Tampilkan postingan dengan label Perdamaian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perdamaian. Tampilkan semua postingan

ANJING BERBURU


Anjing Berburu (Foto: Sumber Google.com)
Dalam beberpa bulan belakangan ini ada panas ada juga mendung dan kadang hujan, sehingga Kokaime hendak ke salah satu kampung untuk temui seseorang yang sering pergi berburu. Hari itu Jumat 28 November 2014 pukul 9. 00 Waktu Papua, Cuaca agak mendung, namun  karena terlalu bosan di rumah, maka Kokaime jalan santé melewati beberapa anak-kan sungai, bukit lalu tiba di kampung itu.

Begitu tiba di kampung orang yang hendak ku ditemui, namun orang itu sudah tidak ada di situ, yang ada hanyalah beberapa anak kecil, rupanya anak-anaknya. Saat di Tanya orang tersebut, mereka menjawab dia ada ke hutan, maka Kokaime Pun hendak pergi mengikuti cerita dari anak-anak itu.

Kokaime  pun melewati beberapa pepohonan yang besar dan dari pepohonan itu terdengar suar anjing mengogong, Kokaime pun berhenti sejenak dan mendengar suara anjing itu. Ternyata suara anjing itu agak jauh, makanya Kokaime melanjutkan perjalanan.

Setelah Kokaime lalui beberapa pohon dan alang-alang, Kokaime melihat ada seseorang pakai baju abu-abu pegang busur sedang menyeberang salah satu kali sambil memanggil Anjing-nya. Kokaime pun lari mengejar orang itu dan mendapatkannya di sebelah kali dan Kokaime memberi salam kepadanya. Tetapi kata dia; kau dari mana mau kemana?

Bapa saya datang cari cari Bapa, kata Kokaime. Katanya; disini ada banyak Anjing Berburu, jadi kenapa datang ke sini. Kata Kokaime Kepada Bapa itu, bapa saya juga mau berburu, jadi saya minta anjing satu, tetapi Bapa itu menjawab; tidak boleh.

Dalam perjalanan Kokaime melihat di moncong anjing itu ada gumpalan Darah, makanya Kokaime Tanya tuan-nya; apakah anjing ini yang tadi gong-gongkah. Jawab bapa itu, Benar, kami sedang berburuh, tetapi tidak dapat hasil, jadi kami ada pulang ini. 

Kokaime pun menanyakan bagimana tidak dapat hasil sedangkan moncong anjing ada darah, jawabnya; itu hanya satu ekor saja sambil menunjukan Kus-Kus Pohon.

Bapa, saya mau Tanya, bukankah kus-kus seperti begini tinggal di pohon yang besar dan tinggi?

Jawabnya; Ade, Kami Yang Sudah Biasa Berburuh Itu Biasanya Kasih Makan Anjing Dengan Baik, Piara Dengan Baik, Dan Melatih Anjing Bagimana Berburu Kus-Kus Yang Di Tempat Tinggi Dan Di Tempat Rendah Serta Kami Juga Memberi Makan Secara Khusus Kepada Anjing Berburuh Agar Anjing Kami Tambah Jahat supaya dapat hasil dalam setiap kali berburu.

Oohhh…Bapa saya juga mau berburu jadi kasih saya anjing berburu satu, lalu jawabnya; Tidak Boleh, Biarlah yang berburuh tetaplah berburuh, yang memancing biarlah mereka tetap memancing, yang berkebun biarlah mereka berkebun, yang pesta pora biarlah mereka pesta pora, yang main judi biarlah mereka main judi, jadi ade lebih baik tidak usah ikut bapa ya, katanya.

Jawab Kokaime, Jadi begitukah cara tuan yang mempunyai anjing menjaga, mendidik dan memberi makan kepada Anjing…Yah itu cara yang biasa dipakai dimana-mana untuk berburu….

saat berburu, entah itu mereka yang dari pantai atau dari gunung biasa berburuh harus pakai anjing supaya anjing yang lacak atau mencari dan mencium dimana kus-kus berada, setelah anjing sudah memberi tahu, maka kami tuan anjing tinggal membunuh kus-kus itu, supaya kami serahkan kus-kus buruan itu kepada orang yang menyuruh kami berburuh.

