AKU MENGHARAPKAN IBUKU YANG DIAM MEMBISU
Aku sudah kehabisan kata – kata
Aku sudah tak berdaya lagi
Mereka melihatku seperti aku orang asing dinegeri ini
Mereka memandangku seperti binatang buas yang harus diburuh dan dibunuh
Aku tidak kenal mereka
Siapa mereka cobah lihat dipelabuhan dengan kapal putih
Cobah lihat dibandar udarah seluru papua
Siapa mereke
Penghuni dinegeri inipun seakan disuap dan disogok
Bahkan dibeli
Siapa mereka
Aku melihat mereka manusia tapi berbuluh serigala
Aku sakit melihat hal ini
Apakah ini akan terus dan terus berlanjut
Aku sudah tak berdaya
Aku hanya ingin belajar dan belajar untuk mengerti dan memahami mamaku
Biarlah mama menjawab keluhan ini
Aku rasa tidak ada jalan lain selain meminta mama untuk berbicara dan berteriak
Mama engkau yang bicaralah dan berteriaklah
Aku sudah tak sanggung lagi menerima semua ini
Aku percuma menjadi anjing jalanan
Aku ingin tungguh waktunya kapan mama berbicara dan berteriak
Aku ingin mengatakan bahwa;
“Yahweh Elohim Menciptakan Semua Manusia Didunia Dari Tanah,
Maka Kembalilah Ketanah”
PEMDA INTAN JAYA Dan SUBSIDI PENERBANGAN INTAN JAYA
Dari tahun ke tahun masyarakat selalu mengeluh masalah penjualan tiket penerbangan PT Merpati hingga kini PT. Aviastar Mandiri dengan tujuan Nabire – Soko Paki – Sugapa Intan Jaya. dulunya penerbangan Merpati melayani dengan membuking tiket sebelum satu minggu berangkat bahkan ada yang dua minggu. Disni masyarakat selalu dijadikan obyek dari polisi KP3 Udarah untuk mendapatkan uang dengan tujuan memberikan tiket luar secepatnya kepada masyarakat intan jaya.
masyarakat biasanya membayar melebihi penjualan tiket biasa, yaitu antara enam ratus ribuh rupiah sampai dengan lima ratus ribuh rupiah, harga sebenarnya adalah dua ratus ribih rupiah. Sehingga orang yang dapat tiket luar itu yang biasanya diberangkatkan duluan ke Sugapa.
Sedangkan masyarakat yang melalui jalur buking kadang berminggu minggu bahkan bulan mereka masih datang ke bandara Nabire untuk mengecek tiket penerbangan. Hal ini membuat masyarakat selalu ribut dari minggu ke minggu bahkan tahun hanya untuk mendapatkan tiket secepatnya dan berangkat ke Sugapa.
tidak ada jalan kelur yang terbaik untuk mendapatkan tiket, karena masyarakat Intan Jaya pada umumnya berada di Nabire, wah,… kenapa masyarakat Intan Jaya sebagian besar berada di Nabire, Intan Jaya kan sudah ada kabupaten too,… kenapa harus bermukim di Kabupaten lain.
Akhir – akhir ini sering terjadi keributan hanya masalah tiket untuk berangkat ke Intan Jaya. tepatnya pada hari sabtu 09 Juli 2011 pukul 10.35 terjadi keributan di agen Aviatar Mandiri. Hal ini bemula dari sala satu tokoh pemudah asal intan jaya, Jhon Sani yang ingin menanyakan tiketnya yang sudah dua minggu dibuking dan sudah dibayar kepada agen Aviastar Mandiri, namun agen tidak menjawabnya dengan baik sehingga membuat Jhon marah akhirnya terjadi keributan.
Keributan macam ini tidak mungkin terjadi dan ini bukan baru pertama kalinya terjadi, karena penerbangan subsidi bagi masyarakat selau diambil ahli oleh Pemerintah Kabupaten Intan Jaya, sebenarnya hari – hari penerbangan subsidi sudah diatur, yaitu hari senin, Selasa, kamis dan Jumat bagi masyarakat, sedangkan hari rabu dan sabtu bagi Pemerintah sehingga pemerintah jangan mempersempit ruang masyarakat, kata Benyamin Maisini.
Ditempat yang sama sala satu masyarakat mengatakan bahwa harus mencari jalan kelur yang tebaik agar kedepan tidak tejadi keributan. Dia menambakan bahwa penerbangan subsidi seharusnya untuk masyarakat bukan untuk pemerintah, sehingga pemerintah jangan ambisi dengan penerbangan untuk masyarakat. Pemerintah harus pake regular atau ektra, karena setiap pemda Intan Jaya mau keluar masuk perjalanan dinas makai penerbangan Subsidi.
Hal ini mempersempit ruang gerak masyarakat sehingga selalu terjadi keributan. Untuk mengatasi keributan itu harus ada jalan kelur yang dapat dibicarakan oleh pemda Intan Jaya bersama Agen Aviastar, jangan salakan agen karena Agen hanya menjalankan tugas yang dipercayakan Pemda, sehingga mau tidak mau suka tidak suka harus turuti keinginan pemda Intan Jaya, kata masyarakat yang tidak mau namanya disebut.
Hal yang senada diungkapkan oleh Hengki Mujijau bahwa yang selama ini menjadi halangan bagi masyarakat adalah dengan dikontraknya pesawat untuk membawa bahan bangunan ke Intan Jaya dan juga Pemda Intan Jaya tinggal kontak ke Agen Aviastar bahwa tolong sediakan tiket secepatnya untuk keluarga Pemerintah yang mau berangkat ke Intan Jaya. hal ini membuat agen Aviastar juga bingung, sehingga mau tidak mau harus sediakan tiket untuk keluarga pejabat.
Menurut penulis yang menjadi keributan selama ini di Agen Merpati maupun Agen Aviastar di Nabire adalah dengan kehadiran Pemerintah Kabupaten Intan Jaya di Kabupaten Nabire, sehingga masyarakat Intan Jaya sebagian besar turun dari Intan Jaya mengejar pemda Intan Jaya, karena masyarakat mau sampaikan keluhan mereka sama siapa di Intan Jaya,..? dan juga masyarakat Intan Jaya sudah cukup puas dengan adanya Pemda ditengah – tengah mereka dan berbaur dengan mereka, sehingga keluhan – keluhan masyarakat bisa disampaikan secara lisan maupun tulisan dan juga dengan kehadiran pemda di tengah – tengah masyarakat terjadilah perputaran uang, sehingga yang jelas masyarakat sebagian besar tidak mungkin turun ke Nabire dan tinggal di Nabire selama beberapa minggu bahkan bulan, karena pemda pada umunya sudah ada di Intan Jaya.
