IBU


Patrik Dan Nene-nya Saat Pulang Dari Kebun (Foto: Migani)

Oleh Kahlil Gibran

Ibu adalah segalanya, dialah penghibur di dalam kesedihan.
Pemberi harapan di dalam penderitaan, dan pemberi kekuatan di dalam kelemahan.

Dialah sumber cinta, belas kasihan, simpati dan pengampunan.
Manusia yang kehilangan ibunya bererti kehilangan jiwa sejati yang memberi berkat dan menjaganya tanpa henti.

Segala sesuatu di alam ini melukiskan tentang susuk ibu.
Matahari adalah ibu dari planet bumi yang memberikan makanannya dengan pancaran panasnya.

Matahari tak pernah meninggalkan alam semesta pada malam hari sampai matahari meminta bumi untuk tidur sejenak di dalam nyanyian lautan dan siulan burung-burung dan anak-anak sungai.

Dan Bumi ini adalah ibu dari pepohonan dan bunga-bunga menjadi ibu yang baik bagi buah-buahan dan biji-bijian.

Ibu sebagai pembentuk dasar dari seluruh kewujudan dan adalah roh kekal, penuh dengan keindahan dan cinta.



Akhir Desember Wabah Serambah Menyerang Masyarakat Intan Jaya


Uskup-Timika,Jhon Philip Saklil pr dan kepala dinas p dan p, Thadeus-Belau (Foto: Mepa)

Masyarakat intan jaya alami kesulitan untuk memperoleh kesehatan yang layak. Berbagai penyakit menyerang masyarakat intan jaya,seperti sakit gigi,luka-luka dan menceret. Bahkan lebih parah lagi penyakit serambah yang dapat menelan belasan jiwa manusia di intan jaya, ungkap Thadeus Belau, Kepala Dinas Pindidikan dan Pengajaran Kabupaten Intan Jaya, Minggu 13 Januari 2013 pukul 11. 35 wit.

 Wabah Serambah menyerang masyarakat distrik Sugapa kampung Jogatapa, Bilogai dan Puyagia belum termasuk kampung-kampung lain di Distrik Sugapa dan lima Distrik Lainnya, namun sampai saat ini belum ada upaya-upaya dari dinas kesehatan kabupaten intan jaya, jelas Belau ketika bertemunya di Saisiga.  

usul Belau; “sebaiknya hari-hari libur umat kristiani dilayani oleh tenaga medis yang beragama muslim, demikian juga hari-hari muslim dilayani oleh tenaga medis yang beragama kristen agar pelayanan kesehatan dirasakan benar-benar oleh masyarakat intan jaya”.

Wabah serambah yang menelan 17 korban jiwa di tiga kampung tersebut dimulai dari tanggal 27 Desember 2012 hingga 15 Januari 2013 belum di hitung korban jiwa di pertengahan Januari hingga februhari 2013. Hal ini dikarenakan petugas kesehatan di kabupaten intan jaya sering berlibur berbulan-bulan dikota, entah itu di Timika, Nabire dan Jayapura dan hal ini bukan hal baru, namun ditahun-tahun sebelumnya juga petugas sering berlibur ke kota berbulan-bulan, kata Belau.

lebih lanjut belau menjelaskan; Hari senin tanggal 07 Januari 2013 hanya ada tiga petugas kesehatan yang melayani masyarakat di Puskesmas Jogatapa itupun tenaga honorer.

sedangkan staf dinas kesehatan sudah tidak melayani selama beberapa bulan hingga memasuki tahun baru 3013. Jika mental pelayanan seperti ini di biarkan begitu saja,maka korban jiwa masyarakat intan jaya akan bertambah di tahun-tahun, padahal Uang  Otonomi Khusus (OTSUS) di Papua mengutamakan bidang Pendidikan dan Kesehatan, Tegas Thadeus.

Sementara ditempat yang terpisah Kepala Dinas Kesehatan kabupaten intan jaya, Jacop Sani SKM ,M.si mengatakan bahwa “ itu bukan wabah, kalau wabah pasti ada laporan dari petugas di lapangan dan wabah itu biasanya ada akibat”, kata Sani.