Ooo…begitu eee…..benar, saya kan sudah lama di kota, jadi tidak tahu cara berburu, makanya saya Tanya…..sekarang saya sudah tahu bahwa selama ini bapa dorang berburu kus-kus seperti itu eee…..hee..heee..he….

Mahatma Gandhi ; Perjuangan Tanpa Kekerasan


Apabila Kekerasan Dibalas Dengan Kekerasan Hanya Akan Melahirkan Kebencian Dan Tidak Melahirkan Bibit-Ninitpermusuhan Baru.  Gandhi Mengajarkan Kita Pada Pentingnya Memperjuangkan Sesuatu Berdasarkan Kebenaran(Satyagraha). Lebih Lanjut, Perjuangan Itu Juga Harus Berada Di Jalan Yang Benar Dan Bermoral. 


Mahatma Gandhi: Perjuangan Tanpa Kekerasan
Mohandas Karamchand Gandhi lahir di Porbandar,Gujarat, India Britania, 2 Oktober 1869 dan meninggal di New Delhi, India 30 Januari 1948 umur 78 tahun.

Gandhi telah mulai merintis perjuangannya sejak di berada di Afrika Selatan. Pada tahun 1893 dimana dia melihat adanya perlakuan diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah setempat terhadap masyarakat India, serta masyarakat kulit hitam di sanauntuk melakukan tindakan non-kooperasi terhadap pemerintah / penguasa Afrika Selatan. 

Gandhi menemukan penindasan tidak hanya pada mereka yang membangkang, namun juga pada yang luka-luka dan meregang nyawa. Dalam catatan hariannya, Gandhi menulis, "Saat itu tak ada orang Eropa yang bersedia membantu membalut luka mereka...Kami harus membersihkan luka-luka orang Zulu yang tidak dirawat setidaknya setelah lima atau enam hari yang lalu, karena itu luka-lukanya membusuk dan sangat menakutkan.
Kami menyukai pekerjaan kami."Situasi itu menjadi peletup kesadaran Gandhi bahwa kekerasan tak bisa diselesaikan dengan kekerasan. Bila mata dibalas dengan mata, semua manusia akan gelap mata. Kesadaran lain yang muncul saat itu adalah bahwa ia harus memberikan pelayanan terhadap semua manusia dengan segenap jiwa raganya.
Kesadaran ini diwujudkan dalam prinsip perjuangan: bramkhacharya (mengendalikan hasrat seksual), satyagraha (kekuatan kebenaran dan cinta), swadeshi (memenuhi kebutuhan sendiri) dan ahimsa (tanpa kekerasan terhadap semua makhluk). 

Setelah itu, Gandhi terus-menerus melakukan perlawanan kesewenang-wenangan dengan gerakan tanpa kekerasan. Misalnya, Gandhi menolak aturan diskriminatif dengan mogok makan, berjalan kaki bermil-mil, membuat garam sendiri ketika semua rakyat harus membeli garam dari pemerintah Inggris, dan sebagainyaBagi Gandhi, hasrat seksual merupakan sumber dari kejahatan dan cenderung mementingkan diri sendiri, yaitu nafsu, amarah, dan agresi.
Hasrat seksual dapat ditaklukkan melalui penolakan terhadap adanya pamrih yang selalu mengikuti perbuatan, untuk itulah ia bertekad menjalani prinsip bramkhacharya. 

Ketiadaan pamrih dapat dilakukan bila jiwa terikat pada prinsip Kebenaran Ilahiah. Inilah prinsip satyagraha, yaitu kepercayaan bahwa jiwa dapat diselamatkan dari kejahatan dunia, dan juga dapat memberikan pertolongan, sejauh jiwa itu senantiasa berada dalam pencariannya terhadap Tuhan melalui kebenaran dan hanya kebenaran.
Swadeshi dapat diartikan dalam beberapa arti yang bermacam-macacm oleh kaum politik India itu sendiri. Ada yang mengartikan sebagai suatu boikot tak mau membeli barang-barang buatan Inggris, yakni sebagi suatu taktik pejuangan menyerang.

Ada pula yang mngartikan sebagai hanya sebagai usaha positif memajukan kerajinan sendiri, pertukangan sendiri, industrialisme sendiri. Ada yang memandangnya sebagai suatau senjata politik, dan ada yang pula yang memandangnya sebagai suatu usaha ekonomi yang bersangkutan dengan politik sama sekali.