“Ora Et Labora”
Salam Perubahan,….!!!
Apa Yang Engkau Tabur Kini, Engkau Akan Menuainya
GURU HARAPAN KU
*) Komisi
Sebelum mengawali tulisan ini, kami (Komisi) ingin naikkan pujih dan syukur kepada Yesus dari Nazareth yang selalu menjaga, melindunggi serta menuntun kami dalam setiap langka hidup kami. Kami akan menulis teladan yang patut kami turuti dari Guru kami Yesus Kristus dari Nazareth.
Yesus merupakan guru kami yang selalu mengajarkan kebenaran dan keadilan dalam hidup ini. Yesus melayani semua umat manusia dengan terlibat penuh dalam seluk - beluk kehidupan umat- Nya dan akhirnya Yesus Wafat dikayu salib atas dosa – dosa umat manusia.
Yesus mengajarkan kebenaran dan keadilan dalam hidup dan kehidupan masyarakat setempat saat itu adalah dengan berbaur dengan masyarakat setempat secara langsung. Hal ini merupakan suatu ajaran yang sangat mulia untuk diteruskan bagi orang – orang yang berbicara mengenai kebenaran dan keadilan dimana saja mereka berada. Untuk menyatakan kebenaran dan keadilan haruslah berupa tindakan yang nyata untuk melayani sesama manusia.
Berdasarkan pengalaman Yesus berupa tindakan nyata, maka kami patut mengikutinya untuk melakukan sesuatu yang bisa kita lakukan untuk sesama kita. Kita tidak perlu dengan hal- hal yang lebih besar, tetapi mari kita lakukan sesuai kemampuan kita, sebab Tuhan Allah sudah menaru kelebihan (Talenta) di dalam diri tiap – tiap pribadi.
Tulisan ini bertolak dari pengalaman kami (Komisi) selama sosialisasi pada bulan Juli sampai dengan Agustus di Kabupaten Intan Jaya. sebelum berangkat menuju Enarolai Ibu kota Kabupaten Paniai ada beberapa Guru yang baru turun dari Intan Jaya mengatakan kepada kami (Komisi) bahwa apa yang akan terjadi pada generasi yang akan datang, karena kami guru – guru sudah tidak mau mengajar, ada sebagian guru – guru yang masih mengajar karena adanya rasa kasih sayang akan generasi yang sedang bertumbuh dan juga guru – guru tersebut takut akan Tuhan dan Takut akan Masyarakat, takut bukan Guru – Guru itu akan dibunuh oleh masyarakat, namun karena Tuhan sudah menempatkan mereka sebagai Guru sehingga mereka tekun dan penuh setia dengan pekerjaan yang Tuhan Berikan sebagai Guru.
Masa depan kabupaten Intan Jaya akan hancur, karena hak – hak kami sebagai guru tidak diperhatikan secara baik. Mau mengambil hak kami harus ada keributan antara atasan dan bawaan. Hal seperti ini membuat kami kecewa sehingga kamipun tidak ingin mengajar.
Setelah mendengarkan hal itu kami (komisi) mulai bergerak ke Arah Paniai dengan menggunakan Strada yang dipake oleh komisi. Kami bermalam disana dan melanjutkan perjalanan kami dengan menggunakan perahu jongsong milik masyarakat setempat, setibanya di Pasir Putih kami melanjutkan perjalanan kami ke Ibosiga kapung perbatasan antara Paniai dan Intan Jaya.
Setelah bermalam disana besok harinya kami lalui gunug, bukit, gua sambil menikmati panorama Intan Jaya. setelah kami lalui beberapa kampung, gunung, sungai dan kami tiba disalah satu kampung tepatnya hari sabtu sore tanggal 23 Juli. Besoknya setelah ibadah kami jumpai kepala sekolah SMP setempat tepatnya pukul 1. 42 WP.
Kepala Sekolah itu mengatakan keluhannya kepada komisi bahwa apa yang adik – adik lakukan untuk memberi pemahaman kepada masyarakat sangat baik untuk generasi, karena berbagai persoalan didaerah ini harus dibicarakan oleh mahasiswa/wi guna mengoreksi dan meluruskankan apa yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat.
Saya sudah tugas disini selama beberapa tahun dan saya sangat beta tinggal bersama masyarakat, namun yang menjadi keluhan saya adalah tidak ada guru tetap yang mengajar dan juga tidak ada kepala sekolah di sebagian sekolah – sekolah yang sudah dibangun.
Kami juga sangat membutuhkan fasilitas sekolah yang dapat mempermudah proses belajar mengajar, sehingga Kami mohon kontribusi dari pemerintah. Kami kekurangan bahan tulis seperti Kapur dan lain – lain dan sampai saat ini Dana Bos Triwulan belum kami terima.
Disini tidak ada guru tetap dan juga tidak ada kepala sekolah, karena guru – guru tersebjut sudah masuk dinas P & P,tetapi masih menerima dan makan Dana Bos dari sekolah – sekolah ini. Sehingga harapan saya kepada adik- adik sekalian adalah bagimana adik- adik menyuarakan aspirasi ini, agar guru – guru bisa beta ditempat ini dan mengajar dengan penuh setia, karena generasi penerus merupakan tulang punggung masyarakat, gereja, pemerintah dan negara. Bagimana menurut adik – adik..? kalau anak – anak SD tidak dibina oleh gurunya secara baik,..?
Kami (komisi) menjawab benar Bapak, yang paling mendasar adalah Sekolah Dasar (SD), sehingga kedepan harapan kami adalah hak – hak Guru SD harus diperhatikan secara baik dan benar.
Berdasarkan pengalaman cerita dari seorang guru yang bukan putra daerah setempat, namun dia tetap beta dan melayani masyarakat dan generasi setempat. teladan guru ini sangat baik dan patut ditiru, karena dia bukan putra daerah setempat namun dia sudah mengapdi bertahun – tahun disana.
Sebaliknya putra daerah setempat tidak beta melayani masyarakat dan generasi setempat namun makan gaji buta. orang – orang seperti itu menurut kami (komisi) akan menjadi Virus untuk orang – orang yang lain, sehingga Daerah dan generasi akan hancur.
Menurut Komisi Guru SD merupakan dasar yang dapat membuka pandangan seseorang untuk orang tersebut mencari dan menemukan jati dirinya sebagai manusia yang sebenarnya, sehingga dikemudian hari Guru – Guru SD, SMP, SMA di Kabupaten Intan Jaya harus menambakan hak – hak mereka terutama Guru – guru SD,karena Guru SD yang membentuk pola pikir seseorang, bila perlu tamba lagi dan tamba lagi,…!!!
