Maknet Buatan Manusia Membunuh Unsur-Unsur Budaya Migani Di Intan Jaya

BUDAYA-MIGANI-Tuhan Allah yang dalam bahasa Migani menagatakan Emmoo menempatkan setiap suku bangsa di tiap-tiap dearah/wilayah dengan budaya mereka masing-masing demikian juga budaya suku migani di tanah Migani. 

Yakius Hagisimijau dan Daban Duwitau
Budaya Migani di berikan  cuma-cuma oleh Emmoo kepada moyang migani untuk di teruskan dari generasi ke generasi. Budaya migani tidak dibeli atau tidak belajar di sekolah- sekolah maupun di universitas, namun budaya itu pemberihan cuma-cuma oleh Emmoo kepada nenek moyang migani untuk diteruskan dari generasi ke generasi, tentang bagimana cara menyanyi, cara membuat rumah, cara membuat pagar, cara membuat koteka, cara membuat cawat dan cara lain-lainnya.

Komunitas Mahasiswa Independen Somatua Intan Jaya (KOMISI) Berdasarkan pantauan KOMISI di Intan Jaya, Nabire, Timika maupun ditempat-tempat dimana orang migani berada ternyata Budaya-budaya migani terkikis habis-habisan, karena dipengaruhi oleh  budaya lokal dari luar intan jaya. Sehingga “moralitas dan mentalitas anak adat yang dilahirkan dan dibesarkan dalam budaya migani sudah kehilangan jati diri atau kehilangan budaya mereka” dan saat ini generasi migani “SUSAH” menerapkan budaya MIGANI, sehingga mereka selalu meniru dan menerapkan budaya suku  bangsa orang lain.

Generasi mudah migani yang tidak tahu budaya ini  ibaratnya pucuk pohon cemarah yang selalu ikut arah angin, sehingga generasi mudah migani tidak mampu membedakan mana yang harus di lakukan,.? Mana yang Tidak boleh di lakukan,.? Mana yang baik dan mana yang tidak baik,.? Karena gaya dan cara generasi mudah migani mengikuti pucuk pohon cemarah yang selalu ikut arah angin.
Hal  ini terutama dilihat dari mudah -mudi migani yang selalu dan selalu menerapkan budaya suku bangsa orang lain, bahkan saat ini orang -orang Tua Migani pun mengikuti budaya orang lain. Hal ini membuktikan bahwa manusia migani Mungkin sudah tidak mengenal “Jati Diri atau Budaya” migani. Sesuai pantauan Komunitas Mahasiswa Independen Somatua Intan Jaya (KOMISI) telah melihat generasi migani maupun Orang Tua Migani saat ini tertarik dengan sebuah maknet buatan manusia atau lagu sapusa. 

Karel Sondegau
Maknet buatan manusia atau lagu sapusa begitu dinyanyikan oleh seseorang, maka semua orang yang mendengar lagu sapusa akan terjerumus, terbius dan akan dibius betul-betul oleh lagu sapusa, sehingga semua orang yang mendengarkan lagu sapusa tidak bisa menahan diri, karena irama lagu sapusa memang benar-benar ibarat sebuah MAKNET yang dapat menarik semua orang yang mendengarkan lagu sapusa untuk masuk TERPERANGKAP di dalam lagu yang dinyanyikan.

Irama lagu sapusa ibarat sebuah maknet yang dapat menarik sebuah benda yang sangat besar, sehingga semua orang yang mendengar akan terbius dan dibius betul-betul.

Begitu semua orang sudah tertarik, terperangkap, terbius dan dibius oleh irama lagu sapusa, maka semua orang yang menyanyi lagu sapusa akan menggerakan seluruh anggota tubuh sambil tangan mereka menunjuk-nunjuk apapun yang ada disekitar mereka. Nah disinilah para penyanyi lagu sapusa mempunyai kesempatan untuk main-main kode berupa Mata, Tangan dan Otak mereka untuk saling panas-memanaskan antara satu sama yang lain, sehingga seluruh anggota tubuh dari para penyanyi akan tergerak untuk merabah-rabah, menunjuk-nunjuk apapun yang ada disekitar mereka dan disaat itu otak dan mata mereka sudah melayang-layang, bagaikan layang-layang yang ikut arah agin, sehingga dengan mudah mereka meraba-raba apapun yang mereka inginkan untuk menimbulkan dan meningkatkan hawa nafsu mereka. Inilah yang dikatakan KOMISI maknet buatan manusia penghancur unsur-unsur budaya migani.