“ Kalau ada wabah pasti kami akan turun kelapangan dan melihat langsung kuburan-kuburan akibat wabah, jadi kematian akhir bulan Desember hingga awal Januari 2013 itu merupakan sakit biasa. Dan kematian itu merupakan kelalaian kepala puskesmas Jogatapa yang kurang kontrol terhadap bawaannya, jadi kepala puskesmas ke luar daerah, maka bawaan juga ikut keluar daerah tanpa tujuan yang jelas”, Tegas Sani.
 
Menurut Yacop ” Hal inilah yang membuat banyak penderita dan kematian pada masyarakat, selain itu dinas kesehatan juga kurang tenaga untuk melayani. Karena yang melayani hanya tenaga honorer, sedangkan staf sudah ada gaji, tapi staf terbang-terbang dan hilang-hilang berbulan-bulan di kota. Padahal kepala dinas kesehatan sudah memberi tahu bawaannya bahwa; hari minggu juga harus layani masyarakat yang sakit, karena kita percuma saja ke gereja apabila kita tidak melayani dengan benar”.

Harap Sani; “ dinas kesehatan bisa datangkan tenaga ahli dari luar tapi itu juga butuh dana yang cukup, untuk itu saat ini pemerintah daerah kabupaten intan jaya musti mendanai putra-putri intan jaya yang siap  masuk di tenaga perawat dan bidan untuk tahun-tahun mendatang”. 

“harus ada dua kelas, satu kelas untuk bidan dan satu kelas untuk perawat, karena gedung-gedung sudah banyak kami bagun, namun sumber daya manusia kami belum bangun, untuk itu Studi kelayakan Dinas kesehatan sudah kami seminarkan dan master plan sudah kami masukan usulan ke Bupati, jadi selama tiga tahun kita bagun sumber daya manusia dan tiga tahun kami bagun gedung rumah sakit”, tegasnya.

Tenaga Bidang dan Perawat amat sangat kurang di intan jaya, maka kami dari dinas kesehatan mengharapkan pemerintah kabupaten intan jaya, dalam hal ini Bupati kabupaten intan jaya, untuk menyiapkan sumber daya manusia dalam bidang kesehatan selama tiga tahun ini, harapnya. ** Maisini **

Pasangan Natalis Tabuni-Yann Robert Menang Pilkada Intan Jaya



Fachri Fachrudin
Kompas.com - 29/08/2017, 19:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pasangan calon nomor pemilihan 3, Natalis Tabuni dan Yann Robert Kobogoyauw, dinyatakan memenangkan Pemilihan Kepala Daerah Intan Jaya, Papua.

Kemenangan tersebut diperoleh Natalis dan Yann setelah dilakukan pemungutan suara ulang (PSU) di tujuh tempat pemungutan suara dan penghitungan ulang formulir C1-KWK.

Ketetapan ini disampaikan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat, dalam sidang putusan perselisihan hasil pemilihan Bupati Intan Jaya yang digelar di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Selasa (29/8/2017).
"Natalis Tabuni dan Yan Kobogoyauw, sebanyak 36,883 suara," kata Arief di persidangan.

Ketetapan ini juga menganulir hasil yang sebelumnya ditetapkan oleh KPU setempat. KPU sebelumnya menetapkan bahwa pasangan calon nomor pemilihan 2, yakni Yulius Yapugau dan Yunus Kalabetme, sebagai pemenang. Pasangan itu memperoleh 33.958 suara.

(Baca: Kapolres Paniai Bantah Tidak Netral dalam Pilkada Intan Jaya)
Namun, hasil tersebut digugat oleh Natalis dan Yann yang mendapatkan 31.476 suara.

Adapun hasil akhir perolehan suara bagi Yulius dan Yunus di bawah perolehan Natalis dan Yann setelah penghitungan suara ulang.
"Yulius Yapugau dan Yunus Kalabetme, sebanyak 34.395 suara," kata Arief.

