SEMAKIN DIMANGSA SEMAKIN BERTAMBAH JUMLAH DOMBA




Matius 10:16-25

Khotbah oleh Pastor Eric Chang 

Yesus juga akan menunjukkan mukjizat lainnya: semakin dimangsa akan semakin bertambah jumlah domba. Hal itulah yang disaksikan oleh Kekaisaran Roma. Mereka tak dapat mempercayai apa yang mereka saksikan! Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk menjelajahi seluruh kekaisaran Roma yang merupakan kerajaan terbesar di dunia saat itu dengan angkatan perang yang tak terkalahkan. Pasukan Roma memperoleh kemenangan di mana-mana. Para serigala ini tidak terkalahkan oleh siapapun. (Lambang kota Roma adalah gambar seekor serigala yang sedang menyusui beberapa bayi.)
Dan Yesus mengutus domba-domba itu ke tengah-tengah serigala. Kekaisaran Roma memang mampu untuk membinasakan domba-domba itu. Mereka membunuh banyak orang Kristen akan tetapi mukjizat terus terjadi. Semakin banyak domba (orang Kristen) yang mereka bunuh, semakin meningkat jumlah domba. Kemudian dunia melihat keajaiban! Serigala tunduk kepada domba, pada abad ke-4, kaisar Roma, Konstantin, menyerahkan pedangnya pada Gereja dan berkata bahwa Gereja telah menaklukkannya. Serigala dikalahkan oleh domba! Pernahkah Anda mendengar hal yang seajaib itu? Begitu banyak serigala yang diubah oleh kuasa Allah dan menjadi domba. Gereja mula-mula tidak pernah mengangkat pedang melawan Kekaisaran Roma. Akan tetapi, Gereja mengalahkan Kekaisaran Roma dalam waktu 300 tahun, hal yang tidak dapat dicapai oleh musuh duniawi Roma. Bukankah ini suatu hal yang istimewa?

Kebodohan Allah lebih cerdik dari kepandaian manusia
Apakah Anda pikir ajaran Yesus itu suatu kebodohan? Dengarlah ucapan dari rasul Paulus di dalam 1 Korintus 1:25. Di sana dia berkata, "Yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia." Apakah Anda pikir bahwa Allah itu sangat bodoh? Nah, kebodohan-Nya jauh lebih cerdik daripada kepandaian Anda. Saya bermegah di dalam Injil justru karena ia adalah sesuatu hal yang tak pernah terbayangkan oleh manusia. Injil adalah sesuatu yang tak mungkin diciptakan oleh manusia karena tak mungkin terlintas di dalam benak manusia untuk mengerjakan hal tersebut dengan cara ini. Tak ada satu manusia pun di dunia ini yang mau membayangkan akan melakukan apa yang Tuhan lakukan. Tak satu manusia pun yang bermimpi untuk mengutus domba ke tengah-tengah serigala untuk menaklukkan para serigala itu. Jika Anda punya mata untuk melihat, maka Anda bisa melihat bahwa Injil itu berasal dari Allah; bahwa manusia tak akan pernah berpikir seperti itu karena baginya hal itu adalah mustahil untuk menjalankan hal ini. Akan tetapi, justru inilah yang Allah kerjakan, hal yang dinilai manusia sebagai yang mustahil.

Orang Kristen berbeda dari orang non-Kristen seperti domba berbeda dari serigala
Inilah ajaran Yesus: orang Kristen berbeda dari orang non-Kristen seperti domba berbeda dari serigala. Akan tetapi ada yang berkata bahwa menjadi orang Kristen hanya sekadar masalah menerima kasih karunia dari Allah. Tidak ada perbedaan yang mendasar dengan orang non-Kristen. Ini adalah suatu penyangkalan terhadap ajaran Yesus. Dia berkata, "Dulu kamu adalah serigala tetapi sekarang Aku telah mengubahmu: kamu telah menjadi manusia baru; kamu telah menjadi domba." Tak ada penjelasan yang lebih tepat untuk menggambarkan sistem duniawi ini selain dari menggambarkannya memakai istilah gerombolan serigala.
Saya tidak punya waktu untuk menjelaskan tentang masyarakat serigala, akan tetapi jika Anda membaca artikel dari ensiklopedia tentang serigala, Anda akan tertegun melihat kemiripan di antara masyarakat manusia dan kehidupan kelompok serigala. Anda akan melihat bahwa serigala, sama seperti manusia, bekerja secara berkelompok. Mereka bukan makhluk individual. Mereka senang mengelompok; mereka senang berkumpul bersama. Kekuatan mereka terletak pada kelompok. Dan di dalam kelompok ini, ada seekor serigala yang menjadi pemimpin. Bagaimana Pemimpin itu dipilih? Dia harus bertarung untuk membuktikan bahwa ia serigala yang paling kuat, paling licik dan paling agresif di dalam kelompok itu.
Jadi kita melihat bahwa hal itu mirip dengan masyarakat kita, ada yang berkuasa dan ada yang harus tunduk. Nah, serigala tidak selalu saling membunuh. Mereka bergabung dalam kelompok mereka untuk melawan kelompok yang lain, sama seperti manusia, bangsa melawan bangsa. Dalam semua aspek ini, mereka sangat mirip dengan manusia duniawi.

Namun ketika kita sudah menjadi Kristen, Yesus mengubah karakter kita. Dari karakter serigala yang egois dan agresif, kita diubah menjadi karakter domba yang lemah lembut dan mengasihi. Kita menjadi serupa dengan Anak Domba Allah. Yesus selalu digambarkan sebagai Anak Domba Allah karena Dia adalah Pribadi yang lemah lembut dan memberi diri.
Hal lain yang perlu kita perhatikan lagi adalah bahwa perubahan ini dikerjakan oleh kuasa Allah. Anda tidak akan bisa mengubah karakter seseorang tanpa kuasa Allah. Itulah kemuliaan Injil. Ia tidak sekadar menyuruh Anda untuk menjadi religius, menjadi baik dan sebagainya, akan tetapi Injil memberitahu kita bahwa kita akan diubah oleh kuasa Allah.
Memang mudah menyuruh orang menjadi orang yang baik dan ramah, tetapi jika itu bukan wataknya, ia tidak akan dapat melakukannya. Sama halnya dengan memberitahu seorang narapidana yang berada di dalam penjara, yang telah merampok dan membunuh, "Kamu tidak seharusnya melaukan semua itu." Nasehat ini tidak ada gunanya buat dia. Hanya jika penjahat itu diubah baru dia dapat menjadi orang yang baik. Percuma saja memberi dia banyak nasehat. Saya kenal seorang penjahat di New York. Saya melihat bagaimana dia diubahkan secara total dan menjadi manusia baru. Jika Anda mendengar penjahat itu menyampaikan kesaksiannya, Anda akan berkata, "Tuhan, sungguh ajaib jalan-Mu! Serigala berubah menjadi domba!"