Dulu gereja sebagai aktor utama untuk menyelenggarakan pendidikan dan dapat mencetak kader – kader bermutuh. Namun sekarang justru terbalik; keterlibatan lembaga negara dan instansi lainya justru menghasilkan kehancuran pendidikan dimana – mana. Situasi ini tidak bisa dibiarkan, karena orang yang tak terdidik akan menjadi penonton dan obyek turis belaka. Mereka akan tergilas oleh arus globalisasi, tergusur secara sadar maupun tidak sadar oleh banjir peradaban baru.
Orang tak terdidik tidak mampu mempertahankan diri sendiri, sulit menyesuaikan diri dengan arus perubahan dan perkembangan, susa membaca tanda – tanda jaman dan kurang mampu membuat perbedaan antara yang baik dan yang jahat, yang bisa dan tidak bisa, yang membangun dan menghancurkan, sehingga perlu memperhatikan dan menyukseskan proses pendidikan yang sudah ada dan sedang ada agar tidak menjadi mati tetapi ada harapan ke depan yang lebih cerah,..Semoga,…!!!
Tulisan ini mengajak semua pembaca untuk mencari jalan keluar yang terbaik untuk generasi penerus Kabupaten Intan Jaya dan juga untuk saling melengkapi satu sama yang lain. Jangan kita mengatakan masa depan gereja dan bangsa milik anak cucu dan ada di tangan kaum muda ternyata mereka tidak pernah dipersiapkan dan di didik secara sungguh – sungguh dan serius demi masa depan itu.
Akhir dari tulisan kami (komisi) mau mengakatakan bahwa;
Tidak Ada Manusia Yang Sempurnah di Dunia Ini, Hanya Niat Yang Sempurna, Namun Kebenaran Bukan Datang Dari Orang Lain Atau Segala Sesuatu, Tetapi Kebenaran Berasal Dari Diri Anda Yang Bersumber Dari Yahweh Elohim.
Sebelum mengawali tulisan ini, kami (Komisi) ingin naikkan pujih dan syukur kepada Yesus dari Nazareth yang selalu menjaga, melindunggi serta menuntun kami dalam setiap langka hidup kami. Kami akan menulis teladan yang patut kami turuti dari Guru kami Yesus Kristus dari Nazareth.
Yesus merupakan guru kami yang selalu mengajarkan kebenaran dan keadilan dalam hidup ini. Yesus melayani semua umat manusia dengan terlibat penuh dalam seluk - beluk kehidupan umat- Nya dan akhirnya Yesus Wafat dikayu salib atas dosa – dosa umat manusia.
Yesus mengajarkan kebenaran dan keadilan dalam hidup dan kehidupan masyarakat setempat saat itu adalah dengan berbaur dengan masyarakat setempat secara langsung. Hal ini merupakan suatu ajaran yang sangat mulia untuk diteruskan bagi orang – orang yang berbicara mengenai kebenaran dan keadilan dimana saja mereka berada. Untuk menyatakan kebenaran dan keadilan haruslah berupa tindakan yang nyata untuk melayani sesama manusia.
Berdasarkan pengalaman Yesus berupa tindakan nyata, maka kami patut mengikutinya untuk melakukan sesuatu yang bisa kita lakukan untuk sesama kita. Kita tidak perlu dengan hal- hal yang lebih besar, tetapi mari kita lakukan sesuai kemampuan kita, sebab Tuhan Allah sudah menaru kelebihan (Talenta) di dalam diri tiap – tiap pribadi.
Tulisan ini bertolak dari pengalaman kami (Komisi) selama sosialisasi pada bulan Juli sampai dengan Agustus di Kabupaten Intan Jaya. sebelum berangkat menuju Enarolai Ibu kota Kabupaten Paniai ada beberapa Guru yang baru turun dari Intan Jaya mengatakan kepada kami (Komisi) bahwa apa yang akan terjadi pada generasi yang akan datang, karena kami guru – guru sudah tidak mau mengajar, ada sebagian guru – guru yang masih mengajar karena adanya rasa kasih sayang akan generasi yang sedang bertumbuh dan juga guru – guru tersebut takut akan Tuhan dan Takut akan Masyarakat, takut bukan Guru – Guru itu akan dibunuh oleh masyarakat, namun karena Tuhan sudah menempatkan mereka sebagai Guru sehingga mereka tekun dan penuh setia dengan pekerjaan yang Tuhan Berikan sebagai Guru.
Masa depan kabupaten Intan Jaya akan hancur, karena hak – hak kami sebagai guru tidak diperhatikan secara baik. Mau mengambil hak kami harus ada keributan antara atasan dan bawaan. Hal seperti ini membuat kami kecewa sehingga kamipun tidak ingin mengajar.
Setelah mendengarkan hal itu kami (komisi) mulai bergerak ke Arah Paniai dengan menggunakan Strada yang dipake oleh komisi. Kami bermalam disana dan melanjutkan perjalanan kami dengan menggunakan perahu jongsong milik masyarakat setempat, setibanya di Pasir Putih kami melanjutkan perjalanan kami ke Ibosiga kapung perbatasan antara Paniai dan Intan Jaya.
Setelah bermalam disana besok harinya kami lalui gunug, bukit, gua sambil menikmati panorama Intan Jaya. setelah kami lalui beberapa kampung, gunung, sungai dan kami tiba disalah satu kampung tepatnya hari sabtu sore tanggal 23 Juli. Besoknya setelah ibadah kami jumpai kepala sekolah SMP setempat tepatnya pukul 1. 42 WP.
Kepala Sekolah itu mengatakan keluhannya kepada komisi bahwa apa yang adik – adik lakukan untuk memberi pemahaman kepada masyarakat sangat baik untuk generasi, karena berbagai persoalan didaerah ini harus dibicarakan oleh mahasiswa/wi guna mengoreksi dan meluruskankan apa yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat.
Saya sudah tugas disini selama beberapa tahun dan saya sangat beta tinggal bersama masyarakat, namun yang menjadi keluhan saya adalah tidak ada guru tetap yang mengajar dan juga tidak ada kepala sekolah di sebagian sekolah – sekolah yang sudah dibangun.
Kami juga sangat membutuhkan fasilitas sekolah yang dapat mempermudah proses belajar mengajar, sehingga Kami mohon kontribusi dari pemerintah. Kami kekurangan bahan tulis seperti Kapur dan lain – lain dan sampai saat ini Dana Bos Triwulan belum kami terima.
