Bob Marley: Get Up, Stand Up


Get up, stand up, stand up for your rights!
Bangun, berdiri, berdiri untuk hak-hak mu!
Get up, stand up, stand up for your rights!
Bangun, berdiri, berdiri untuk hak-hak mu!
Get up, stand up, stand up for your rights!
Bangun, berdiri, berdiri untuk hak-hak mu!
Get up, stand up, don’t give up the fight!
Bangun, berdiri, Jangan menyerah melawan!

Preacherman, don’t tell me,
Preacherman, Jangan katakan padaku,
Heaven is under the earth.
Surga adalah di bawah bumi.
I know you don’t know
Aku tahu kamu tidak tahu
What life is really worth.
Hidup yang benar-benar layak
It’s not all that glitters is gold
Hal ini tidak semua yang gemerlap emas
Alf the story has never been told
Cerita Alf tidak pernah mengatakan
So now you see the light, eh!
Maka sekarang kamu melihat cahaya, eh!
Stand up for your rights. Come on!
Berdiri untuk hak-hak mu. Ayolah!

Get up, stand up, stand up for your rights!
Bangun, berdiri, berdiri untuk hak-hak mu!
Get up, stand up, stand up for your rights!
Bangun, berdiri, berdiri untuk hak-hak mu!
Get up, stand up, stand up for your rights!
Bangun, berdiri, berdiri untuk hak-hak mu!
Get up, stand up, don’t give up the fight!
Bangun, berdiri, Jangan menyerah melawan!

Most people think,
Kebanyakan orang berpikir,
Great God will come from the skies,
Tuhan akan datang dari langit,
Take away everything
Mengambil segala
And make everybody feel high
Dan membuat semua orang merasa tinggi
But if you know what life is worth
Tapi jika kamu tahu apa yang hidup layak,
You will look for yours on earth
Kamu akan melihatmu di bumi
And now you see the light
Dan sekarang kamu melihat cahaya
You stand up for your rights. Jah!
Kamu berdiri untuk hak-hak Anda. Yah!

Get up, stand up! (Jah, Jah!)
Bangun, berdiri! (Yah, Jah!)
Stand up for your rights! (Oh-hoo!)
Berdiri untuk hak-hak Kamu! (Oh-hoo!)
Get up,


Perdebatan Cat

Panas terik membuat udara sangat panas di Nabire. Di Wisma Serikat Yesus, siang itu, aku berbaring di samping lukisan yang baru saja aku lukis. Aku akui memang indah lukisannya. Alat-alat lukis masih belum kubereskan. Sementara berbaring itulah, saya mendengar perdebatan alot mengenai siapa yang paling berguna dari alat-alat lukisku. 

Awalnya, aku melihat mereka (alat-alat lukisku) memandangi lukisanku itu. Aku melihat mereka mengangguk-anggukan kepala. Dan, akhirnya perdebatan pun lahirlah.

Cat biru berkata: “Kalian semua, dengarkan. Karena aku ada, lukisan ini jadi begitu indah dilihat. Lihat. Langit biru yang indah kalian pandang, tidak akan seindah itu, bila Bastian tidak menggunakanku. Aku memang adalah warna terbaik, warna terindah. Kalian patut bersyukur, aku digunakan olehnya untuk melukis lukisan ini.”



Cat Hijau yang merasa disepelekan angkat bicara: “Cat Biru, coba kau pandangi lukisannya. Bukankah warna pohon dan rerumputan tidak menggunakan warna biru? Coba bila tidak ada saya, dan Bastian menggunakan warna Biru untuk pohon dan tumbuhan. Jadi lucu jadinya pasti. Bagimana teman-teman?” kata cat Hijau, sambil memandang sekeliling.

Kuas lukis duduk diam. Matanya terus menatap lukisan. Cat Putih yang sedari tadi berdiam diri mulai angkat muka. “Saudara- saudara sekalian,” katanya membuka pembicaraan. “saya kira, anda Biru dan Hijau tidak ada apa-apanya dibanding saya. Look at me,” katanya dalam bahasa inggris.

Putih dengan angkuhnya mulai berdiri. “Akulah warna kesucian. Biru, dengarlah. Bila langit biru dilukis tanpa campuran diriku, warna langit akan terlalu biru. Itu akan tidak secantik yang kau lihat di lukisan ini. Karena ada aku, kau berani sesumbar di hadapan kami. Padahal, tanpaku, kau tidak ada apa-apanya.