Namun sebelum Anda bisa diubah, Anda sendiri harus punya hasrat untuk diubah. Ada banyak orang yang mencintai cara hidup serigala. Mereka senang berkeliling menggigit orang; hal itu menyenangkan mereka dan mereka menikmatinya. Jika mereka sendiri yang digigit, jelas mereka tidak suka itu. Akan tetapi memang banyak orang yang sangat mirip dengan serigala dan nyaman dalam sifat serigala mereka itu.
Siapa yang dapat menikmati keadaan menjadi domba? Setiap orang menginjak kepala Anda. Jika Anda punya taring yang tajam, Anda akan berkata, "Kalau kamu gigit aku, akan kutunjukkan seberapa tajam taringku. Panjangnya sekitar dua inci. Kalau kamu ganggu aku, akan kutunjukkan kekuatanku." Namun domba, hewan malang ini tidak bisa berbuat seperti itu! Tidak. Aku tidak mau menjadi domba. Sama sekali tidak ada pertahanan! Setidaknya sebagai serigala aku punya dua taring. Kalau aku menjadi orang Kristen, aku akan kehilangan taringku! Apa yang akan terjadi jika aku menjadi domba? Jadi, kita semua lebih suka menjadi serigala.
Mengapa kita ingin berubah? Menurut Anda, apakah alasannya? Saya mendapati bahwa sebelum kita melihat kemuliaan Allah dalam rupa Yesus Kristus, kita tak akan pernah mau berubah. Sebelum saya melihat pesona Yesus, saya sangat senang menjadi serigala. Namun ketika saya melihat Anak Domba Allah di dalam pesona-Nya, dan ketika saya melihat wajah serigala saya di cermin, dengan taring-taring besar dan panjang yang mencuat keluar, saya benar-benar merasa malu dengan taring-taring saya itu. Taring saya begitu jelek. Dan saya melihat betapa cantiknya Anak Domba itu.

Anak Domba memiliki kuasa yang besar
Mungkin Anda akan berkata, "Baiklah, kedengarannya bagus. Tetapi yang kita bicarakan ini bukan masalah kecantikan. Ini masalah kekuatan." Jika demikian halnya, maka Anda masih belum memahami kuasa Anak Domba. Kita akan melihatnya sebentar lagi.
Mari kita perhatikan kata-kata luar biasa di dalam Wahyu 17:14 yang menyebutkan, "...Anak Domba akan mengalahkan mereka..." Kita melihat kuasa Anak Domba. Tahukah Anda kuasa Anak Domba?
Wahyu pasal 17 berbicara tentang beberapa binatang yang sangat mengerikan, binatang yang sangat besar kuasanya. Binatang-binatang yang mengerikan itu melambangkan negara-negara yang sangat berkuasa. Lalu ada juga Anti-Kris, tokoh yang sangat berkuasa. Para musuh, binatang-binatang yang sangat kuat ini, ditaklukkan oleh Anak Domba. Itu berarti bahwa menjadi anak domba itu bukanlah menjadi lemah tanpa kekuatan. Menjadi anak domba berarti memiliki kuasa Allah di dalam hidup Anda. Inilah poin yang harus Anda pahami. Serigala melambangkan kekuatan duniawi, kuasa duniawi, kuasa Roma, kekuatan pedang, kekuatan senjata. Itulah kekuatan duniawi. Serigala melambangkan kekuatan semcam itu.

Tetapi domba mewakili kuasa Allah di dalam dunia. Hal inilah yang tidak disadari oleh mereka. Jadi pilihannya adalah apakah Anda mau memiliki kuasa duniawi atau kuasa Allah. Domba itu sangatlah berkuasa. Anda sekarang dapat mengerti mengapa Yesus berkata, "Aku mengutusmu sebagai anak-anak domba ke tengah-tengah serigala." Namun kita yang duniawi berkata, "Tidak ada harapan menang! Ini tindakan yang mustahil!" Memang mustahil jika dilihat dari sudut pandang manusia.
Tetapi Yesus berkata, "Aku memberimu kuasa." Apakah Anda memperhatikan hal itu di saat kita membaca Matius 10:27? Dia memberi mereka kuasa yang maha besar. Dia melengkapi mereka dengan kuasa untuk menyembuhkan di ayat 8. Dia memberi mereka kuasa mengatasi kuasa setan-setan. Dia berkata, "Aku memberimu kuasa yang mengatasi kuasa musuh." Bahkan kuasa untuk membangkitkan orang mati! Itulah kuasa Allah, bukan kuasa manusia. Anda adalah anak domba dan Anda baru bisa memiliki kuasa itu jika Anda menjadi anak domba. 

Selama Anda masih serigala, Allah tidak akan pernah memberi Anda kuasa-Nya. Tetapi jika Anda bersedia menjadi domba, Dia akan melengkapi Anda dengan kuasa-Nya. Jadi ini bukanlah domba-domba yang berkeliaran tanpa arah di tengah-tengah serigala. Mereka itu adalah domba-domba Allah dan kuasa Allah ada pada mereka. Dan Allah menjaga mereka. Itu sebabnya mengapa di akhir bagian ini dikatakan bahwa bahkan rambut di kepala Anda terhitung di hadapan-Nya. Allah menjaga Anda. John Chrysostom, pengajar besar di gereja mula-mula berkata, "Tuhan adalah Gembala dan Gembala memimpin domba, bukannya serigala." Jika Anda masih serigala, Dia bukanlah Gembala Anda. Hanya jika Anda adalah domba maka Dia menjadi Gembala Anda.

Kekristenan bukanlah tempat pelarian
Perhatikanlah poin yang lain lagi: Yesus berkata, "Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala." Bukan sekadar ke sekitar tempat tinggal serigala, melainkan Anda diutus langsung ke tengah-tengah serigala. Menjadi seorang Kristen bukanlah semacam pelarian. Jika Anda berpikir bahwa menjadi orang Kristen itu adalah semacam pelarian dari masalah-masalah Anda di dunia, maka Anda datang ke tempat yang salah.
Tempat bagi orang Kristen bukan ketika Anda duduk di gereja terisolasi dari dunia luar, atau ketika Anda sedang dalam kelompok persekutuan Anda. Anda baru berfungsi sebagai orang Kristen ketika Anda berada di kampus atau di kantor Anda. Di sanalah Anda mulai berfungsi sebagai orang Kristen. Anda baru berfungsi sebagai orang Kristen ketika Anda berada di tengah-tengah musuh; bukannya di tengah-tengah para kawan. Tidak mudah menjadi orang Kristen.