Sementara itu, ahimsa adalah kekuatan cinta, suatu penghormatan pada semua bentuk kehidupan. Ini adalah ajaran yang dimiliki semua agama, yaitu manusia memiliki kewajiban menghindari kejahatan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik di dunia. Tentang ahimsa Gandhi menyatakan, "Ahimsa...bukan sekadar tingkatan tidak melakukan penyerangan secara negatif tetapi...tingkatan cinta yang positif, berbuat baik bahkan kepada pelaku kejahatan".

Ajaran Gandhi ini didasarkan pada beberapa asumsi. Pertama, kemerdekaan dan kesejahteraan hanya dapat dimulai dari kemandirian individu. Maka masing-masing individu-individu harus mampu menyalurkan hasrat negatifnya pada tindakan-tindakan positif.Kedua, Gandhi meyakini bahwa perkembangan dan kemajuan akan diperoleh tidak melalui konsesi-konsesi dan reformasi-reformasi konstitusional, tetapi melalui perjuangan yang dilakukan oleh rakyat sendiri secara bersama. Untuk dapat membangkitkan kebersamaan itu dibutuhkan kekuatan cinta dan kerelaan untuk mengalami penderitaan rakyat.

Cinta dan penderitaan sesama inilah yang dapat merekatkan perbedaan identitas dalam relasi saling ketergantungan yang dapat menghentikan konflik.Melalui ajarannya itu, sejak tahun 1906, Gandhi terus-menerus berjuang melawan penjajahan dengan cinta dan solidaritas. Sejak tahun itu, Gandhi menyerukan kepada seluruh rakyat India untuk membuat beberapa bentuk kerajinan tangan sehingga tak ada lagi yang akan menjadi beban masyarakat.
Gandhi berseru kepada rakyat India untuk menemukan kembali hubungan yang murni dan orisinil antara manusia dengan alam, karena dia yakin bahwa perceraian dengan alam adalah sumber dari segala penyakit.

Gandhi berseru agar rakyat mendidik dirinya mengenai dasar-dasar kesehatan dan lingkungan yang sehat, supaya bisa mencegah dan menghentikan bibit-bibit penyakit.
Gandhi berseru agar melakukan berbagai aktivitas semacam pemeliharaan hutan dan memelihara lebah, membuat barang pecah belah dan kertas, sehingga tak ada seorang pun yang tidak mempunyai makanan, peralatan atau buku.Gandhi berseru untuk mengembangkan pendidikan dasar melalui program kerja dan belajar di sekolah, sehingga anak-anak tumbuh dengan mengetahui cara membaca, menulis dan bagaimana bekerja dengan tenaga fisik. 

Gandhi menyerukan kepada rakyat berpartisipasi dalam majelis-majelis desa dan dengan cara ini rakyat dapat belajar memecahkan masalahnya sendiri.Gandhi dengan ajaran anti kekerasan (ahimsa) yang dilakukan untuk kemerdekaan India telah memberi inspirasi kepada seluruh dunia. Dengan ajaran-ajarannya tersebut, hidup sederhana pun ia jalani. Dengan ahimsa perlawanannya cukup memberikan kekuatan kepada rakyat untuk turut serta melawan kekerasan. Ahimsa adalah perjuangan dengan kekuatan cinta dan kasih sayang.

Perjuangan untuk tidak menyakiti baik fisik maupun pikiran sehingga ahimsa bukan semata-mata menyakiti secara fisik. Melainkan perjuangan untuk melawan suatu ketidakbenaran. Ajaran ahimsa yang dianut oleh Gandhi menurut penulis merupakan bentuk representasi dari pengalaman uang diterimanya dalam lingkingan keluarganya, karena sebagaimana yang telah diketahui bahwa Gandhi berasal dari keluarga yang religius yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan rasa cinta kasih terhadap sesama.

Ajaran selanjutnya dari Gandhi adalah swadesi atau berusaha untuk mandiri dengan mencukupi kebutuhan diri sendiri. Ini tidak serta merta dilakukan begitu saja, namun harus dibangun sistem untuk menciptakan kekuatan baik pada diri maupun kepada rakyat. Misalnya membangun perekonomian yang menghidupkan kekuatan masyarakat sehingga menghilangkan ketergantungan pada pihak asing. 