Disini tidak ada guru tetap dan juga tidak ada kepala sekolah, karena guru – guru tersebjut sudah masuk dinas P & P,tetapi masih menerima dan makan Dana Bos dari sekolah – sekolah ini. Sehingga harapan saya kepada adik- adik sekalian adalah bagimana adik- adik menyuarakan aspirasi ini, agar guru – guru bisa beta ditempat ini dan mengajar dengan penuh setia, karena generasi penerus merupakan tulang punggung masyarakat, gereja, pemerintah dan negara. Bagimana menurut adik – adik..? kalau anak – anak SD tidak dibina oleh gurunya secara baik,..?
Kami (komisi) menjawab benar Bapak, yang paling mendasar adalah Sekolah Dasar (SD), sehingga kedepan harapan kami adalah hak – hak Guru SD harus diperhatikan secara baik dan benar.
Berdasarkan pengalaman cerita dari seorang guru yang bukan putra daerah setempat, namun dia tetap beta dan melayani masyarakat dan generasi setempat. teladan guru ini sangat baik dan patut ditiru, karena dia bukan putra daerah setempat namun dia sudah mengapdi bertahun – tahun disana.
Sebaliknya putra daerah setempat tidak beta melayani masyarakat dan generasi setempat namun makan gaji buta. orang – orang seperti itu menurut kami (komisi) akan menjadi Virus untuk orang – orang yang lain, sehingga Daerah dan generasi akan hancur.
Menurut Komisi Guru SD merupakan dasar yang dapat membuka pandangan seseorang untuk orang tersebut mencari dan menemukan jati dirinya sebagai manusia yang sebenarnya, sehingga dikemudian hari Guru – Guru SD, SMP, SMA di Kabupaten Intan Jaya harus menambakan hak – hak mereka terutama Guru – guru SD,karena Guru SD yang membentuk pola pikir seseorang, bila perlu tamba lagi dan tamba lagi,…!!!
Dulu gereja sebagai aktor utama untuk menyelenggarakan pendidikan dan dapat mencetak kader – kader bermutuh. Namun sekarang justru terbalik; keterlibatan lembaga negara dan instansi lainya justru menghasilkan kehancuran pendidikan dimana – mana. Situasi ini tidak bisa dibiarkan, karena orang yang tak terdidik akan menjadi penonton dan obyek turis belaka. Mereka akan tergilas oleh arus globalisasi, tergusur secara sadar maupun tidak sadar oleh banjir peradaban baru.
Orang tak terdidik tidak mampu mempertahankan diri sendiri, sulit menyesuaikan diri dengan arus perubahan dan perkembangan, susa membaca tanda – tanda jaman dan kurang mampu membuat perbedaan antara yang baik dan yang jahat, yang bisa dan tidak bisa, yang membangun dan menghancurkan, sehingga perlu memperhatikan dan menyukseskan proses pendidikan yang sudah ada dan sedang ada agar tidak menjadi mati tetapi ada harapan ke depan yang lebih cerah,..Semoga,…!!!
Tulisan ini mengajak semua pembaca untuk mencari jalan keluar yang terbaik untuk generasi penerus Kabupaten Intan Jaya dan juga untuk saling melengkapi satu sama yang lain. Jangan kita mengatakan masa depan gereja dan bangsa milik anak cucu dan ada di tangan kaum muda ternyata mereka tidak pernah dipersiapkan dan di didik secara sungguh – sungguh dan serius demi masa depan itu.
Akhir dari tulisan kami (komisi) mau mengakatakan bahwa;
Tidak Ada Manusia Yang Sempurnah di Dunia Ini, Hanya Niat Yang Sempurna, Namun Kebenaran Bukan Datang Dari Orang Lain Atau Segala Sesuatu, Tetapi Kebenaran Berasal Dari Diri Anda Yang Bersumber Dari Yahweh Elohim.
JOHN CUTTS DAN PT. FREEPORT DI INTAN JAYA
Intan jaya merupakan kabupaten pemekaran dari kabupaten Pania pada tahun dua ribu delapan lalu. pada saat itu Sugapa, Hitalipa dan beberapa daerah lainya di Intan Jaya masih di atur oleh pemerintah daerah Kabupaten Paniai. Pada awal tahun 1989-1990 datanglah beberapa orang barat yang menamakan diri Tim Survei. Tim survei ini diantar oleh anak pekabaran Injil di Distrik Hitalipa, yakni Jani mala, panggilan yang akrab dipakai oleh masyarakat setempat, nama sebenarnya adalah John Cutts.
Mereka datang dari Timika menggunakan Helikopter milik Airfast, setelah tibah di pos misionaris Kingmi Distrik Hitalipa mereka melanjutkan perjalanan ke Sungai Hiyabu yang letaknya tidak jau dari Pos misionaris tersebut. Setelah tibah di sungai tersebut mereka mengambil sampel berupa pasir, air dan batu-batuan dari sungai tersebut. setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke muarah sungai Hiyabu dan Dogabu lalu melanjutkan perjalanan ke muara sungai Wayabu dan Wabu dan melanjutkan perjalanan ke beberapa anak sungai dari kali Wabu. Mereka mengambil semua sampel dari sungai-sungai tersebut berupa pasir, air dan batu- batuan.
Di sungai wabu John Cutts sempat bertemu dengan sala satu warga setempat, yakni Stevanus Sondegau di Wandoga, yaitu di Wonemiggi talipa atau kali wonemiggi. John dan teman-temanyan terus melanjutkan perjalanannya ke muara sungai Tigabu dan mengambil sampel pasir,air dan batu-batuan lalu mendulang pasir. Saat itu John sempat bertemu dengan sala satu warga setempat, yakni Ojegoa Tawa Mbole Belau, nama setempat atau Didimus Belau. Didimus Belau merupakan warga Desa Bilogae Distrik Sugapa yang hari-harinya berladang Ubi, Keladi dan tanaman lainnya disepanjang sunagai Tigitalipa. Seperti biasanya John Cutts menggunakan bahasa setempat, yakni bahasa Moni, ia memberikan Informasi kepada Didimus mengenai kegiatan yang di jalaninya saat itu.
Kata John Cutts kepada Didimus dalam bahasa Moni “ A me,..mepao,..mendaga kaneta taliago kaya, Hitalipagemaya tali ne,..du ne,..homa ne,.. inigiao dia digio,. usua naga ndogo- Timika ge inua noa nggaga inuapa dutima dia diggiyo,.data kapage go wabu ge dega-dega data homeyo pialiggiyo dipage go Timika puapaya tutur John” artinya: mepa saya ikut orang-orang ini jalan ambil air, batu dan pasir dari Hitalipa untuk dilihat dalam laboratoriumTimika, dari sini kami akan melanjutkan perjalanan mengikuti hulu sungai Wabu lalu ke Distrik Homeyo dan selanjutnya kami akan ke Timika. John Cutts yang selalu di sapa masyarakat setempat Jani Mala bersama rombongan Tim Survei menuju Distrik Homeyo.