Apa artinya menjadi domba?
Seperti apa karakter domba itu? Domba, seperti yang Anda ketahui, dipersembahkan sebagai korban persembahan. Mengapa Yesus disebut sebagai Anak Domba Allah? Karena Dia akan mempersembahkan diri-Nya sebagai korban penebus dosa dunia. Mengapa kita disebut domba seperti Dia? Karena Anda dan saya akan dikorbankan. Kita semua, akan dikorbankan jika kita ingin berfungsi sebagai orang Kristen.
Siapkah Anda menjadi korban persembahan? Jangan menjadi domba kalau Anda tidak mau dikorbankan. Domba memang hewan korban. Adakah orang yang berkata bahwa menjadi orang Kristen itu mudah? Jika saya tidak mau dijadikan korban, maka saya tidak akan mau membuang-buang waktu saya dengan menjadi orang Kristen. Karena saya hanya akan menjadi pengunjung gereja saja. Saya hanya akan menjadi orang yang religius saja. Saya hanya akan menjadi salah satu orang religius penganut salah satu agama di dunia. Itu bukanlah panggilan yang Yesus berikan kepada kita. Perhatikanlah baik-baik untuk apa Yesus memanggil kita. Dia memanggil kita untuk menjadi domba. Tanyakanlah pada diri Anda: apa yang akan terjadi pada domba-domba yang pergi ke tengah-tengah kawanan serigala? Kebanyakan dari mereka akan mati.
Beberapa dari antara kita memang bersedia untuk mati. Beberapa dari antara kita, seperti Paulus, bersedia untuk dikorbankan sebagai persembahan. Dan kematian kita terjadi lewat berbagai macam cara. Kita tidak sekadar mati secara jasmani. Lagi pula, tidak ada yang istimewa dengan hal tersebut. Kita semua akan mati, Kristen atau non-Kristen. Jadi menghadapi kematian bukanlah suatu kemuliaan yang besar. Yang penting adalah kesediaan untuk mati bagi Dia bukan hanya secara jasmani. Bagaimanapun juga, mati lebih mudah ketimbang menjalani hidup sebagai persembahan yang hidup. 

Pikirkan tentang hidup sebagai persembahan yang hidup, yaitu hidup di tengah-tengah serigala. Hanya diperlukan satu atau dua detik bagi domba tersebut untuk mengalami kematian. Serigala-serigala itu hanya perlu menggigit leher Anda dan memutuskan urat nadi Anda, maka berakhirlah semuanya! Akan tetapi hidup sebagai domba di tengah-tengah serigala, setiap kali Anda menoleh maka yang Anda lihat adalah serigala lain yang sedang memelototi Anda, setiap saat Anda merasa seolah-oleh taring mereka siap menghunjam, saya pikir hidup bagi Kristus jelas lebih berat ketimbang mati bagi Kristus. Banyak dari antara kita yang akan berhasil menjadi martir, akan tetapi tidak akan banyak yang berhasil hidup bagi Kristus. Dan apa yang menjadi panggilan Yesus bagi kita adalah menjalani hidup yang penuh pengorbanan sebagai seorang murid, di mana kita bersedia untuk pergi ke dunia dengan dilengkapi oleh kuasa-Nya tetapi juga dengan kesiapan untuk menderita.

Kita harus menerima konsekuensi berada di tengah dunia sebagai domba
Sekarang perhatikanlah bahwa tidak disebutkan bahwa Tuhan berjanji untuk melepaskan kita dari penderitaan dan kematian. Dia tidak menjanjikan hal itu. Namun hal yang memalukan adalah ketika seorang Kristen mengalami penderitaan, ia akan mengeluh dan menggerutu. Orang-orang ini sangat memalukan Gereja Kristus! Mereka menggerutu mengapa Allah berlaku seperti itu kepada mereka, mengapa keluarga mereka tidak sejahtera, mengapa neneknya sakit-sakitan dan sebagainya. Mereka adalah noda bagi Gereja! Perhatikanlah ajaran Tuhan. Tak sekalipun Dia menjanjikan untuk menyelamatkan domba-domba-Nya dari penderitaan dan kematian. Malah Dia berkata, "Kamu akan menderita. Aku mengutus kamu untuk menderita. Dan beberapa dari antara kamu akan mati." Malahan, Dia menyampaikan hal itu lebih dari sekali.
Di dalam Lukas 21:16 Dia berkata, "...dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh." Dia menyampaikan kepada mereka secara gamblang. Dia berkata, "Aku tidak akan menyembunyikan kebenaran darimu. Aku mengutus kamu untuk menderita. Jika kamu tidak mau menderita, jangan jadi murid-Ku." Inilah alasan mengapa Dia sering berkata di dalam pengajaran-Nya, Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, dia tidak dapat menjadi muridKu. "Aku beritahu yang sebenarnya kepadamu. Kalau kamu tidak mau memikul salibmu, kalau kamu tidak mau menderita; jikamu tidak bersedia mati, kamu tidak dapat menjadi muridKu." Dan ketika penderitaan itu datang, Dia tidak menjanjikan untuk mengeluarkan Anda dari penderitaan itu.

Jika saya berdiri di depan regu tembak, Tuhan tidak berkata, "Aku akan menyuruh malaikat berdiri menghadang peluru-peluru itu agar tidak mengenaimu." Sudah pasti, peluru-peluru itu akan menembus tubuh saya, dan saya siap untuk itu. Jika saya tidak siap untuk itu, maka saya, tidak akan menjadi orang Kristen, saya tidak mau menjadi orang Kristen gampangan. Saya tidak mau menjadi 50% Kristen, karena Allah tidak menerima orang Kristen semacam itu, jadi saya tidak mau membuang-buang waktu. Pilihannya adalah semua atau tidak sama sekali.
Demikianlah, Allah tidak berjanji untuk melepaskan saya dari kematian. Jadi jika saya menjadi orang Kristen dan saya menjadi domba, saya akan berangkat dengan kesadaran bahwa penderitaan akan menimpa saya dan saya bersedia menerimanya. Nah, ucapan Yesus ini ditujukan bukan hanya kepada yang 12 orang dan bukan juga hanya kepada yang 72 orang itu, tetapi kepada semua murid-Nya. Sabda yang sama Dia sampaikan kepada semua murid-Nya, "Pikullah salibmu dan melangkahlah bersamaKu." Jadi kita harus berangkat ke dunia ini sebagai domba.