Generasi Migani harus sadar bahwa; Tuhan Allah atau Emmoo tidak berikan budaya Sapusa pada moyang migani, namun generasi migani bawa/dapat budaya sapusa dari mana? Dan apakah ada keuntungan dari lagu sapusa? Atau apakah tidak ada efek samping yang menghancurkan nilai-nilai budaya migani?


Pada jaman dahulu moyang migani biasa menyanyi “Miga  Jamo  atau nyanyian khas suku migani” saat ini sudah jarang dinyanyikan lagi dan pakaian berupa Gosaga atau koteka dengan menggunakan Sila Mbisi dan Koe Mbisi serta Walamu sudah tidak namapak lagi saat ini. Padahal orang tua migani biasanya menggunakan Kulit kayu khusus dari Toge Ala, Kuli Ala dan Dewa Ala, sedangkan orang tua wanita Migani biasanya memakai pakaian berupa Sabo atau cawat.  Sabo/cawat biasanya menggunakan kulit kayu khusus berupa Soabutu Sabo, Pugi Sabo, mbunegge Sabo, Dale Sabo, Butala Sabo dan Mani Sabo. Namun semua unsur-unsur budaya migani tidak nampak dalam segala aktivitas saat ini.

Generasi migani saat ini sudah tidak ada kesadaran dan mereka akan kehilangan kesadaran untuk meneruskan warisan budaya dari nenek moyang migani seperi  Miga  Jamo, miga I  ,  Sila Mbisi, Koe Mbisi, Toge Ala, Kuli Ala, Dewa Ala, Soabutu Sabo, Pugi Sabo, mbunegge Sabo, Dale Sabo, Butala Sabo dan Mani Sabo, maka semua ini akan di telan oleh bumi ini.

Saat ini generasi migani harus sadar dan kembali pada jati diri atau budaya migani yang telah diwariskan oleh moyang migani. Jika saat ini generasi migani tidak meneruskan dan tidak menerapkan unsur-unsur budaya migani, maka budaya migani akan di TELAN Oleh Bumi ini.

KOMISI melihat unsur-unsur budaya migani yang lain  sudah  mulai ditelan oleh bumi ini, jika generasi migani saat ini tidak punya kesadaran untuk menerapkan dan meneruskan  unsur-unsur budaya migani, maka budaya migani sedang menuju  pemusnahan dan jika generasi migani tidak melestarikan budaya migani, maka budaya migani akan di telan oleh bumi ini. Maka disinilah akan tercatat sebuah Sejarah bahawa nenek moyang migani pernah menggunakan/memakai nyanyian adat, pakaian adat dan rumah adat dan unsur-unsur budaya lainnya seperti ini, namun semuanya “TELAH DITELAN” oleh Bumi ini.

Salam Perubahan…!!!

Kutukan Sumberdaya Alam

OPINI-Menurut George Soros dalam kata pengantar buku “ Berkelit Dari Kutukan Sumberdaya Alam” mengatakan  Kutukan sumberdaya alam adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan kegagalan negara-negara kaya sumber daya alam untuk mengambil manfaat dari berkah kekayaan yang mereka miiki. Sebaliknya, banyak negara kaya sumber alam yang lebih menderita dibanding negara negara yang kurang beruntung mendapat kelimpahan yang sama.  
Ilustrasi: Foto Helikopter Minerserve di Intan Jaya
 Gambaran ini terpampang jelas di Afrika. Kongo, Agola dan sudan diguncang perang saudara, sedangkan Nigeria menderita akibat wabah korupsi, sementara negera-negara yang minim sumber daya alam dan sama melaratnya seperti Burkina Faso dan Ghana justru bisa hidup damai dan menerapkan pemerintah demokrasi.