“Hijau, sekarang buat kau. Lihat rerumputan itu di lukisan. Bila tanpa sedikit diriku, warna tumbuhan akan terlalu hijau. Karena ada diriku, maka Bastian dapat melukis daum muda, dan dapat terlihat lebih hidup. Aku juga digunakan untuk melukis danau. Aku juga digunakan untuk melukis awan. Aku juga menjadi warna dasar. Kalian adalah yang menempel semua. Akulah dasarnya.”

Mendengar ceramah cat Putih, cat Merah marah besar. “Putih, diam kau!” Putih kaget mendengar bentakan itu. “Kalian lihat aku. Memang aku tidak digunakan oleh Bastian terlalu banyak untuk melukis lukisan ini. Tetapi lihat. Bagaimana lukisan ini terlihat indah, bila warna bunga tidak menggunakanku? Coba warna bunga menggunakan hitam, jadinya malah tambah jelek lukisannya.”

Sambil memandang remeh Hitam, Merah lebih bersemangat untuk berbicara. “Lihat pohon itu. Bastian menggunakanku untuk mewarnai pohon. Mamang, sedikit aku digunakan. Tetapi tanpa sedikit diriku, lukisan ini tidak akan secantik yang kalian lihat.”



Hitam tidak ingin terus menerima cemoohan. Ia bangkit berdiri. “Lihat aku,” katanya. “Walau kalian anggap aku yang paling tidak berguna, tidakkah kalian ingat bahwa sebelum membuat lukisan ini, Bastian lebih dulu membuat sketsa menggunakanku?

“Tidakkah kalian juga ingat, bahwa ketika triplek ini utuh, tidak ada satu cat pun yang menempelnya, akulah yang pertama digunakan Bastian untuk membuat tanda salib pada triplek sambil mengucapkan doa, agar dapat melukis dengan baik? Jadi, siapakan yang paling berguna. Kau tahu kawan. Di manapun juga, yang berguna selalu yang dipakai pertama. Akulah yang pertama dipakai Bastian untuk membuat lukisan ini.” Tutup Hitam.

Kuning diam saja. Ia sadar, bahwa ia hanya sedikit digunakan untuk membuat warna tumbuhan dan pohon. Ia sadar, ia tidak sehebat hijau yang banyak digunakan Bastian. Ia juga sadar, ia tidak sehebat Biru dan Putih. Namun, ia tidak tahan juga dengan banyaknya cemoohan.

Karena masing-masing telah mengungkapkan kehebatan dan kegunaannya, maka kuning pun kini angkat bicara: “Maaf, aku tahu, aku tidak banyak digunakan. Tetapi saya yakin, kalian tahu, bahwa aku berada di tempat ini; Bastian mengeluarkan uang 10.000 untuk membeliku; Bastian membuka tutupku, mengadukku, dan menggunakanku sama seperti kalian, juga tentunya karena saya pun berguna seperti kalian.”

Situasi semakin memanas. Mereka masing-masing mempertahankan pendapat mereka, bahwa merekalah yang paling berguna dalam membentuk lukisan yang indah itu. Aku hanya mampu menahan tawa yang semakin lama tak mampu kutahan.

Akhirnya, kuas berkata: “Teman-teman, tenang. Tanpaku, kalian akan tetap berada di dalam botol tempat kalian berada. Denganku, Bastian mengambil sedikit dari kalian, dan denganku pula, ia menggoreskannya di triplek sehingga menjadi seperti lukisan ini.

“Sebelum menyentuh kalian semua, tangan Bastian telah lebih dulu menyentuhku. Ia lebih dulu membersihkanku menggunakan minyak pelumas. Tentungya karena ia tahu, bahwa aku sangat penting dibanding teman-teman sekalian.” Katanya lagi.

Seekor semut merah yang kebetulan melintas di situ juga berhenti sejenak sejak tadi untuk menikmati lukisan di depannya itu, sambil melepas lelah. Dan semut merah telah mengikuti semua perdebatan mereka itu.

“Teman-teman semua,” kata semut merah itu.

“Pandangi lukisan ini. Lihatlah...” ajak semut merah.

“Lukisan yang indah ini, hanya akan dihasilkan melalui kolaborasi kita sebagai bagian-bagian yang berbeda. Lihat! Ini hasil kolaborasi kita. Inilah dasyatnya persatuan. Inilah hasil dasyatnya kolaborasi.”