Pendidikan juga memiliki peran penting dalam mewujudkan kemandirian ini, karena disinilah karakter masyarakat dibentuk untuk melakukan pengendalian diri. Bagi penulis, ajaran ini merupakan bentuk kekhawatiran Gandhi terhadap masuknya produk-produk asing ke India sehingga masyarakat India semakin konsumtif untuk itulah kemudian dia mengajak rakyat India agar mau untuk memproduksi barang-barangnya sendiri tanpa harus bergantung terhadap produk asing.

Bramkhacharya merupakan salah satu prinsip ajaran Gandhi yang terlihat tidak terlalu menonjol dibanding ajaran-ajarannya yang lain.
Ajaran ini memusatkan diri pada pengendalian hawa nafsu (seksual), dimana dia beranggapan bahwa segala kejahatan di muka bumi ini dapa diredam apabila manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya. Bagi penulis ajaran tersebut cukup baik, namun mematikan hasrat seksual bagi manusia dapat menghancurkan peradaban manusia itu sendiri.

Melalui satyagraha, berpegang teguh pada kebenaran yang dibarengi dengan teladan membuat Gandhi diikuti oleh banyak pengikutnya. Apalagi dengan ditambah kejujuran dan kesederhanaan Gandhi. Satyagraha menekankan sebuah perjuangan menentang ketidakadilan melalui kesediaan diri menanggung penderitaan. Beberapa gerakan satyagraha yang dipimpin Gandhi di India adalah berjuang untuk para petani miskin pribumi Champaran, pemogokan buruh pabrik di Ahmedabad dan Kheda, melakukan pembaruan pada Konggres Nasional India dan yang paling fonumental adalah mengubah resolusi penting menuntut status dominian bagi India dibawah pengawasan gerakan Satyagraha di seluruh India di Kalkutta pada Desember 1928.

Gandhi adalah pemimipin yang paling inspirasional pada awal abad 20. Advokasinya tentang aksi ketidakpatuhan warga serta tanpa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk mencapai perubahan sosial yang mempengaruhi pergerakan-pergerakan lain di dunia, seperti perjuanagan Marthin Luther King Jr. di Amerika Serikat yang terinspirasi oleh perjuangannya dalam menuntut persamaan hak dan penghapusan tindakan diskriminasi antara masyarakat kulit putih terhadap masyarakat kulit hitam.Jika ajaran Mahatma Gandhi diikuti, relatif hal itu akan bisa terhindari. 

Andaikan banyak pihak mau mengikuti gerakan ahimsa (ajaran yang menolak kekerasan), maka korban kemanusiaan tidak akan terjadi. Karena apabila kekerasan dibalas dengan kekerasan hanya akan melahirkan kebencian dan tidak melahirkan bibit-ninit permusuhan baru.  Gandhi mengajarkan kita pada pentingnya memperjuangkan sesuatu berdasarkan kebenaran (satyagraha). Lebih lanjut, perjuangan itu juga harus berada di jalan yang benar dan bermoral. 

Setidaknya ada 10 ajaran Mahatma Gandhi yang cukup dikenal oleh dunia. Berikut kutipannya.