Setelah beberapa bulan kemudian tepatnya tanggal 28 september 1991 John Cutts mewakili PT. Freeport berkunjung yang kedua kalinya ke Sugapa Intan Jaya. Tujuan John Cutts adalah untuk bertemu dengan kepala Distrik Sugapa dan Para kepala suku untuk menyampaikan kegiatan PT. Freeport yang akan beroperasi di Distrik Sugapa dan Beberapa Distrik lainya di Intan Jaya.
Di saat itu pertemuan diadakan di kantor Camat Sugapa dan dihadiri oleh Hombore B. A selaku kepala Camat Sugapa saat itu dan unsur Tripika Kecamatan serta beberapa tokoh masyarakat pemilik ulayat ikut hadir dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh John Cutts di kantor tersebut. tokoh- tokoh masyarakat Moni pemilik ulayat yang hadir dalam pertemuan itu antara lain: Paulus Japugau, Yuliu Sani, Adolof Belau, Oktopianus Sondegau, Samuel Japugau, Andreas Tipagau, dan Bony Sondegu dan beberapa tokoh lainya, setelah mereka mendengar penjelasan dari John Cutts tokoh-tokoh masyarakat malah bingung dan tidak mengerti tujuan John untuk melakukan Eksplorasi (Survei) di daerah mereka, sehingga masyarakat langsung pulang kerumah mereka “tanpa menyepakati atau menyetujui” keinginan John Cutts untuk melakukan eksplorasi di daerah mereka.
John Cutts memanfaatkan keterbatasan pengetahuan dan ketertinggalan masyarakat Intan Jaya dan memasukan PT. Freeport dengan inisiatif sendiri tanpa melakukan “Perjanjian Kerja Sama / MOU ” dengan masyarakat pemilik ulayat. Walaupun “Perjanjian Kerja Sama / MOU ” belum dibuat, namun John Cutts tetap memaksakan keinginananya dengan mendatangkan PT. Freeport beroperasi di Sugapa dan beberapa tempat lainya di Intan Jaya. Cara John Cutts Ibarat perampok dan Pencuri di Siang Hari.
Cara John Cutts ini menjadi kesempatan bagi PT. Freeport untuk melakukan Eksplorasi di Sugapa, Hitalipa dan beberapa Distrik lainya di Intan Jaya, sehingga masyarakat tinggal menerima apa adanya lalu masyarakat hanya “mengusulkan kepada PT. Freeport tanpa tertulis” memperbolehkan melakukan aktifitas Eksplorasi, tetapi sebagai ganti rugi pepohonan yang ditebang oleh PT. Freeport untuk helipad, drillpad, material pad dan lain- lain harus menerima masyarakat setempat sebagai karyawan di sugapa saat itu, tutur sala satu tokoh masyarakat pemilik ulayat yang dipercayai di kampung itu.
Begitu menerima beberapa pemuda dari kampung sebagai karyawan lokal untuk bekerja sebagai karyawan PT. Freeport di Sugapa, namun mereka mengalami banyak hambatan. Meraka tidak tau apa yang harus mereka buat. Setiap pagi pukul 04. 30 subuh mereka sudah harus menyiapkan bahan dan alat untuk membangun base camp, membongkar tanah dan karyawan lainya naik turun ke hutan tempat dimana akan dibangun Halipad, Drillpad, Materialpad dan Landing site. Hari berganti- hari minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan karyawan lokal menerima upah mereka dalam jumlah yang sangat kecil.
Helikopter yang di sewa untuk eksplorasipun pergi pulang Timika tanpa henti-hentinya untuk mengantar makanan para karyawan lokal di sugapa Intan Jaya. Begitu Eksplorasi di sugapa mulai Tumbuh . Camp Manager PT. Freeport menerima TNI/POLRI yang saat itu bertugas di kecamatan Sugapa untuk mengamankan situasi setempat. Untuk membangun camp tentu perusahaan membutukan bahan bangunan, sehingga perusahan meminta masyarakat setempat untuk menyiapkan papan dan kayu buah dengan perjanjian akan dibayar,yaitu papan runcing, dengan harga RP. 15.000;- perlembar, kayu buah yang besar RP. 10.000;- dan kayu Buah sedang sebesar RP. 5.000;- perbuah. Mendengar informasi itu masyarakat setempat menyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan perusahaan.
Namun sangat disedihkan, bagi masyarakat setempat karena dalam pembayaran bahan-bahan lokal yang disiapkan masyarakat dibayar tidak sesuai dengan perjanjian yang sudah ditetapkan oleh PT. Freeport, malah harus ditawar lagi menjadi harga yang paling rendah dan dibelinya. Dalam transaksi tersebut masyarakat ada yang protes, maka akan berhadapan dengan TNI/POLRI untuk mengamankan masyarakat.
Apabila ada masyarakat yang masih protes, maka persoalan tersebut akan diproses oleh TNI/POLRI yang bertugas disitu, apabila ada yang masih protes dengan harga yang sudah ditetapkan oleh perusahaan, maka TNI/POLRI akan memukul warga setempat tanpa segan-segan sampai muka masyarakat babak belur, seperti salah satu warga setempat yang protes, yakni Linus Sondegau, namun sayangnya dia dipukul sampai babak belur dan terjadilah perkelahian masal antara TNI/PORI dan karyawan lokal.
Melihat hal itu masyarakat setempat tak kuasa untuk melalkukan protes lagi terhadap penipuan yang dilakukan oleh PT. Freeport di Sugapa Intan Jaya. Sedangkan John Cutts entah kemana perginya, setelah dia mendatangkan orang-orang yang tidak tau kasih itu. Karyawan lokal hanya menerima semua itu dengan berkepala dingin, karena mereka belum siap menjadi karyawan. Masyarakat setempat yang diterima sebagai Tim Hoist banyak yang jatu dari hilikopter, karena belum dibekali pengetahuan tentang keselamatan kerja.
Beberapa karyawan lokal jatuh dari hilikopter saat terjun dari udara dengan tali pengikat, seperti sala satu karyawan yang tersangkut dipohon yang letaknya dipundak gunung Wabu-Sugapa. Karyawan itu tidak tertolong namun untungnya helikopter melepaskan tali pengikat, sehingga karyawan yang bernama Didimus Japugau tersangkut di atas dahan pohon.