Untuk mengeksploitasi sumberdaya alam, perusahaan-perusahaan migas asing perlu mendapat konsesinya lebih dulu. Mereka hanya bisa memperolehnya dari rejim yang berkuasa, tapi dalam hal ini rejim-rejim tersebut bukanlah prinsipalnya. Mereka adalah wakil rakyat.
Para penguasa mendapatkan imbalan mereka dari perusahaan-perusahaan asing tersebut, bukan dari rakyat yang kepentingannya justru harus mereka lindunggi. Dengan sumber kekayaan itu, para penguasa itu memiliki modal yang lebih kuat agar tetap berkuasa dan punya kemampuan finansial besar dalam gegaman, ketimbang para penguasa negara – negara miskin sumber alam. Itu menjelaskan mengapa negara – negara kaya sumberdaya alam menjadi kurang demokrasitis dan kerap jatuh ke tangan para penguasa represif.
Negera -negara itu juga mudah terperangkap ke dalam perang saudara. Ini adalah kunci persoalan per-Agenan dan sumber utama kutukan pendapatan dari hasil kekayaan alam. Disebut asimetris karena kutukan itu hanya menimpa prinsipal disatu pihak, alias rakyat di negera bersangkutan, dan bukannya menimpa pihak lain, yakni para pemilik perusahaan migas.

Para manajer perusahaan ini secara loyal mewakili kepentingan perusahaan migas tempat mereka bekerja, dan itu termasuk melakukan segala cara untuk mendapatkan konsesi dengan ketentuan yang paling menguntungkan. Dimasa lalu, cara yang lazim dilakukan termasuk menyogok dan bilamana perlu menggunakan tekanan terhadap penguasa negera-negara kaya sumber alam.

Kutukan sumber daya alam ini punya sejarah yang cukup kelam. Perusahaan-perusahaan migas internasional kerap mendapatkan dukungan dari pemerintah negeri asal masing-masing. Secara rutin perusahaan-perusahan itu menyuap para penguasa dan berkolusi, dengan tidak mengungkapkan secara terbuka angka pembayaran hasil bumi yang sebenarnya.
Mereka juga bisa campur tangan dengan menempatkan orang yang tepat di tampuk kekuasaan, atau bahkan kadangkala menyokong pemberontakan bersenjata dengan harapan mendapatkan konsesi.  Belum lama ini, perusahaan-perusahaan yang berasal dari Amerika Serikat terkena batasan aturan yang dinamakan Foreign Corrupt Practices Act, demikian bergabung dalam OECD Ikut terkena undang-undang anti-penyuapan ini.

Perusahaan-perusahaan terbuka, yang sahamnya diperdagangkan di bursa saham, juga mendapat tekanan opini publik, dan sejumlah perusahaan mengikuti jejak British Petroleum yang sudah mengembangkan standar etika sendiri. Tapi, sejarah belumlah berakhir.
Pembatasan yang dikenakan pada perusahaan-perusahan migas tidak berlaku terhadap Rusia, China, atau India. Masih banyak operator internasional yang juga tidak terkena imbas pembatasan itu. Degan demikian perubahan tanpa henti terhadap sumberdaya alam terus berlanjut tanpa bisa dicegah.
Sepanjang sejarah, perusahaan-perusahaan migas selalu mendapatkan keuntungan dari informasi asimetris dan kekuatan tawar yang juga asimetris. Itu sebabnya mereka mampu mencengram sebagian besar kekayaan sumberdaya alam di negara -negara miskin.


Proyek TNI/POLRI Di PT. Freeport
Ilustrasi: Proyek TNI/POLRI Di Freeport
Polisi  adalah pemegang Otoritas keamanan spil, keamanan  domestik di Indonesia, jadi tidak perlu dibuka  peluang kepada institusi lain untuk terlibat di dalam pengamanan Freeport. Institusi lain boleh terlibat apabila mereka punya batalyon atau kompi yang ditempatkan didekat areal operasi Freeport, katakanlah misalnya Freeport itu ada di Mile 78, mile 68 dan lain sebagainya, maka dalam laju sekian kilo meter katakanlah di kota Timika itu ada markas batalyon, kostrad atau markas kompi kopasus.