Jangan takut menderita
Yesus berkata, "Jangan takut" sebanyak tiga kali di ayat 26, 28 dan 31. Dia tahu bahwa domba-domba akan ketakutan. Paulus berkata, "Apakah aku tidak lemah?" Tentu saja saya lemah. Apakah saya tidak takut pada gigi-gigi serigala? Apakah saya tidak takut nanti punggung saya dikoyak? Saya juga merasa kesakitan sama seperti orang lain. Apakah saya tidak ketakutan ketika berhadapan dengan moncong senjata? Akan tetapi Yesus berkata, "Jangan takut." Bukan saja Dia tidak berjanji melepaskan mereka dari kematian, Dia juga menyuruh kita untuk tidak takut. Di dalam ayat 28, "Dan Janganlah Kamu Takut Kepada Mereka Yang Dapat Membunuh Tubuh, Tetapi Yang Tidak Berkuasa Membunuh Jiwa." Jika Anda perlu merasa takut, maka takutlah kepada Allah karena Dia dapat membinasakan tubuh dan jiwa di dalam neraka. Janganlah takut pada kawanan serigala. Mereka bisa membinasakan tubuh Anda dan tak lebih dari itu saja. Tetapi takutlah kepada Allah! Dia tidak sekadar bisa membinasakan tubuh Anda, melainkan juga jiwa Anda. Itulah hal yang akan terjadi pada para serigala. Dan segenap isi Alkitab mengingatkan kita bahwa kita ini adalah domba-domba di tengah kawanan serigala. 

Di dalam Kisah 14:22, rasul Paulus mengingatkan para murid bahwa mereka harus melewati banyak kesukaran sebelum masuk ke dalam Kerajaan Allah. Hal ini bukan karena Allah ingin agar kita menderita atau karena Dia senang melihat kita menderita, melainkan karena karakter dunia itulah yang membuat kita pasti menderita. Jadi ingatlah bahwa bukan karena Allah ingin kita menderita atau Dia senang melihat kita menderita. Dia berkata, "Seperti inilah dunia. Dunia ini adalah dunia para serigala. Karena mereka adalah serigala dan kalian adalah domba, kalian telah diubah, kalian akan menderita." Tetapi perhatikanlah hal ini: Apa tujuan dari penderitaan kita? Inilah tugas mulia bagi kita! Tugas kita adalah menggenapkan pekerjaan besar Allah di dunia. Dan satu-satunya cara bagi kita untuk menyelesaikannya adalah dengan menjadi domba.

Bersediakah Anda menjadi domba yang menderita?
Terakhir kita akan melihat bagaimana Allah melakukan penaklukkan lewat domba-domba. Sama seperti ketika Allah menaklukkan Kekaisaran Roma lewat Gereja, Dia juga akan menjungkir-balikkan dunia ini melalui kita. Gereja akan menjungkirbalikkan dunia melalui penderitaan dan kematian. Persis seperti yang Yesus katakan di dalam Yohanes 12:24, jika benih tidak mati, maka ia akan tetap sendiri saja, tetapi jika benih itu mati, maka ia akan menghasilkan banyak buah. Demikianlah orang-orang Roma menyiksa dan membunuh orang Kristen. Dan semakin banyak yang mereka bunuh, semakin banyak yang menjadi Kristen. Mereka mendapati bahwa kuasa Allah sedang diwujudkan melalui domba-domba itu.

Dan ada satu hal lagi. Paulus berkata di dalam Filipi 3:10, "...dan persekutuan dalam penderitaan-Nya." Dan di dalam Filipi 1:29, dia berkata, "Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia." Demikianlah, di dalam penderitaan kita beroleh persekutuan dengan Yesus. Kemudian kita mengalami kuasa-Nya, yaitu kuasa Anak Domba. Ada begitu banyak orang Kristen tanpa kuasa sekarang ini karena mereka masih belum menjadi domba. Dan karena mereka masih belum menjadi domba, maka mereka belum memperoleh persekutuan dengan Anak Domba. Anak Domba hanya bersekutu dengan para domba, bukannya dengan serigala. Akibatnya para serigala tidak mengalami kuasa Allah. 

Di Filipi 3:10, Paulus berkata, "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,." Bersediakah Anda menjadi korban persembahan? Bersediakah Anda menjadi domba-Nya? Bersediakah Anda memikul salib Anda? Dengan kata lain, bersediakah Anda menjadi orang Kristen, yaitu seorang murid sejati? Jika bersedia, maka Anda akan mengalami kuasa ajaib dari Allah dan menjadi alat-Nya, yaitu domba-Nya, untuk menaklukkan serigala. Itu adalah suatu keajaiban yang besar!




RENUNGAN: SEBUAH JERAT IBLIS


Praktek Okultisme: Sebuah Jerat Iblis
Saatnya Orang Kristen Doa Untuk Hancurkan Kekuatan GAIB

Bacaan: Efesus 6:10-12
Pendahuluan:
Banyak orang Kristen yang telah terima Yesus tetapi mereka tidak mengalami
pertumbuhan dalam hidupnya hal itu antara lain bisa disebabkan oleh karena
hidupnya terikat oleh kuasa kegelapan.
Sasaran pemberitaan Injil adalah Keselamatan yaitu dengan cara bertobat dan
menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Sedangkan kalau kita berbicara tentang Kuasa Gelap/Okultisme maka sasaran
utamanya adalah kelepasan di dalam Tuhan Yesus Kristus agar mereka mengalami
pertumbuhan rohani.

Pembahasan:
Apakah yang dimaksud dengan Okultisme?
Okultisme berasal dari bahasa latin yaitu Occultus artinya: Gelap, Gaib,
Tersembunyi atau Misterius.
Jadi, okultisme adalah ajaran atau paham tentang hal-hal yang gelap dalam
segala bentuk dan prakteknya.
Inilah yang sedang dikerjakan Iblis diakhir zaman untuk menyesatkan dan
melibatkan banyak orang mengenai hal yang gaib, gelap, misterius dan
tersembunyi. Ia seperti sebuah jerat atau perangkap yang mematikan bagi
setiap korbannya.
Apakah bentuk dan praktek Okultisme yang mengikat banyak orang?

Pertama, Tahayul [1 Timotius 4:7]
Tahayul yaitu rasa percaya yang menimbulkan ketakutan kepada sesuatu yang
berasal dari kata orang. Sekalipun kita tidak mengerti darimana asal usulnya
namun hal itu cukup membuat kita takut dan kuatir untuk melanggarnya.
Contoh:
Banyak orang yang percaya bahwa angka 13 [tiga belas] adalah angka 'Sial.'
Kebanyakan dari mereka pun tidak tahu asal usul dan sumbernya mengapa angka
13 adalah angka sial? Inilah yang disebut Tahayul.
Namun demikian, banyak tahayul yang ternyata benar - inilah yang
membingungkan banyak orang.
Ada kesaksian yang membenarkan hal itu, mereka berusaha untuk tidak percaya
kepada angka 13 dan nyatanya setelah mereka tinggal di rumah itu memang
membawa sial baginya.