Kebun-kebun masyarakat setempat rusak ulah dari angin hilikopter saat mendarat membawa alat-alat perusahaan ke lokasi kerja. Pemilik kebun menuntut agar membayar semua kebun yang dirusakan oleh helikopter milik PT. Freeport, namun apa boleh buat karena prosesnya diahlikan ke pihak TNI/POLRI di Kecamatan Sugapa saat itu. Sehingga masyarakat menerima semua ketidakadilan itu dengan lapang dada.
Kegiatan Eksplorasi dilakukan di tempat-tempat sasaran masyarakat, seperti tempat berburuh, tempat mencari rotan, tempat mencari kayu, maupun tempat berkebun. Base Camp Bilagae- Sugapa dijaga ketat oleh TNI/POLRI dan melarang masyarakat berkeliaran siang dan malam hari di base camp. Babi masyarakat desa Bilogae diburuh 2- 3 ekor oleh keamanan yang menjaga base camp tanpa memberitahu kepala desa bilogae terlebi dulu, separuh daging diminta begitu saja oleh anggota, kata mereka mengganti peluruh yang hilang, sehingga mau-tidak mau pemilik babi menerima semua itu dengan lapang dada, karena takut dipukul atau tembak oleh aparat.
Malam hari base camp bilogae (Wabu) memanfaatkan kesempatan untuk membawa gadis- gadis kampung yang masih dibawah umur lalu melakukan hubungan setubuh selayaknya suami istri, bahkan beberapa istri orang diperlakukan hal yang sama. Dilain kesempatan karyawan lokal diajar bermain judi dan hal-hal negatif lainya. Apabila karyawan lokal ingin mengunjungi kelurgannya yang sakit malah dibentuk, Ayo kerja atau mau kelur, inilah julukan untuk para karyawan lokal di Wabu Intan Jaya.
PT. Freeport masuk Eksplorasi dengan sebebas-bebasnya di atas Tanah, Hutan dan Sungai di Wabu Intan Jaya ibarat Tanah dan Hutan Tanpa Tuan atau dalam bahasa Engros Tobati mengatakan “ Land and Forest Without a Master”.
Ganti rugi Flora dan Fauna sampai detik ini belum dibayar kepada Masyarakat Pemilik Ulayat. Akibat PT, Freeport merusak Alam dimana tempat-tempat perlindungan bagi hewan, tumbuhan dan tanaman masyarakat setempat, maka semua makluk yang menghuni didalamnya mengungsi ketempat-tempat yang dapat hidup lebih baik dan aman. Begitulah kisah PT. Freeport yang masuk wilayah Kabupaten Intan Jaya dan meng-Anggap Alam intan Jaya tidak mempunyai “Tuan” sehingga PT. Freeport melakuan semua kegiatan Eksplorasi semua-nya dan seenak-nya.
Demikian Kisah Penipuan, Pembodohan, dan Pencurian Terhadap Alam dan Masyarakat Intan Jaya, ini kami dibuat dengan sesungguhnya untuk diperhatikan dan ditindak-lanjuti oleh pihak-pihak terkait demi menyelamatkan tanah dan manusia setempat dari bahaya investasi yang akan mengancam kelangsungan hidup masyarakat setempat.
Jayapura, Selasa 17 Mei 2011
== ORA ET LABORA ==
SALAM PERUBAHAN,…!!!
“APA YANG ENKAU TABUR KINI, ENGKAU AKAN MENUAINYA”
Mereka datang dari Timika menggunakan Helikopter milik Airfast, setelah tibah di pos misionaris Kingmi Distrik Hitalipa mereka melanjutkan perjalanan ke Sungai Hiyabu yang letaknya tidak jau dari Pos misionaris tersebut. Setelah tibah di sungai tersebut mereka mengambil sampel berupa pasir, air dan batu-batuan dari sungai tersebut. setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke muarah sungai Hiyabu dan Dogabu lalu melanjutkan perjalanan ke muara sungai Wayabu dan Wabu dan melanjutkan perjalanan ke beberapa anak sungai dari kali Wabu. Mereka mengambil semua sampel dari sungai-sungai tersebut berupa pasir, air dan batu- batuan.
Di sungai wabu John Cutts sempat bertemu dengan sala satu warga setempat, yakni Stevanus Sondegau di Wandoga, yaitu di Wonemiggi talipa atau kali wonemiggi. John dan teman-temanyan terus melanjutkan perjalanannya ke muara sungai Tigabu dan mengambil sampel pasir,air dan batu-batuan lalu mendulang pasir. Saat itu John sempat bertemu dengan sala satu warga setempat, yakni Ojegoa Tawa Mbole Belau, nama setempat atau Didimus Belau. Didimus Belau merupakan warga Desa Bilogae Distrik Sugapa yang hari-harinya berladang Ubi, Keladi dan tanaman lainnya disepanjang sunagai Tigitalipa. Seperti biasanya John Cutts menggunakan bahasa setempat, yakni bahasa Moni, ia memberikan Informasi kepada Didimus mengenai kegiatan yang di jalaninya saat itu.
Kata John Cutts kepada Didimus dalam bahasa Moni “ A me,..mepao,..mendaga kaneta taliago kaya, Hitalipagemaya tali ne,..du ne,..homa ne,.. inigiao dia digio,. usua naga ndogo- Timika ge inua noa nggaga inuapa dutima dia diggiyo,.data kapage go wabu ge dega-dega data homeyo pialiggiyo dipage go Timika puapaya tutur John” artinya: mepa saya ikut orang-orang ini jalan ambil air, batu dan pasir dari Hitalipa untuk dilihat dalam laboratoriumTimika, dari sini kami akan melanjutkan perjalanan mengikuti hulu sungai Wabu lalu ke Distrik Homeyo dan selanjutnya kami akan ke Timika. John Cutts yang selalu di sapa masyarakat setempat Jani Mala bersama rombongan Tim Survei menuju Distrik Homeyo.
Setelah beberapa bulan kemudian tepatnya tanggal 28 september 1991 John Cutts mewakili PT. Freeport berkunjung yang kedua kalinya ke Sugapa Intan Jaya. Tujuan John Cutts adalah untuk bertemu dengan kepala Distrik Sugapa dan Para kepala suku untuk menyampaikan kegiatan PT. Freeport yang akan beroperasi di Distrik Sugapa dan Beberapa Distrik lainya di Intan Jaya.