Kopasus dan Tentara akan difungsikan, digunakan atau dimanfaatkan  apabila terjadi gangguan keamanan yang sangat serius dimana atas permintaan polisi sebagai pemegang kualitas keamanan spil kalau mereka hadir,  bukan dengan mencoba membuka ruang dimana Kopasus dan Tentara bisa terlibat.

Dalam konteks ini, ketika terjadi penembakan, pembunuhan diareal di pertambagan Freeport, maka itu sangat membingungkan polisi untuk melakukan Investigasi, kalau penembakan itu terjadi di areal atau Ring yang dijaga oleh Kopasus dan Tentara sementara Tentara dan Kopasus difungsikan untuk dijaga satu kali dua puluh empat jam (1 X 24 Jam) terjadi penembakan disitu, bagiman polisi bisa melakukan penyelidikan secara bebas, pasti akan ada gangguan-gangguan, pasti ada ring yang mempengaruhi untuk tidak bisa dapat fakta  yang aktual.

Kita harus berpatokan pada Undang-Undang  yang berlaku di negara ini bahwa yang berkuasa menjaga keaman domestik di Indonesia adalah polisi.

              Tentara dan kopasus adalah institusi pertahanan yang hanya menjaga keaman dari ancaman musuh, kalau misalnya negara lain yang mau melakukan penyerangan terhadap PT. Freeport atau mau merusak Freeport, maka institusi TNI menjadi bagian dari tugasnya. Dalam menjaga keamanan di areal Freeport lebih relawan kalau di jaga oleh polisi sebagai keamanan domestik di Indonesia.

Pemerintah harus menaati aturan yang sudah ada, yaitu pemerintah memberikan wewenang sepenuhnya kepada polisi, sebab polisi adalah pemegang Otoritas keamanan spil dan keamanan  domestik di Indonesia. Jika wewenang itu tidak diberikan kepada polisi, maka yang jelas akan ada penembakan sepanjang PT. Freeport masih beroperasi di Timika.


Pertambangan Di Intan Jaya

Ilustrasi: Pipa Bor di Intan Jaya
Tepatnya tanggal 28 september tahun 1991 PT. Mineserve Internasional atau PT. Eksplorasi Nusa Jaya masuk operasi eksplorasi di Sugapa dan beberapa Distrik lainnya di Intan Jaya tanpa melakukan Perjanjian Kerja Sama dengan masyarakat pemilik hak ulayat. Walaupun Perjanjian Kerja Sama belum dibuat PT. Mineserve Internasional atau PT. Eksplorasi Nusa Jaya dengan masyarakat pemilik hak ulayat, namun PT. Mineserve Internasional memaksakan nafsunya untuk tetap melakukan Eksplorasi di Sugapa, sehingga masyarakat tinggal menerima dengan usulan  tanpa tertulis kepada PT. Mineserve Internasional  bahwa memperbolehkan melakukan aktifitas Eksplorasi, tetapi sebagai ganti rugi pepohonan yang ditebang  oleh PT. Mineserve Internasional untuk helipad, drillpad, material pad dan lain- lain harus menerima masyarakat setempat sebagai karyawan  di sugapa saat itu, tutur sala satu tokoh masyarakat  pemilik ulayat  yang dipercayai di kampung itu.

Dalam beberapa bulan kedepan eksplorasi di sugapa mulai berjalan lancer, namun karyawan lokal menerima upah mereka dalam jumlah yang sangat kecil. Perusahan juga meminta masyarakat setempat untuk menyiapkan papan dan kayu buah dengan perjanjian akan dibayar dengan harga RP. 15.000;- perlembar, kayu buah yang besar RP. 10.000;- dan kayu Buah Sedang sebesar RP. 5.000;- perbuah.
Mendengar informasi itu masyarakat setempat menyediakan bahan-bahan tersebut. Namun sangat disedihkan bagi masyarakat, karena dalam pembayaran tidak sesuai dengan perjanjian yang sudah disepaki oleh PT. Mineserve Internasional, malah harus ditawar lagi menjadi harga yang paling rendah dan dibelinya. Jika masyarakat setempat protes dalam transaksi tersebut, maka harus berhadapan dengan Tentara dan Polisi yang bertugas saat itu, seperti yang dialami oleh Linus Sondegau yang pukul sampai babak belur yang menyebabkan perkelahian masal antara Tentara, Polisi dan karyawan lokal.