Tahayul bilamana dipercayai maka itu akan menjadi kenyataan, mengapa?
Karena segala sesuatu yang dapat menimbulkan kepercayaan bahkan selanjutnya
sampai menimbulkan ketakutan, maka apa yang ditakutkan itulah yang terjadi
atau menjadi kenyataan. [Ayub 3:25]
Jadi, sebenarnya bukan angka 13 yang membuat banyak orang menjadi sial namun
oleh karena kepercayaan yang menimbulkan ketakutan maka mereka mulai
memperkatakan apa yang ditakutinya dan perkataan tersebut merupakan
perkataan kutuk atas diri mereka sendiri bahwa mereka sedang menempati rumah
nomor 13 yaitu nomor sial, maka kemalangan selanjutnya menimpa hidup mereka.

Kedua, Spiritisme
Spiritisme adalah praktek okultisme yang didasarkan kepada keyakinan bahwa
orang mati dapat berhubungan dengan orang hidup. Banyak orang terlibat dalam
praktek okultisme jenis spiritisme.
Praktek-praktek spiritisme antara lain berupa permainan Jailangkung;
bertanya kepada arwah orang mati;
Dalam Ulangan 18:10-13, - dijelaskan mengenai perintah untuk meninggalkan
praktek-praktek okultisme antara lain spiritisme karena merupakan kekejian
bagi Allah dan akan mendapat hukuman berat dari Allah.
Mengapa Allah melarang kita berhubungan dengan arwah orang yang sudah mati?
Dalam Ayub 7:9-10,- Alkitab menjelaskan alasannya bahwa orang mati tidak
bias muncul kembali ke rumahnya dan tidak dikenal lagi oleh tempat
tinggalnya. 

Jadi, siapakah yang muncul dan berhubungan dengan orang yang hidup itu?
Mereka adalah roh-roh jahat yang menyamar dan menipu sebagai orang yang
mati.
Orang mati memiliki dunianya sendiri - bilamana mereka adalah orang yang
mati di dalam Kristus maka mereka akan berada di Firdaus sebagaimana
perkataan Tuhan Yesus kepada penjahat yang di salib itu.
Tetapi mereka yang mati di luar Kristus maka mereka akan berada di Hades
atau Neraka. Mereka semua tidak dapat keluar masuk dari tempat tersebut.
Ketiga, Praktek Ilmu Ramal [Yesaya 47:13-15]
Ilmu Ramal adalah praktek okultisme yang berusaha untuk mengetahui nasib
manusia di masa depan.
Contoh:

Astrologi atau Horoscope yaitu penafsiran nasib dan hari depan manusia yang
didasarkan kepada petunjuk dan letak bintang di langit.
Ramalan dapat berupa Kartu; Garis Tangan; Bentuk Wajah; Siamsi.
Keempat, Praktek Ilmu Sihir [Magic]
Ilmu Sihir atau Magic disebut juga Guna-Guna [santet]; ilmu gaib; hipnotis;
jampi-jampi.
Ilmu Sihir adalah ilmu yang bersangkut paut dengan perbuatan ajaib dan
misterius yang dilakukan oleh dukun atau orang yang mempunyai kesaktian.
Jenis Ilmu Sihir dapat dibagi dalam kegunaannya:
Black Magic adalah sihir yang digunakan untuk merugikan atau mencelakakan
orang lain.
White Magic adalah sihir yang digunakan untuk melindungi diri; keselamatan;
kekayaan; pangkat atau jabatan.
Apakah reaksi Allah terhadap orang yang terlibat dalam praktek sihir?
Dalam Wahyu 21:8, dijelaskan bahwa setiap orang yang melakukan praktek ilmu
sihir baik itu black magic maupun white magic, mereka akan mendapat bagian
di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang.
Apakah ciri umum dari sebuah ikatan?
Matius 6 : 13 "Lepaskanlah kami dari yang jahat" (Toponero), dapat berarti
si jahat (setan) dan yang jahat.
Dalam bahasa Inggris "deliver us from the evil one" = si jahat. Dengan kata
lain kita dapat terikat oleh si jahat [kuasa gelap] dan yang jahat [rokok,
judi, putaw/heroin, sex bebas].
Beberapa orang Kristen masih dapat terikat oleh beberapa hal, bilamana ia
melakukan suatu dosa yang sama secara berulang-ulang, sampai ia sendiri
merasa frustrasi atas dosanya itu dan berkata,"ya sudahlah saya memang masih
hidup dalam daging."
Orang Kristen yang terikat, biasanya mereka sudah mengetahui bahwa perbuatan
tersebut tidak boleh dilakukan tetapi mereka tidak berdaya untuk tidak
berbuat.

Mengapa Pelepasan menjadi suatu hal yang penting bagi orang Kristen?
Dalam Matius 6:12-13, kita mendapatkan pengertian bahwa terdapat 2 [dua] hal
yang harus diselesaikan yaitu: masalah dosa dan ikatan.
Seringkali kedua di atas merupakan sumber datangnya 'kesulitan hidup';
merupakan penghalang berkat; menjauhkan kita dari kemurahan dan belas
kasihan Tuhan.
Penyelesaian atas masalah dosa adalah mengakui setiap dosa dan bertobat
kepada Tuhan Yesus Kristus agar Ia mengampuni dan menyucikan kita dari
setiap dosa
[1 Yohanes 1:9] 

Penyelesaian atas masalah ikatan adalah selain mengakui setiap dosa atas
praktek-praktek okultisme yang pernah dilakukan dan memutuskan setiap
hubungannya dengan Iblis, dan kita juga harus mencabut hak Iblis atas hidup
kita dan mengusirnya dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Penutup:

Alkitab berkata, "Pencuri [Iblis] datang hanya untuk mencuri dan membunuh
dan membinasakan; Aku [Yesus Kristus] datang, supaya mereka mempunyai hidup,
dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." [Yohanes 10:10]
Iblis tidak akan pernah memberikan sesuatu yang baik dan berharga bagi
setiap orang karena ia adalah bapa pendusta di dalamnya penuh dengan tipu
muslihat - Iblis datang hanya untuk mencuri, membunuh , dan membinasakan
manusia.
Allah telah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah
mati untuk kita, ketika kita masih berdosa [Roma 5:8] - Allah itu penuh
kasih. Ia datang untuk memberikan hidup-Nya supaya kita mempunyainya dalam
segala kelimpahan.