Dalam pertimbangannya, MK menerima permohonan yang diajukan dan memerintahkan dilakukan PSU di tujuh TPS serta penghitungan ulang formulir C1-KWK lantaran meragukan hasil akhir yang ditetapkan KPU.

Hakim Konstitusi Suhartoyo mengatakan, penetapan hasil perolehan suara yang dilakukan oleh Termohon (KPU) melalui beberapa surat keputusannya menunjukkan tidak adanya konsistensi yang berujung pada diragukan validitas perolehan hasil penghitungan suara pada pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Intan Jaya Tahun 2017.

Terlebih, pada persidangan tanggal 2 Agustus 2017 Termohon memohon secara khusus agar MK melakukan penghitungan kembali perolehan hasil penghitungan suara yang didasarkan pada formulir C1-KWK.

"Sehingga dengan uraian fakta hukum tersebut, Termohon sendiri sesungguhnya tidak meyakini hasil penetapan penghitungan perolehan suara yang telah ditetapkannya," kata Suhartoyo.

Untuk diketahui, Natalis Tabuni merupakan petahana. Putusan hasil akhir perselisihan hasil pemilihan Bupati Intan Jaya teregistrasi dengan nomor perkara 54/PHP.BUP-XV/2017.

HAI TANAHKU PAPUA



Hai ta-nah ku pa-pu-a, kau ta-nah-la-hir-ku,
Kau hen-dak ku-ka-sih-i se-hing-ga a-jal-ku.

Kukasih pasir putih di pantaimu senang,
dimana lautan biru berkilat dalam t'rang.

Kukasih bunyi ombak, pemukul pantaimu,
nyanyian yang selalu senangkan hatiku.

Kukasih gunung-gunung, besar, mulialah,
dan awan yang melayang-layang keliling puncaknya.

Kukasih hutan-hutan, selimut tanahku
'Ku suka mengembara dibawah naunganmu

Kukasih engkau, tanah, yang denan buahmu
membayar kerajinan dan pekerjaanku

Syukur bagimu, Tuhan: Kaub'rikan tanahku,
b'ri aku rajin juga sampaikan maksudMu. 


Tenaga Guru Dan Mantri Tidak Boleh Maju DPRD Kabupaten Intan Jaya


Donatus Japugau, Di Bilogai (Foto: Migani)

SUGAPA-Diberbagai daerah Papua dan khususnya pengunungan tengah papua para tenaga guru dan tenaga mantri sangat minim. Pendidikan dan kesehatan seolah-olah berjalan ditempat dari tahun ke tahun dan guru pun tidak sadar betapa pentingnya sumber daya manusia untuk memanusiakan manusia, Kata Donatus Japugau saat bertemunya di Bilogai, Rabu 16 Januari 2013 pukul 10. 25 wit.

Donatus menjelaskan; Para guru dan mantri di kabupaten intan jaya seakan tidak mengapdi secara baik, sebenarnya guru-guru di pedalaman papua mempunyai beban dan tagung jawab besar untuk mengajarkan siswa dengan melihat siatuasi yang ada di kabupaten intan jaya, jelas Donatus.

Japugau mengharapkan; tenaga kerja di bidang guru dan mantri sangat sedikit dan sangat dibutuhkan di intan jaya, untuk itu tenaga kerja guru dan tenaga kerja mantra jangan mencalonkan diri untuk maju Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupaten Intan Jaya.

Japugau menegaskan; “masyarakat tidak boleh memilih guru dan manti yang akan maju DPRD, karena tenaga kerja guru dan mantri akan berkurang membuat pendidikan dan kesehatan di intan jaya seakan jalan ditempat”.

Donatus Menjelaskan; Masyarakat bisa lihat saat ini, banyak kematian walaupun ada dua tiga mantri yang bekerja dan juga bisa lihat keadaan anak-anak kami saat ini, hanya bermain di halaman sekolah lalu pulang, karena tidak ada guru di tempat.
Donatus Japugau; menolak tegas tenaga kerja guru dan mantri untuk maju DPRD Kabupaten Intan Jaya supaya mereka tetap mengapdikan diri di dinas kesehatan dan pendidikan, harapnya. ** Maisini **