Flora dan fauna yang dirusakan oleh PT. Mineserve Internasonal selama Lima Belas tahun lebih belum dibayar sampat tahun 2014 ini dan juga sebagai kewajiban perusahan untuk menanam pohon diareal yang dirusakan belum dilakukan. 

Komunitas Somatua Sebagai Penghubung/Media
Ilustrasi: Sosialisasi Komisi Tahap ke-2
Dengan melihat, mempelajrai, mendengar dan merasakan berbagai peristiwa di Tanah Papua dan di umumnya dunia, maka pelajar dan mahasiswa kota studi jayapura telah membentuk sebuah wadah yang diberi nama KOMISI “Komunitas Mahasiswa Independen Somatua Intan Jaya” pada hari kamis tanggal dua puluh empat Februari tahun dua ribu sebelas dengan Visi “Memproteksi/Melindunggi Alam dan Manusia Intan Jaya” dan dengan motto atau semboyan “Bertolak Dari Diri Kembalilah Ke Jati Dirimu”.

KOMISI Menjadi penghubung antara akar rumput, masyarakat, pemerintah dan para investor yang akan masuk di kabupaten intan jaya, dengan tujuan bahwa pemerintah, perusahan dan masyarakat sama-sama merasa senang, jadi tidak ada pihak yang dirugikan. Oleh sebab itu pemerintah kabupaten intan jaya musti melibatkan semua pihak; Mahasiswa, Intelektual, Tokoh Gereja, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda, Tokoh Wanita dan semua orang yang mempunyai kepentingan dengan alam intan jaya.

Diharapkan Pemerintah kabupaten intan jaya cari waktu yang tepat, yaitu antara Bulan Juni, Juli sampai Agustus 2014 agar setiap mahasiswa dari setiap kota studi musti ada di intan jaya untuk satukan pemahaman dan memasukan Perusahan Tambang, Emas dan kekayaan alam lainnya, karena masyarakat di kampung-kampung pemahaman-nya sangat sempit sehingga masyarakat dikampung-kampng akan katakan YaH,…Yah,..Yah,..Yah,..Yah,..Masukan Perusahann Sudah, tapi sayang masyarakat kan tidak tahu dampak dari perusahan tambang, oleh sebab itu pemerintah kabupaten intan jaya musti ambil waktu di bulan JUNI, JULI dan AGUSTUS 2014 agar semua Mahasiswa dari setiap kota studi hadir dan satukan pemahaman untuk memasukan perusahan tambang, emas dan lain-lain, Jika pemerintah kabupaten intan jaya tidak menyediakan waktu yang tepat lalu menghadirkan pihak investor dan masyarakat saja lalu membuat kesepakan sepihak untuk memasukan perusahan, maka perusahan itu tidak sah/ illegal maining.
Semoga tulisan ini disampaikan kepada pihak-pihak terkait demi menyatukan pemahaman untuk memasukan pertambangan yang direncanakan pada tahun 2014 ini.
“Bertolak Dari Diri Kembalilah Ke Jati Dirimu”

Masyarakat Intan Jaya Butuh Pemahaman

INTAN JAYA-Masyarakat pedalaman papua sudah bercocok tanam dengan pohon kopi dan khususnya pedalaman Intan Jaya. Pohon Kopi sudah di tanam di pinggiran-pinggiran rumah warga sejak dahulu dan membusuk dengan sendirinya. Saat ini penanaman pohon kopi sedang di upayakan oleh pemerintah Kabupaten Intan Jaya melalui dinas Kehutanan dan Perkebunan kabupaten Intan Jaya agar masyarakat lebih mandiri dan profesional dalam usaha penanaman pohon kopi.