Apa itu Kebenaran?


Hari ini kita akan membahas ajaran Yesus di Matius 4:17, "Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" Di Matius 3:15, ayat yang diuraikan di dalam khotbah tentang "Penundukan", Yesus berkata, "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanespun menuruti-Nya
Yesus berkata, "Biarlah hal itu terjadi". Ketika Yohanes mencoba untuk mencegah Yesus menerima baptisan, Yesus berkata, "Terimalah Aku untuk dibaptis." Yesus menundukkan diri-Nya pada baptisan Yohanes. Yang lebih tinggi menundukkan diri pada yang lebih rendah. Dengan demikian Yesus menunjukkan inti dari kebenaran, yaitu sikap penundukan demi Allah untuk menggenapkan seluruh kebenaran.
Di pesan yang membahas Matius 4.17, kita akan memusatkan perhatian pada kata 'righteousness (kebenaran)' ini. Yesus berkepentingan untuk menggenapkan seluruh kebenaran, bukan hanya sebagian atau sebagian besar kebenaran, tetapi seluruh kebenaran. Apa artinya? Apakah arti kebenaran di dalam Alkitab? Apa arti menggenapkan seluruh kebenaran? Pada dasarnya, kata itu berarti menggenapkan seluruh perintah atau kehendak Allah bagi kita. Namun kebenaran tidak boleh sekadar dipahami sebagai pelaksanaan perintah eksternal saja.

Kebenaran adalah kata yang sangat praktis di dalam Alkitab, bukan satu istilah teologis yang kabur. Kehidupan terdiri dari berbagai macam hubungan. Dan kebenaran berkaitan dengan kehidupan dan hubungan-hubungan kita. Kebenaran di dalam Alkitab berkaitan dengan hubungan yang benar dengan Allah dan sesama manusia. Ini adalah hal yang sangat penting untuk dipahami.

Yesus berkata bahwa segenap perintah Allah dapat dirangkum di dalam satu kalimat, yaitu "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kalimat itu merangkum segenap kebenaran. Dari sini kita melihat bahwa kebenaran itu adalah hubungan yang benar. Alkitab mendefinisikan hubungan yang benar itu sebagai ungkapan kasih - mengasihi Allah dengan segenap keberadaan, hati, jiwa dan kekuatan Anda, yang tidak dapat dipisahkan dari mengasihi atau memperlakukan sesama manusia seperti diri Anda sendiri.
Demikianlah, Yesus berkata kepada Yohanes Pembaptis, "Terimalah Aku untuk dibaptis, karena Aku menundukkan diri pada baptisanmu, demi menggenapkan seluruh kebenaran." Mengapa? Karena memang inilah perintah dan kehendak Allah.
Setiap perintah Allah dirancang untuk berdampak pada hubungan kita dengan-Nya dan dengan sesama manusia. Sebagai contoh 10 Perintah itu. Setiap dari 10 perintah itu berkaitan dengan hubungan kita, entah dengan Allah atau dengan sesama manusia. Setiap pengabaian pada perintah Firman Allah akan mempengaruhi hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama manusia.

Kebenaran juga berada di jantung ajaran Yesus di Matius 4.17 ini. Yesus disebut sebagai pemberita kebenaran. Nuh digambarkan oleh Petrus di 2 Petrus 2:5 sebagai seorang pemberita kebenaran. Setiap pemberita di dalam Alkitab adalah pemberita kebenaran. Sayangnya, kebenaran tidak lagi merupakan tema di lingkungan gereja. Di zaman ini, keselamatan sudah dipisahkan dari kebenaran. Keselamatan tanpa kebenaran menjadi semacam dongeng resmi.

Sekarang ini kebenaran menjadi suatu hal yang diterima sebagai suatu fakta; Anda dinyatakan benar tanpa perlu adanya kebenaran nyata di dalam kehidupan Anda. Dengan kata lain, Anda dinyatakan benar sekalipun Anda tidak memiliki kebenaran dan Anda tidak menjadi benar. Sejujurnya, dongeng resmi semacam ini tidak ada isinya di dalam pengajaran yang alkitabiah. 
Apakah Keselamatan hanya sekadar pengampunan dosa?
Kita akan melihat Doktrin Keselamatan sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus. Hasrat dan niat saya adalah bahwa tak seorang pun yang mendengarkan pesan ini gagal memahami dengan jelas apa ajaran yang alkitabiah mengenai keselamatan.

Jika ditanya apakah keselamatan itu. Apa yang akan menjadi jawaban Anda? Jawaban yang umum diberikan adalah, "Keselamatan berkaitan dengan pertobatan. Allah mengampuni dosa Anda, dan karena dosa Anda telah diampuni, maka Anda selamat." Itulah kira-kiranya rangkuman dari isi keselamatan yang umumnya diuraikan. Di dalam Alkitab, makna keselamatan jauh lebih mendalam daripada sekadar pernyataan pengampunan. Pengampunan dosa hanya merupakan sebagian saja dari makna sesungguhnya.
Jika yang disampaikan hanya pengampunan dosa, maka ini berarti kita belum mengajarkan keseluruhan tentang keselamatan. Tak heran jika orang yang mendengar itu akan terus menerus melakukan dosa dan kembali lagi untuk meminta pengampunan lalu berbuat dosa lagi dan minta ampun lagi. Dan akhirnya di dalam keputus-asaannya, karena tak pernah memenangkan pertempuran melawan dosa, dia memutuskan untuk berhenti menjadi Kristen sama sekali. Sudah banyak sekali orang semacam ini, orang yang hidup dalam kekalahan mutlak, yang tidak dapat mengatasi dosa, yang selalu saja kembali untuk meminta pengampunan setiap minggu. Hidup di dalam lingkaran setan ini membuat mereka sangat frustrasi karena merasa bahwa peperangan demi kebenaran ini tak dapat dimenangkan. Itukah ajaran yang alkitabiah tentang keselamatan?
"Bertobatlah"

Setelah Yohanes Pembaptis ditangkap dan dibunuh oleh Herodes, Yesus memulai pelayanan-Nya, seolah-olah mengambil alih pemberitaan Yohanes. Yesus memberitakan hal yang tepat sama dengan Yohanes Pembaptis. Di Matius 3:2, Yohanes Pembaptis berkata: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" Dan Yesus di Matius 4:17 memberitakan, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" Pemberitaan yang persis sama dengan Yohanes Pembaptis! Bedanya adalah Yesus menyampaikan pesan yang lebih mendalam, dibandingkan dengan apa yang mampu dipahami oleh Yohanes Pembaptis saat itu.
Ucapan Yesus yang pertama adalah, "Bertobatlah." Pertobatan hanya bermakna bagi orang yang mengutamakan kebenaran. Karena pertobatan adalah hal berpaling dari dosa dan merangkul kebenaran. Pertobatan berkaitan dengan pembalikan dari hidup lama dalam dosa menuju hidup baru dalam kebenaran. Buat apa orang bertobat jika dia tak peduli pada kebenaran? Dia puas dengan hidupnya dalam dosa. Jika Anda berkata pada orang di jalan, "Bertobatlah." Dia akan menjawab, "Buat apa? Aku tidak keberatan hidupku dikuasai dosa. Hidupku cukup memuaskan." Karena dia tidak peduli dengan kebenaran, maka kata 'bertobat' tidak memiliki makna baginya. Dengan kata lain, pertobatan bukanlah bahasa bagi setiap orang yang tidak tertarik dengan kebenaran. Anda menyia-yiakan waktu meminta orang yang tidak peduli pada kebenaran untuk bertobat.