Semut Merah menarik nafas, kemudian melanjutkan kata-katanya.

“Bukan berarti hitam sama dengan putih. Juga Hijau berbeda dengan Kuning. Kita memang berbeda. Kita sadari, dan kita sukuri itu. Bastian membutuhkan kita semua. Kita rela disatukan. Kita tela dicampur. Jadilah lukisan yang indah ini.” Sanimala Bastian Tebai

Cerpen : Si Kribo Yang Cantik Menawan

Oleh : Renee Annesthasie SB

Usianya mendekati separuh baya, rambut talingkar kribo, sebuah noken Papua Nieuw Guinea (PNG) menggantung di lengannya.
Dandanannya sederhana namun rapi, ia memancing mataku untuk tidak beralih darinya. Di stasiun kereta Helmond Centraal Kota Helmond, di Negeri Kincir Angin. Seolah ada kontak batin matanya pun tertuju pada sa. Dan dia pun tersenyum manis. Dia cantik, sa pu hati berbisik kagum. Jujur saja sa penasaran dan kagum.

Saat melihatnya, sa benar-benar rasa dan sadar bahwa sudah belasan tahun sa kehilangan sa pu dunia, kehilangan bagian terpenting dari sa pu diri.
Sa telah terlempar jauh keluar dari sa pu masyarakat tercinta, sa telah terbuang jauh dari kitong punya komunitas dan budaya Melanesia. Perlahan sa melangkah mendekati dia, dengan senyum tanpa ragu sa kase tangan. Tong dua jabat tangan.

“Yu blong Manus Island o Samarai?” sa tanya dia dengan bahasa Pigin.
“Wai na yu tok olsem?” jawabnya dengan senyum.
“Fes mi ting olsem yu blong PNG, bikos long bilum yu karim raun na seken long en, yu iluk olsem meri Manus o meri Samarai.”
Tenkyu tru, Sista blong mi. Mi stap long taim long PNG tasol asples blong mi em i West Papua. Mi kam long Biak Ailan.”
Aaaaaahhhh…ternyata sa pu dugaan meleset.



Semula sa kira de dari Pulau Manus atau Samarai di PNG ternyata bukan. Dia berasal dari West Papua. Dan lebih lagi dia dari tempat asal mama saya. Bangga, senang, terharu… semua berbaur jadi satu.
Sa benar-benar senang dengan pertemuan ini. Tong tra buang waktu, cerita mengalir macam air dengan tong pu gaya sendiri. Kadang dengan logat Papua, kadang dengan Tok Pisin, kadang dengan Bahasa Belanda dan kadang juga dengan Bahasa Inggris. De maklum karena sa pu Bahasa Indonesia tra betul satu dan sa pu logat Papua juga masih patah-patah.


Awalnya sa masih malu-malu untuk pake logat Papua karena sa bicara tabula bale, tapi de bilang, “Ade, tra usah pake malu-malu segala. Hajar saja, yang tra beres itu nanti Kaka yang bereskan. Kaka paham.”
Dengar de bicara begitu, sa tambah semangat. De pu sikap sante dan flexibel bikin siapa saja yang baru kenal, pasti rasa akrab. Yang ada saat itu, sa bahagia luar biasa.



Hari ini sa bertemu tipe perempuan Melanesia tulen, sederhana, rambut kribo tanpa make up sehingga terlihat cantik dan menawan. Ia penuh percaya diri dan tenang.  Suaranya riang jika berbicara, diselingi gurauan. Tapi walaupun suka bergurau dia tampak berani dan tegas. Dari cara bicaranya saya paham perempuan ini pintar, bijak. Sa kagum dan bangga.
Sayang seribu sayang, pertemuan singkat itu harus kitong dua akhiri karena kereta yang de tunggu su tiba. De harus pergi.


Sa selipkan sa pu kartu nama di de pu tangan dengan harapan de mo kontak sa kembali. Kereta yang sa tunggu juga tiba. Sa tancap masuk kereta.
Tra sadar sekarang su sembilan tahun berlalu. Sejak terjalinnya persahabatan kami di rantau ini. Buat sa pu “Mama”, sa pu Kk, sa pu Guru, sa pu Pembimbing dan sa pu Sobat Sejati yang selalu. (*)


Venlo,26 Oktober 2014
Perempuan Melanesia sejati yang Sa Cinta.
TUHAN memberkatimu selalu.
Dimuat dalam www.sastrapapua.com



Derita Tiada Akhir

Mengapa ini harus terulang kembali
Terluka lagi.. tersiksa lagi..
Haruskah derita yang s’lalu ku alami
Di dalam hati, tiada akhir

Dimana lagi kan ku jelang
Dimana lagi, kemana lagi
Dimana lagi kan ku cari
Penghibur hati ini..