Bosko Hagisimijau
Usaha penanaman pohon kopi sebaiknya pemerintah jangan hanya memberikan modal awal saja, namun di samping itu pemerintah harus memberikan pemahaman mengenai cara memanfaatkan modal awal yang sudah ada, karena masyarakat pada umumnya belum bersekolah dan belum mengerti bagimana mengembangan usaha-usaha untuk meningkatkan usaha dengan modal yang sudah ada. Jika pemerintah tidak memberikan pemahaman yang baik, maka yang jelas usaha-usaha dari masyarakat akan mati.
Untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai usaha-usaha kecil di bidang perkebunan bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan dinas-dinas terkait, numun Intelektual  di bidang pertanian sangat dibutuhkan untuk memberikan pemahaman yang baik dan benar mengenai bagimana menanam pohon kopi dan mengembangkan usaha -usaha yang telah dan sudah di lakukan oleh masyarakat, agar kedepan masyarakat dengan sendirinya bisa mandiri dan frofesional dengan usaha-usaha yang mereka lakukan.

Pada bulan Agustus 2012 di Sugapa Intan Jaya sebagian masyarakat telah berhasil dalam upaya pengembangan penanaman dan pengelolaan kopi. Disaat itu saya sempat ke rumah Bapak Bosko Hagisimijau di Bomudinggipa kampung Titigi untuk diwawancarai tentang usaha-usaha kopi. Walaupun usianya sudah tua, namun Bapak Bosko memiliki sifat kerja keras dalam usaha penanaman kopi, pengelolaan hingga pada pemasaran.

Bapak Bosko mengatakan bahwa; “Pohon kopi sudah ditanam sejak belum di mekarkanya kabupaten Intan Jaya dan Bapak Hagisimijau sudah berusaha semampunya, namun Hagisimijau mengalami banyak hambatan untuk memperbanyak anakan kopi berupa plastik folibek dan juga alat-alat bantu untuk menjemur kopi yang telah di kupas. Selain itu Bapak Bosko juga belum tahu berapa kilo yang akan jual/dipasarkan, karena Bapak Bosko belum bersekolah sehingga Bapak bosko tidak tahu cara menghitung timbagan hasil kopi yang sudah di jemurnya untuk di pasarkan”.

Tambahnya; Pada tahun 2010 yang lalu ada sala satu CV yang kerja sama dengan PT. Freeport pernah turun ke desa Titigi dengan menggunakan helikopter untuk menguji hasil kopi yang di tanamnya dan hasil uji  tersebut di nyatakan berkualitas sehingga Bapak Bosko biasanya menjual hasil kopi tersebut ke  CV yang dikelolah oleh PT. minersave Timika di Intan Jaya.

Dalam penjualan tersebut Bapak bosko sering mengalami kebingungan saat penjualan hasil kopi, karena Bapak bosko belum bersekolah, untuk itu dibutuhkan orang yang berpendidikan agar memberi pemahaman tentang  cara penanaman, pengelolaan dan juga cara pemasaran. Disisisi lain uang hasil penjualan kopi tersebut  tidak pernah disimpan untuk meningkatkan usahanya, tetapi uang hasil penjualan kopi tersebut selalu digunakan untuk menyelesaikan kebutuhan masalah sosial budaya setempat berupa Pembayaran denda pembunuhan, pembayaran mas kawin dan juga penyelesaian masalah sosial lainnya.
Tahun dua ribu tiga belas ini bapak Bosko tidak melajutkan usahanya, karena belum memahami benar tentang tata cara pengelolaan kopi yang benar untuk itu dimohon perhatian pemerintah di bidang perkebunan maupun dibidang lainnya agar kedepan masyarakat bisa mandiri dengan usah-usaha mereka, Semoga…..!!!





PERJALANAN SOSIALISASI TAHAP KE-2 OLEH KOMUNITAS SOMATUA

Foto: Martinus Nayagau
INTAN JAYA-Sosialisasi Tahap Ke-2 Komunitas Mahasiswa Independen Somatua Intan Jaya (KOMISI) yang menjadi ketua panitia Rufinus Japugau mengatakan bahwa; walaupun medan di Intan Jaya begitu berat untuk jalan kaki dari daerah ke daerah, namun kami tetap lakukan sosialisasi dari tahun ke tahun, karena pekerjaan ini merupakan pekerjaan rutinitas kerja dalam setiap tahun, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, senang tidak senang kami akan turun di setiap tahun dan pekerjaan ini juga merupakan suatu penghayatan akan hati Yesus, karena Yesus memihak kepada kaum miskin, lemah dan kaum yang dikorbankan dalam tatanan hidup masyarakat.