Nah, mengapa kita harus bertobat? Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus melanjutkan dengan berkata bahwa karena Kerajaan Allah atau Kerajaan Surga sudah dekat. Keduanya merupakan hal yang sama di dalam Perjanjian Baru. (Orang-orang Yahudi menggunakan kata 'Surga' (Heaven) karena mereka tidak mau menyebut nama 'Allah' secara sembarangan. Mereka tidak berani secara langsung menyebutkan nama yang ilahi itu, jadi mereka memakai cara circumlocution, yaitu memakai istilah yang mendekati maknanya dengan menggunakan kata 'Heaven'). Jadi kita menyadari bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan kita bertobat.
Nah, apakah itu Kerajaan Surga? Kita akan melihat ke dalam Roma 14:17 untuk mendapatkan penjelasan dari Paulus tentang Kerajaan Surga. Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran (kita kembali pada kata 'kebenaran'), damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Perhatikan hal ini: kebenaran, damai sejahtera dan sukacita. Ketiganya tak terpisahkan. Tanpa damai sejahtera, Anda tidak mendapatkan sukacita. Tanpa kebenaran, Anda tidak mendapatkan damai sejahtera. Jadi tanpa kebenaran, Anda tidak mendapatkan damai sejahtera dan sukacita. Kebenaran adalah hal yang mendasar.

Banyak orang Kristen yang mengaku telah menjadi Kristen tapi tidak mengalami damai sejahtera dan sukacita. Ini adalah karena kebenaran belum masuk di dalam hidup mereka. Tanpa kebenaran tak akan ada damai sejahtera dan sukacita. Anda tidak akan sampai pada damai sejahtera dan sukacita tanpa melalui kebenaran. Saya harap Anda bisa memahami hal ini dengan jelas.
Jika Anda menjadi Kristen karena di dalam sebuah KKR Anda telah mengacungkan tangan ketika si penginjil meminta Anda melakukannnya. Dan Anda mengira bahwa Anda akan memiliki damai sejahtera dan sukacita, maka Anda akan kecewa karena jika kebenaran belum menjadi realitas di dalam hidup Anda, maka damai sejahtera dan sukacita menjadi hal yang tak akan pernah tercapai di dalam hidup Anda. Kedua hal itu tidak akan menjadi bagian hidup Anda. Damai sejahtera dan sukacita yang rohani tak akan bisa dimiliki tanpa adanya kebenaran.

Terlalu banyak ibadah, terlalu sedikit kebenaran
Jadi apa itu Kerajaan Allah? Kerajaan Allah adalah kebenaran. Ini yang harus terjadi dulu dan yang paling utama, dan selanjutnya damai sejahtera dan sukacita di dalam Roh Kudus. Yaitu, Roh Kudus adalah Pribadi yang menjadikan kebenaran ini. Sangatlah penting untuk memahami hal ini. Roh Kudus adalah Pribadi yang membuat kebenaran, damai sejahtera dan sukacita ini menjadi nyata di dalam hidup Anda. Jadi Roh Kudus dari Allah adalah kunci untuk memahami Kerajaan Allah. Dengan kata lain, Kerajaan Allah baru menjadi realitas di dalam hidup Anda ketika Roh Kudus dari Allah masuk ke dalam hidup Anda dan meneguhkan kebenaran di situ dan selanjutnya, masuklah damai sejahtera dan sukacita.

Seluruh Alkitab adalah tentang kebenaran. Apakah yang Allah cari dari antara orang Israel di dalam Perjanjian Lama? Semua nabi di dalam Perjanjian Lama memberitakan kebenaran. Sekarang kita paham mengapa Yohanes Pembaptis memberitakan kebenaran. Anda yang telah membaca tentang nabi-nabi dari Perjanjian Lama akan melihat penekanan pada pokok kebenaran dimana-mana. Anda tak akan bisa meluputkannya. Jika Anda lihat Yesaya pasal 1, Anda akan melihat penekanan pada pokok kebenaran. Yesaya berseru kepada umat yang religius ini, yaitu orang-orang Yahudi, dengan berkata, "Masalah kalian adalah bahwa kalian terlalu banyak ibadah tetapi terlalu sedikit memiliki kebenaran." 

Saya pikir kita bisa mengatakan hal yang sama pada gereja masa kini-terlalu banyak ibadah tetapi terlalu sedikit memiliki kebenaran, terlalu banyak lagu pujian, terlalu banyak acara gereja, terlalu banyak PA, terlalu banyak bicara, dan terlalu sedikit tindakan. Tak heran jika orang non-Kristen berkata, "Lihat dirimu sendiri, orang Kristen! Kapan kamu lebih baik daripadaku?" Dan apakah jawab orang Kristen? "Yah, ini tak ada kaitannya dengan siapa yang lebih baik. Ini cuma masalah mempercayai pokok ini dan itu sebagai suatu hal yang benar." Tidak kena sama sekali; Alkitab tidak berbicara seperti itu! Jangan coba-coba lari dari tudingan orang-orang non-Kristen ketika mereka berkata, "Kamu berperilaku munafik, jadi, aku tidak mau menjadi orang Kristen." Jangan berkata, "Yah, keselamatan tidak berkaitan dengan hidupku, ini adalah masalah kepercayaan." Itulah kemunafikan! Omong kosong! Kerajaan Allah adalah kebenaran. Dan jika Anda tidak memiliki kebenaran di dalam hidup Anda, maka Anda tidak tahu apa-apa tentang Kerajaan Allah, tak peduli seberapa besar kepercayaan Anda.