Oh Tuhan jauhkanlah diri hamba ini
Dari derita, dari sengsara
Semoga bahagia s’lalu di dalam hati
Tiada derita, tiada sengsara
Dimana lagi kan ku jelang
Dimana lagi, kemana lagi
Dimana lagi kan ku cari
Penghibur hati ini..

Oh Tuhan jauhkanlah diri hamba ini
Dari derita, dari sengsara
Semoga bahagia s’lalu di dalam hati
Tiada derita, tiada sengsara
Tiada derita, tiada sengsara
Tiada derita, tiada sengsara
Tiada derita, tiada sengsara..



Mengingat Kembali Kekasih Yang Telah Pergi

Oh..sayang-ku engkau sungguh hitam manis, Ku selalu bayangkan rupamu dalam ingatanku, mimpiku dan dalam setiap langkahku.

Dimalam yang sunyi dan hujan yang deras ku selau mengingat rupamu yang manis, Ku selalu membayangkan bagimana aku bisa ungkapkan isi hati ku.


Ku rasa engkaupun mengalami apa yang ku alami. Biarlah,…walaupun engkau jau disana, aku tetap mengingatmu rupamu dalam setiap langkahku.

Jhon Giyai: KOMSOS Keuskupan Mimika Mengadakan Pelatihan Jurnalistik

TIMIKA-Dalam rangka mengikuti perkembangan jaman yang semalin pesat dengan dunia Teknologi Komunikasi dan informasi, maka Komisi Komunikasi Sosial (KOMSOS) Keuskupan Mimika menyusun beberapa program untuk tahun 2016. Menurut Pimpinan KOMSOS Jhon Giyai ada beberapa program kerja, diantaranya Pelatihan jurnalistik bagi kaum muda dalam membangun budaya menulis dalam komunikasi global. Hal ini dijelaskan oleh Jhon Giyai yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif YPPK Tillemans Provinsi Papua di selah-selah pelatiaha jurnalistik yang diadakan di Aula Transit Bobaigo Timika, Jumat 20 Mei 2016 pukul 12. 25 wit. Giyai menjelaskan, “Program pelatihan jurnalistik yang diadakan di Mimika hari ini akan dilanjutkan dibeberapa wilayah keuskupan Mimika, diantaranya, Deiyai, Dogiyai, dan Paniai yang rencananya akan diadakan di Deiyai pada awal Juni mendatang dan juga di Teluk Cenderawasih yang akan di pusatkan di Nabire pada awal bulan Juli.


 Selain itu KOMSOS juga telah meluncurkan Website Keuskupan dengan nama www. keuskupantimika.org. Program yang ke tiga adalah penguatan Majalah Gaiya yang sudah ada sejak Keuskupan berdiri. KOMSOS juga mempunyai program jangka panjang, yaitu membuka Koran Harian untuk masyarakat umum”. Tuturnya. Lebih Lanjut Jhon mengatakan, “Soal Pelatihan Jurnalistik, kita membutuhkan orang – orang yang terlibat di Jurnalisme untuk tampil secara profesional dalam mewartakan Injil Tuhan melalui media sosial, misalnya media Koran Harian atau Media Online seperti Facebook, Twitter dan lain-lain, sehingga kegiatan ini bisa memotifasi orang muda untuk melawan kurangnya budaya menulis dan membaca. Sedangkan mengenai website bertujuan untuk mengikuti era jaman komunikasi global yang semakin tinggi, sehingga generasi muda harus mengukuti era tersebut untuk membagikan informasi yang baik dan berguna bagi banyak orang,” ujar Jhon Giyai.


Giyai mengharapkan, KOMSOS Keuskupan Mimika yang terdiri dari wilayah, dekenat Teluk cenderawasih, dekenat Kamu-Mapia, dekenat Mimika-Agimuga dan dekenat lainya yang sudah mengikuti kegiatan pelatihan jurnalistik bisa berbuat sesuatu khusunya bagi umat Katolik dan dapat menjawab kebutuhan semua umat beragama. (** Misael Maisini **)