1. Change Yourself

“You must be the change you want to see in the world.”
Kau sendiri mesti menjadi perubahan seperti yang kau inginkan terjadi dalam dunia ini
2. You are in Control.
“Nobody can hurt me without my permission.”
Tak seorang pun dapat menyakitiku bila aku tidak mengijinkannya.
3. Forgive and Let it Go.
“The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the stron. An eye for eye only ends up making the whole world blind.”
Seorang lemah tidak dapat memaafkan. Kemampuan untuk memaafkan hanyalah ada pada mereka yang kuat. Bila pencungkilan mata dibalas dengan mencungkil mata, maka seluruh dunia akan menjadi buta.
4. Without Action You aren’t Going Anywhere.
“An ounce of practice is worth more than tons of preaching.”
Satu ons tindakan lebih baik daripada berton-ton dakwah.
5. Take care of this moment.
“I do not want to foresee the future. I am concerned with taking care of the present. God has given me no control over the moment following.”
Aku tidak tertarik untuk melihat apa yang dapat terjadi pada masa depan. Aku tertarik dengan masa kini. Tuhan tidak memberiku kendali terhadap apa yang dapat terjadi sesaat lagi.
6. Everyone is Human.
“I claim to be a simple individual liable to err like any other fellow mortal. I own, however, that I have humility enough to confess my errors and to retrace my steps.”
Aku hanyalah seorang manusia biasa yang dapat berbuat salah seperti orang lain juga. Namun, harus kutambahkan bahwa aku memiliki kerendahan hati untuk mengakui kesalahan-kesalahanku dan memperbaikinya.
7. Persist.
“First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win.”
Awalnya, mereka meremehkanmu, kemudian mereka menertawakanmu, dan melawanmu, lalu engkau keluar sebagai pemenang.
8. See the Good in People and Help Them.
“I look only to the good qualities of men. Not being faultless myself, I won’t presume to probe into the faults of others.”
Aku hanya melihat sifat-sifat baik di dalam diri sesama manusia. Karena, diriku sendiri tidak sepenuhnya bebas dari keburukan, maka aku tidak membedah orang lain untuk mencari keburukan mereka.
“Man becomes great exactly in the degree in which he works for the welfare of his fellow-men”.
Manusia menjadi besar selaras dengan kebaikan yang dilakukannya bagi sesama manusia.
“I suppose leadership at one time meant muscles; but today it means getting along with people”.
Barangkali otot menjadi tolok ukur bagi kepemimpinan pada masa lalu. Sekarang, tolok ukurnya adalah hubungan dengan sesama manusia.
9. Be Congruent, be Authentic, be Your True Self.
“Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony.” Keselarasan antara apa yang kau pikirkan, apa yang kau ucapkan, dan apa yang kau lakukan – itulah kebahagiaan.
“Always aim at complete harmony of thought and word and deed. Always aim at purifying your thoughts and everything will be well.”
Jadikanlah keselarasan antara pikiran, ucapan, dan tindakan sebagai tujuanmu. Jadikanlah pemurnian pikiran sebagai tujuanmu – maka semuanya akan beres.
10. Continue to Grow and Evolve.
“Constant development is the law of life, and a man who always tries to maintain his dogmas in order to appear consistent drives himself into a false position.”
Perkembangan terus-menerus itulah hukum alam. Seseorang yang ingin bertahan dengan dogma-dogma (lama) untuk menunjukkan konsistensi diri, sesungguhnya berada pada posisi yang salah.

Sumber: dari berbagai sumber/Mbailabu.Com

Ketika Anak-anak Pergi Berperang

Kepentingan Kapitalis Utuk Menguras Kekayaan Kaum Pribumi
Banyak serdadu anak yang mengalami trauma berkepanjangan dan kesulitan untuk berintegrasi kembali di masyarakat. Mereka dianggap sebagai pelaku namun sekaligus korban dari konflik itu sendiri.
Bosco baru berusia enam tahun, ketika pemimpin pemberontak Uganda Joseph Kony membawanya ke hutan dan memerintahkannya untuk membunuh adik perempuannya, demikian dikisahkan Elisabeth Kaiser. Psikolog itu membantu para serdadu anak mengatasi trauma mereka.

Bersama organisasi bantuan Vivo International ia melakukan terapi pada anak-anak yang mengalami trauma tersebut di Uganda. Kepadanya Bosco meceritakan secara rinci bagaimana kejadian pemaksaan terhadap dirinya untuk melakukan pembunuhan terhadap sang adik, “Komandan menunjuk dengan senjatanya dan berujar pada saya 'tebas dia segera' Dan saya pikir saat itu 'biarkan saya mati saja' dan saya mendengar suara tembakan tepat di atas kepala saya. Saat itu hati saya tertekan dan saya tahu harus berbuat sesuatu. Saya angkat tangan saya, dan saya dengar adik perempuan saya menangis. Saya juga mulai menangis dan berkata 'Juli maafkan saya. Saya harus berbuat sesuatu.' Komandan menepuk bahu saya dan parang itu menebas leher adik saya.'
Juli baru berusia lima tahun saat itu. Ia dibunuh, karena tak mampu mengikuti laju kecepatan jalannya para gerombolan pemberontak menuju ke sasaran serangan berikutnya.