Sedangkan menurut sekretaris KOMISI karel Kobogau mengatakan bahwa; semua pekerjaan sosialisasi ini akan dikembalikan kepada Hukum Alam, sehingga siapapun yang tidak mendengar sosialisasi dari KOMISI,Maka alam-lah yang akan mengambil ahli, dalam arti bahwa; alam yang akan kutuk orang-orang yang mengorbankan masyarakat Intan Jaya atas alam Intan Jaya.
Sosialisasi tahap ke-2 di lakukan di Gereja – Gereja di Distrik Sugapa dan Distrik Homeyo.
KOMISI lakukan sosialisasi tahap ke – 2 dimulai dari gereja Baitapa pada hari minggu tanggal 22 juli 2012. Sosialisasi ke-2 dilakukan di Gereja Magalogae pada hari minggu tanggal 29 juli 2012. Dan hari kamis tanggal 3 Agustus 2012 kami bagi anggota untuk ke Distrik Homeyo dan untuk ke Titigi dan Joambilli di Distrik Sugapa.Yang pergi sosialisasi di distrik Homeyo, kabupaten  intan jaya, dibawa pimpinan Karel Kobogau bersama ketua panitia sosialisasi Rufinus Japugau dan yang ke Titigi dibawa Pimpinan Misael Maisini bersama Martinus Selegani. 

Foto: Tonce Sondegau
Yang ke Distrik Homeyo; Tonce Sondegau, Aprianus Tipagau, Arnol Bagubau, Martinus Nayagau, Maximus Japugau, Yulianus Japugau, Thomas Nayagau, Rufinus Japugau, Emanuel Japugau, Kerel Kobogau, Hans Nayagau, Omil Jagani, sedangkan yang pergi sosialisasi di Titigi dan Joambilli adalah; Demos Nambagani, Martinus Selegani, Misael Maisini, Philipus Nambagani, Misael Sondegau, Arson Janambani, sedangkan yang jaga sekertariat KOMISI di Kompleks Misi Katolik di Bilogae adalah Kristianus Selegani dan Yustinus Selegani.  Sosialisasi yang dilakukan di Distrik Homeyo dimulai di Pogapa pada hari sabtu tanggal  4 Agustus 2012 yang dimulai dari jam 06.00 – 12.00 wpb. Yang menjadi pembawa materi dalam sosialisasi ini adalah KOMISI yang dibagi dalam beberapa bidang, yaitu diantaranya bidang; Budaya,Tanah,Pertambangan dan HIV/AIDS.

Yang membawa materi tentang Budaya Adalah Aprianus Tipagau, Ketua Panitia Rufinus Japugau, Arnold Bagubau dan Emiel Ulau dari Tokoh Pemuda, sedangkan yang membawa materi tentang Pertambangan adalah Martinus Nayagau dan Sekretaris KOMISI Karel Kobogau dan yang membawa materi tentang Tanah adalah Emanuel Japugau dan ketua panitia Rufinus Japugau dan yang membawa materi tentang HIV/AIDS adalah sekretaris KOMISI Karel Kobogau dan Tendi Bagubau. Sosialisasi ke-2 di Distrik Homeyo di lakukan di Bilai pada hari Selasa tanggal 7 Agustus 2012.

Dari hasil sosialisasi di Distrik Homeyo ketua panitia Rufinus Japugau mengatakan  bahwa; sudah mencapai hasil yang maksimal. Hasil maksimal ini ditandai dengan adanya dukungan dari kepala-kepala kampung,kepala suku,tokoh pemudah, tokoh perempuan,tokoh masyarakat dan juga tokoh gereja. Pada akhir sosialisasi KOMISI bersama masyarakat di Distrik Homeyo sudah melarang keras budaya SAPUSA dan budaya sapusa sudah toki meja oleh seluruh komponen masyarakat di Distrik Homeyo bahwa;  budaya sapusa bukan budaya suku migani di Intan Jaya.  Masyarakat di Distrik Homeyo juga berpesan agar KOMISI tidak berhenti di sini saja, tetapi harus turun sosialisasi dari tahun ke tahun.