Orang Yahudi tidak pernah kekurangan ibadah. Mereka juga tidak kekurangan iman di dalam pengertian ibadah. Apakah orang Yahudi percaya kepada Allah? Tentu saja mereka percaya kepada Allah. Apakah mereka percaya bahwa Allah itu Esa? Tentu saja mereka percaya bahwa Allah itu Esa. Apakah mereka percaya bahwa Alkitab itu Firman Allah? Tentu saja orang Yahudi percaya bahwa Alkitab itu adalah Firman Allah. Lalu apa yang tidak mereka percayai?

Tidak ada orang-orang yang lebih religius dari pada orang Yahudi, akan tetapi Yesaya tetap saja menghardik orang Yahudi. Bacalah Yesaya pasal 1. Di sana disebutkan, "Kamu beribadah ke Bait Allah setiap hari, mempersembahkan korban, kambing dan dombamu. Doamu panjang sekali." Orang-orang Yahudi mengucapkan doa Shema, pengakuan iman yang mendasar bagi orang Yahudi sebanyak 3 kali sehari. Mereka tak pernah lalai berdoa. Setiap hari mereka berkerumun memenuhi Bait Allah. Setiap hari menghaturkan korban dan persembahan. Tetapi Yesaya berkata kepada orang-orang Yahudi, "Bawa pergi persembahan-persembahanmu itu dari sini. Bawa pergi semua. Siapa yang menghendaki darah hewan korban? Yang Kukehendaki adalah kebenaran. Aku tak ingin ibadahmu. Yang ingin Kulihat adalah kebenaran di dalam hidupmu-saat keadilan ditegakkan bagi orang miskin, saat para janda dan anak yatim dipelihara dan bukannya ditindas, saat orang miskin tidak perlu menutupi mukanya dengan debu. Kerjakan ibadahmu di luar sana dan beri Aku kebenaran. Bawa pergi korban persembahanmu." Begitulah pemberitaan dari nabi-nabi Perjanjian Lama.

Inilah yang tertulis di dalam Alkitab. Pesan yang disampaikan memang tidak nyaman. Dan jika Anda membaca kitab Amos, maka Anda akan menjumpai hal yang sama: Allah berkata, "Kapan kamu mau bertobat, hai Israel? Kapan kamu mau berpaling? Aku tidak menginginkan persembahanmu. Aku jemu dengan persembahanmu. Beri Aku kebenaran" (Amos 4:5). Dan di dalam Amos 5:24 Allah berkata, "Biarlah kebenaran mengalir seperti sungai yang selalu mengalir. Itulah yang ingin Kulihat."
Tapi sekarang ini, kebenaran telah diencerkan. Keselamatan telah dibuat menjadi gampangan sama seperti yang dilakukan oleh orang Yahudi yang mengira bahwa keselamatan adalah perkara mudah. Kebenaran tak pernah menjadi barang gampangan. Kita tidak bisa menaruh kebenaran di luar Gereja jika kita ingin setia kepada Allah.

Yesus berkata di dalam Matius 5:20, "Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga." Orang-orang Farisi adalah kaum yang paling religius yang pernah ada di dunia ini. Di dalam sejarah agama Anda tidak akan menemukan kaum yang lebih religius dari kaum Farisi. Mereka sangat taat pada perincian aturan dan pada tata ibadah. Mereka berpuasa 2 kali seminggu dan berdoa 3 kali sehari. Anda tidak akan bisa menyaingi mereka dalam hal kegiatan ibadah. Tetapi Yesus berkata, "Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga." Waah! Benar-benar dahsyat! Tak heran jika banyak gereja juga sering berpikir: Siapa yang akan diselamatkan dengan syarat semacam ini? Karena itu, mari kita encerkan pesannya. Mari kita buat lebih mudah. Akan tetapi Yesus memperingatkan, "Barangsiapa mengurangi tuntutan kebenaran Allah sedikit saja, orang itu akan menghadapi kesulitan untuk masuk ke dalam Kerajaan." (Matius 5:18-19).

Nah, pertimbangkanlah, kebenaran kita harus melebihi kebenaran orang-orang Farisi. Anda tentu ingat bahwa Paulus sendiri tidak malu menyebut dirinya sebagai orang Farisi. "Aku orang Farisi," bukan "Aku pernah jadi orang Farisi," demikian kata Paulus. Tentunya Anda ingat ayat di dalam Kis 23:6, di mana pada waktu diadili Paulus membuat pernyataan, "Aku orang Farisi." Tahukah Anda mengapa sebagai seorang Kristen, dia tidak takut menyebut dirinya sebagai orang Farisi? Karena orang-orang Farisi memegang doktrin yang hampir seluruhnya sama dengan yang diyakini oleh orang Kristen. Sungguh mengejutkan. Jika ada di antara Anda yang mau membaca satu karya luar biasa yang disusun oleh Strack dan Billerbeck, dua orang cendekiawan Jerman, yang menyusun tafsiran Perjanjian Baru dengan merujuk kepada Talmud, Anda akan terkejut melihat bahwa dari pokok ke pokok yang lainnya, orang-orang Farisi ternyata mengajarkan hal yang sama dengan ajaran Kristen. Jadi janganlah menipu diri sendiri dengan mengira bahwa penjelasan iman yang ortodoks itu menjamin keselamatan Anda.

Yakobus mencoba memperingatkan kita akan hal ini di dalam Yak 2:19, dia berkata, "Jangan katakan pada dirimu, 'Aku percaya hanya ada satu Allah.' Setan percaya akan hal itu juga. Jangan katakan pada dirimu, 'Aku percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah.' Setan percaya akan hal itu juga, dan dia justru lebih menyakini hal itu." Dan di dalam Injil, orang-orang yang dirasuk setan itulah yang berkata, "Engkau Yesus, Anak Allah." Mereka tahu akan hal itu. Mereka percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Mereka percaya pada-Nya. Dan Yesus sampai perlu membungkam mereka dengan berkata, "Diamlah!" Dia tidak mengijinkan mereka berbicara. Dia tidak butuh kesaksian dari setan-setan. Akan tetapi para setan itu percaya bahwa Dia adalah Anak Allah. Setan yang bernama Legion berkata kepada Yesus, "Apakah Engkau datang untuk menyiksa kami sebelum waktunya, hai Anak Allah?" Mereka tahu bahwa Dia adalah Anak Allah. Dia adalah Hakim bagi surga dan bumi. Setan-setan percaya itu. Jangan merasa cukup sekadar mempercayai bahwa Yesus adalah Anak Allah. Jika iman Anda belum diubah menjadi kebenaran di dalam hidup, iman itu hanya menjadi semacam pengetahuan saja, dan iman itu tidak akan menyelamatkan Anda. Itulah hal yang disampaikan oleh Yakobus di dalam pasalnya yang kedua.
Sumber: http//:www. Cahayapengharapan.Org