bahkan ada beberapa kawan kami yang dipukul oleh aparat keamanan. Karena tujuan kami adalah aksi damai, maka kami masuk kembali ke asrama dan melanjutkan aksi di dalam.”

Roy memastikan tidak ada kekerasan yang terjadi dalam aksi yang rencananya akan berlangsung sampai hari Sabtu itu. Dia juga menyebut, demonstrasi kali ini didukung oleh sejumlah organisasi mahasiswa di Yogyakarta.

Polisi telah menolak surat pemberitahuan demonstrasi yang disampaikan organisasi bernama Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Papua Barat. Menurut Roy, mahasiswa Papua menerima penolakan polisi dan memilih menggelar aksi di jalan depan asrama. Namun, pilihan itupun tidak diberi ruang, karena polisi mendesak mereka masuk ke area halaman.

“Kalau ada pemberitaan soal aksi kekerasan, perlu dibuktikan siapa yang melakukan kekerasan itu. Kami tidak melakukan aksi kekerasan bahkan kepada aparat yang berusaha menghadang kami. Kami memiliki video untuk membuktikan pernyataan ini," papar Roy.

Kepala Kepolisian Resor Kota Jogja, Kombes Pol Tommy Wibisono menyebut, upaya menghadang aksi mahasiswa Papua ini untuk mencegah mereka menggelar demonstrasi di tengah jalan. Dia khawatir, hal itu akan mengganggu keamanan masyarakat khususnya pengguna jalan. Karena itu, polisi meminta mahasiswa Papua menggelar aksi cukup di dalam asrama.