Di saat itu pertemuan diadakan di kantor Camat Sugapa dan dihadiri oleh Hombore B. A selaku kepala Camat Sugapa saat itu dan unsur Tripika Kecamatan serta beberapa tokoh masyarakat pemilik ulayat ikut hadir dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh John Cutts di kantor tersebut. tokoh- tokoh masyarakat Moni pemilik ulayat yang hadir dalam pertemuan itu antara lain: Paulus Japugau, Yuliu Sani, Adolof Belau, Oktopianus Sondegau, Samuel Japugau, Andreas Tipagau, dan Bony Sondegu dan beberapa tokoh lainya, setelah mereka mendengar penjelasan dari John Cutts tokoh-tokoh masyarakat malah bingung dan tidak mengerti tujuan John untuk melakukan Eksplorasi (Survei) di daerah mereka, sehingga masyarakat langsung pulang kerumah mereka “tanpa menyepakati atau menyetujui” keinginan John Cutts untuk melakukan eksplorasi di daerah mereka.
John Cutts memanfaatkan keterbatasan pengetahuan dan ketertinggalan masyarakat Intan Jaya dan memasukan PT. Freeport dengan inisiatif sendiri tanpa melakukan “Perjanjian Kerja Sama / MOU ” dengan masyarakat pemilik ulayat. Walaupun “Perjanjian Kerja Sama / MOU ” belum dibuat, namun John Cutts tetap memaksakan keinginananya dengan mendatangkan PT. Freeport beroperasi di Sugapa dan beberapa tempat lainya di Intan Jaya. Cara John Cutts Ibarat perampok dan Pencuri di Siang Hari.
Cara John Cutts ini menjadi kesempatan bagi PT. Freeport untuk melakukan Eksplorasi di Sugapa, Hitalipa dan beberapa Distrik lainya di Intan Jaya, sehingga masyarakat tinggal menerima apa adanya lalu masyarakat hanya “mengusulkan kepada PT. Freeport tanpa tertulis” memperbolehkan melakukan aktifitas Eksplorasi, tetapi sebagai ganti rugi pepohonan yang ditebang oleh PT. Freeport untuk helipad, drillpad, material pad dan lain- lain harus menerima masyarakat setempat sebagai karyawan di sugapa saat itu, tutur sala satu tokoh masyarakat pemilik ulayat yang dipercayai di kampung itu.
Begitu menerima beberapa pemuda dari kampung sebagai karyawan lokal untuk bekerja sebagai karyawan PT. Freeport di Sugapa, namun mereka mengalami banyak hambatan. Meraka tidak tau apa yang harus mereka buat. Setiap pagi pukul 04. 30 subuh mereka sudah harus menyiapkan bahan dan alat untuk membangun base camp, membongkar tanah dan karyawan lainya naik turun ke hutan tempat dimana akan dibangun Halipad, Drillpad, Materialpad dan Landing site. Hari berganti- hari minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan karyawan lokal menerima upah mereka dalam jumlah yang sangat kecil.
Helikopter yang di sewa untuk eksplorasipun pergi pulang Timika tanpa henti-hentinya untuk mengantar makanan para karyawan lokal di sugapa Intan Jaya. Begitu Eksplorasi di sugapa mulai Tumbuh . Camp Manager PT. Freeport menerima TNI/POLRI yang saat itu bertugas di kecamatan Sugapa untuk mengamankan situasi setempat. Untuk membangun camp tentu perusahaan membutukan bahan bangunan, sehingga perusahan meminta masyarakat setempat untuk menyiapkan papan dan kayu buah dengan perjanjian akan dibayar,yaitu papan runcing, dengan harga RP. 15.000;- perlembar, kayu buah yang besar RP. 10.000;- dan kayu Buah sedang sebesar RP. 5.000;- perbuah. Mendengar informasi itu masyarakat setempat menyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan perusahaan.
Namun sangat disedihkan, bagi masyarakat setempat karena dalam pembayaran bahan-bahan lokal yang disiapkan masyarakat dibayar tidak sesuai dengan perjanjian yang sudah ditetapkan oleh PT. Freeport, malah harus ditawar lagi menjadi harga yang paling rendah dan dibelinya. Dalam transaksi tersebut masyarakat ada yang protes, maka akan berhadapan dengan TNI/POLRI untuk mengamankan masyarakat.
Apabila ada masyarakat yang masih protes, maka persoalan tersebut akan diproses oleh TNI/POLRI yang bertugas disitu, apabila ada yang masih protes dengan harga yang sudah ditetapkan oleh perusahaan, maka TNI/POLRI akan memukul warga setempat tanpa segan-segan sampai muka masyarakat babak belur, seperti salah satu warga setempat yang protes, yakni Linus Sondegau, namun sayangnya dia dipukul sampai babak belur dan terjadilah perkelahian masal antara TNI/PORI dan karyawan lokal.
Melihat hal itu masyarakat setempat tak kuasa untuk melalkukan protes lagi terhadap penipuan yang dilakukan oleh PT. Freeport di Sugapa Intan Jaya. Sedangkan John Cutts entah kemana perginya, setelah dia mendatangkan orang-orang yang tidak tau kasih itu. Karyawan lokal hanya menerima semua itu dengan berkepala dingin, karena mereka belum siap menjadi karyawan. Masyarakat setempat yang diterima sebagai Tim Hoist banyak yang jatu dari hilikopter, karena belum dibekali pengetahuan tentang keselamatan kerja.
Beberapa karyawan lokal jatuh dari hilikopter saat terjun dari udara dengan tali pengikat, seperti sala satu karyawan yang tersangkut dipohon yang letaknya dipundak gunung Wabu-Sugapa. Karyawan itu tidak tertolong namun untungnya helikopter melepaskan tali pengikat, sehingga karyawan yang bernama Didimus Japugau tersangkut di atas dahan pohon.
Kebun-kebun masyarakat setempat rusak ulah dari angin hilikopter saat mendarat membawa alat-alat perusahaan ke lokasi kerja. Pemilik kebun menuntut agar membayar semua kebun yang dirusakan oleh helikopter milik PT. Freeport, namun apa boleh buat karena prosesnya diahlikan ke pihak TNI/POLRI di Kecamatan Sugapa saat itu. Sehingga masyarakat menerima semua ketidakadilan itu dengan lapang dada.
Kegiatan Eksplorasi dilakukan di tempat-tempat sasaran masyarakat, seperti tempat berburuh, tempat mencari rotan, tempat mencari kayu, maupun tempat berkebun. Base Camp Bilagae- Sugapa dijaga ketat oleh TNI/POLRI dan melarang masyarakat berkeliaran siang dan malam hari di base camp. Babi masyarakat desa Bilogae diburuh 2- 3 ekor oleh keamanan yang menjaga base camp tanpa memberitahu kepala desa bilogae terlebi dulu, separuh daging diminta begitu saja oleh anggota, kata mereka mengganti peluruh yang hilang, sehingga mau-tidak mau pemilik babi menerima semua itu dengan lapang dada, karena takut dipukul atau tembak oleh aparat.