Didoktrin dan Disiksa
Perserikatan Bangsa-bangsa memperkirakan, sekitar 250 ribu anak-anak dipaksa oleh tentara maupun kelompok pemberontak untuk ikut bertempur dalam hampir di seluruh konflik bersenjata yang terjadi di dunia.
Dalam laporan terkini badan PBB, disebutkan ada 53 pihak di 23 negara yang memanfaatkan anak-anak untuk menjadi kombatan, mata-mata, utusan perang, atau membawa perlengkapan perang yang berat, demikian diungkapkan Ninja Charbonneau, yang bekerja untuk badan dunia yang menangani masalah anak-anak, UNICEF. Juga dari Suriah, terdapat laporan bahwa baik pemerintah maupun kelompok oposisi memakai anak-anak untuk berperang. Anak-anak itu hidup dalam ketakutan yang terus-menerus.

Mereka takut dibunuh oleh kelompok yang menyeretnya, jika tidak patuh. Tak jarang di antara mereka ada yang disiksa dan dipukuli: “Anak-anak 'dimanfaatkan' oleh kelompok bersenjata. Mereka dijadikan kombatan yang mudah dimanipulasi. Sering diberi obat bius dan didoktrin lewat material propaganda dan film agar mau menjalankan tugas barunya,“ ujar Ninja Charbonneau dari UNICEF.
Anak-anak yang direkrut kebanyakan adalah mereka yang kehilangan orang tuanya semasa konflik berkecamuk. Ditambahkan Charbonneau, anak-anak itu kemudian menjadi bagian dari kelompok bersenjata. Banyak juga yang diculik dan dipaksa memanggul senjata. Bosco menghabiskan masa kecilnya bersama kelompok pemberontak.

Kerusakan Struktur Keluarga dan Lingkungan
Anak-anak yang mampu bertahan hidup di masa konflik, sebagian besar mengalami efek trauma, mereka menjadi depresi dan mengalami gangguan psikosomatis, demikian diungkap terapis efek trauma Elisabeth Kaiser. Karena menanggung rasa sedih, bersalah, dan malu, ada juga yang lantas bunuh diri. Lainnya yang mencoba berintegrasi lagi dengan masyarakat sipil, namun mengalami gangguan dalam bertingkah laku, sehingga sukar kembali menjalani hidup normal dalam keluarga maupun di lingkungannya. Di antara mereka itu ada pula yang pada akhirnya juga melakukan tindak kekerasan pada anak mereka. Dikisahkan Kaiser, “Ada pula sebuah masyarakat yang separuhnya mengalami gangguan mental atau sakit secara psikis dan pada akhirnya membawa kehancuran pada struktur masyarakat itu sendiri.“ Yang paling berat adalah nasib anak-anak perempuan yang diperkosa ketika menjadi serdadu cilik, lantas harus hidup di desa tanpa suami dan hidup dalam kemiskinan.

Aturan internasional melarang penggunaan anak-anak dalam konflik. 150 negara terlah meratifikasi protokol tambahan dalam konvensi PBB menyangkut hak anak, yang berisi larangan keterlibatan anak-anak dalam konflik. Jerman telah meratifikasi protokol tambahan ini. Namun Jerman tidak luput dari kritik, yang termuat dalam laporan UNICEF bersama sepuluh lembaga anak lainnya. Ninja Charbonneau dari UNICEF menyebutkan, “Mantan serdadu anak yang tiba sebagai pengungsi di Jerman, tak cukup mendapatkan bantuan. Mereka khawatir tak diakui sebagai pencari suaka.“ Dalam laporan bayangan itu dikritik pula iklan perekrutan angkatan bersenjata Jerman Bundeswehr di sekolah-sekolah terhadap remaja-remaja berusia 17 tahunan di Jerman. Di luar itu, laporan itu juga menyebutkan adanya ketidakjelasaan apakah senjata-senjata kecil yang digunakan dalam konflik berasal dari Jerman. Jerman terkenal sebagai salah satu eksportir senjata terbesar di dunia.

Sumber: http://www.dw.de/ketika-anak-anak-pergi-berperang/a-1659388