Foto: Maximus Japugau
KOMISI Menyampaikan bahwa KOMISI akan mencoba  turun di setiap tahun dengan segala upaya untuk memproteksi alam dan manusia intan jaya dari bahaya kepunahan dan kehancuran. Pada hari kamis tanggal 9 Agustus 2012 anggota KOMISI yang lain ikut pesawat dengan bantuan masyarakat dan pastor paroki bilogae bersama  klasis Homeyo. Begitu semuanya kumpul di Bilogae – Sugapa Intan Jaya, maka KOMISI lanjutkan Sosialisasi di Bilogae pada hari sabtu dan minggu tanggal 11-12 Agustus 2012 dan Sosialisasi akan dilanjutkan di Wabo Agapa pada hari minggu tanggal 20 Agustus 2012.

Dari hasil sosialisasi di Distrik Sugapa dan Distrik Homeyo masyarakat pada umumnya kuatir akan Limba Tambang, karena masyarakat Intan Jaya pada umumnya berkebun dan bermukim di pinggiran kali Wabu, kali Dogabu, Kali Mbiabu dan kali-kali laninnya yang ada di Intan Jaya.
Sedangkan ditanya tentang HIV/AIDS Mereka sangat kuatir, karena baru pemekaran saja masyarakat malas kerja kebun, karena masyarakat intan jaya hanya harap enak, sehingga harga diri perempuan didaerah ini akan lebih murah dari harga gorengan di pasaran, sehingga masyarakat di daerah intan jaya akan dengan mudah kena HIV/AIDS. Masyarakat Intan Jaya juga usulkan ke KOMISI penagulangan HIV/AIDS Provinsi Papua agar orang-orang yang kena HIV/AIDS harus dipublikasikan dalam setiap bulan sekalian dengan gambar-gambar orang yang kena HIV/AIDS, agar masyarakat dapat melihat gambar-gambar tersebut.

Foto: Misael Maisini
Gambar tersebut bukan untuk menakuti masyarakat, tapi agar masyarakat bisa melihat dan percaya untuk mengatasi penyakit HIV/AIDS dengan  berbagai cara sesuiai dengan gaya dan cara mereka masing-masing,karena selama ini kami masyarakat tidak lihat upaya-upaya pemerintah provinsi papua dalam menangani bahaya HIV/AIDS secara terang-terangan, namun bahaya penyakit ini tidak pernah di tempel di tempat – tempat umum seperti baliho-baliho, agar masyarakat pada umumnya bisa tahu tentang jumlah penderita HIV/AIDS di Papua.
Akhir dari sosialisasi itu Komunitas Mahasiswa Independen Somatua Intan Jaya (KOMISI)  Menyatakan kesimpulan mereka dalam bahasa setempat dengan sebuah Istilah“ I  Kago Biawagaa tau gedigioo, Biawaga tau indi diago, ndugu ngga digi tuyago daune, sagene, digi saita munipamagata tope ndaya, mundia damagata Enoa hititogogo Himata Nuaoo ta ditogogo, Alu iwa bega; Ndunine, punine datage ogotidegapa hegaidogogo, Biawaga tau ogondogogo mundama iwa diwidio, dajigigi Biawaga tau digige hidiagoo; Dinuwa ago allu tawa diandoggo, mundama iwa, hewagatogama iwa diadegaoo”.   
 Kami KOMISI merupakan sebuah burung yang tidak punya sayap yang selalu merawat dan membesarkan buah merah dan buah jambu. Begitu buah itu sudah besar, kami KOMISI Tidak pernah nikmati buah tersebut, karena kami KOMISI tidak punya sayap, sehingga buah-buah itu dinikmati oleh burung-burung yang punya sayap.
                                                                     Sugapa-Intan, Selasa 22 Agustus 2012
                           “Kekompakan, Kesepakan dan Kesemangatan Kita Adalah Kekuatan Kita”