Malam hari base camp bilogae (Wabu) memanfaatkan kesempatan untuk membawa gadis- gadis kampung yang masih dibawah umur lalu melakukan hubungan setubuh selayaknya suami istri, bahkan beberapa istri orang diperlakukan hal yang sama. Dilain kesempatan karyawan lokal diajar bermain judi dan hal-hal negatif lainya. Apabila karyawan lokal ingin mengunjungi kelurgannya yang sakit malah dibentuk, Ayo kerja atau mau kelur, inilah julukan untuk para karyawan lokal di Wabu Intan Jaya.
PT. Freeport masuk Eksplorasi dengan sebebas-bebasnya di atas Tanah, Hutan dan Sungai di Wabu Intan Jaya ibarat Tanah dan Hutan Tanpa Tuan atau dalam bahasa Engros Tobati mengatakan “ Land and Forest Without a Master”.
Ganti rugi Flora dan Fauna sampai detik ini belum dibayar kepada Masyarakat Pemilik Ulayat. Akibat PT, Freeport merusak Alam dimana tempat-tempat perlindungan bagi hewan, tumbuhan dan tanaman masyarakat setempat, maka semua makluk yang menghuni didalamnya mengungsi ketempat-tempat yang dapat hidup lebih baik dan aman. Begitulah kisah PT. Freeport yang masuk wilayah Kabupaten Intan Jaya dan meng-Anggap Alam intan Jaya tidak mempunyai “Tuan” sehingga PT. Freeport melakuan semua kegiatan Eksplorasi semua-nya dan seenak-nya.
Demikian Kisah Penipuan, Pembodohan, dan Pencurian Terhadap Alam dan Masyarakat Intan Jaya, ini kami dibuat dengan sesungguhnya untuk diperhatikan dan ditindak-lanjuti oleh pihak-pihak terkait demi menyelamatkan tanah dan manusia setempat dari bahaya investasi yang akan mengancam kelangsungan hidup masyarakat setempat.
Jayapura, Selasa 17 Mei 2011
== ORA ET LABORA ==
SALAM PERUBAHAN,…!!!
“APA YANG ENKAU TABUR KINI, ENGKAU AKAN MENUAINYA”
APAKAH INI AKAN TERUS TERJADI,.?
*) KOMISI
Intan Jaya – Masyarakat setempat seperti biasanya sudah membawa hasil bumi untuk dipasarkan, ada yang dari Distrik Homeyo, Distrik Hitalipa dan Distrik Sugapa bahkan ada yang dari Distrik Nabia, hari pasar biasanya hari Selasa dan hari Jumat.
Pada hari Selasa dan Jumat masyarakat setempat seperti biasanya mereka membawa hasil bumi dengan susah payah, mereka lalui gunug, bukit, sungai hingga tiba di pasar jogatapa untuk pasarkan hasil bumi tersebut di pasar yang beratapkan langit.
Sehabis pasarkan hasil bumi tersebut mereka harus menumpanggi motor ojek yang harga jau maupun dekat mencapai lima puluh ribuh rupia sampai dua ratus ribu rupia (RP. 50.000,- - 250.000,-). Walaupun hasil bumi yang mereka pasarkan tidak mencapai lima puluh ribuh rupiah, mereka harus mengeluarkan uang dari kantung mereka untuk membayar para tukang ojek tersebut.
Dalam membayar ongkos perjalanan mereka apabila ada kekurangan, maka para tukang ojek ini akan mengambil dompet masyarakat dan memeriksa dompet para masyarakat setempat. apabila terdapat uang, maka mereka akan mengambilnya sendiri dan apabila tidak terdapat uang didalam dompet, para tukang ojek ini akan marah hingga gertak mereka.
Malang sungguh nasib rakyat kecil. Status sosial kerap membuat mereka dijadikan obyek untuk mengeruk uang mereka oleh para tukang ojek yang pada umumnya anggota Polisi dan Tentara yang bertugas di Intan Jaya.
Para tukang ojek ini kayaknya mereka yang berkusa disana, sehingga mereka yang mengatur masyarakat setempat bahkan beraninya mereka mengambil uang mama – mama disana,..? Apakah ini hal yang wajar,..?
Wadohh,..!!! bosok – besok pasti lebih parah lagi dari hari ini, bisa – bisa mereka (Tukang ojek) menjadi penguasa disana. Pasti dan pasti akan terjadi, karena ada yang lihat, tetapi seolah – olah macam tidak lihat, pasti dan pasti terjadi karena semua lihat, tetapi tidak ada yang bertindak.
Apabila semua diam membisu lalu siapa yang akan berbicara dan bertindak,..? untuk masyarakat yang sedang di bodohi oleh penjilat – penjilat itu. Atau diam membisu karena senang melihat masyarakat kita ditipu, diperas bahkan dicaci maki.
Siapakah yang akan berbicara untuk masyarakat,..? atau biarkan agar para penjilat itu melakukan hal terus menerus kepada masyarakat kita,..?
Wadohh,.. siapa yang tidak sakit hati kalau masyarakatnya ditipu apalagi kalau keluarganya yang ditipu oleh penjilat – penjilat itu.
Belakangan ini para tukang ojek disana mulai berani dan berani untuk menegur para masyarakat setempat, seolah – olah para tukang ojek itu merupakan penduduk pribumi,..?
Kalau hal ini yang terjadi disana bagimana dengan hari yang akan datang,..? dan bagimana jika semua diam dan tonton agar hal itu terjadi,..? apakah penjilat – penjilat ini tidak akan menjadi kepala besar,..? yang jelas penjilat – penjilat ini akan menjadi kepala besar, sehingga beraninya mereka bisa menghilangkan nyawa masyarakat setempat tanpa peduli, karena mereka akan menjadi pengusa dan penguasa bumi Intan Jaya kedepannya.
Mengakhiri tulisan ini Komisi mengatakan bahwa;
“sekarang adalah waktunya untuk bertindak. Tidak pernah ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu”
“Ora Et Labora”
Salam Perubahan,….!!!
Apa Yang Engkau Tabur Kini, Engkau Akan Menuainya
Intan Jaya – Masyarakat setempat seperti biasanya sudah membawa hasil bumi untuk dipasarkan, ada yang dari Distrik Homeyo, Distrik Hitalipa dan Distrik Sugapa bahkan ada yang dari Distrik Nabia, hari pasar biasanya hari Selasa dan hari Jumat.
Pada hari Selasa dan Jumat masyarakat setempat seperti biasanya mereka membawa hasil bumi dengan susah payah, mereka lalui gunug, bukit, sungai hingga tiba di pasar jogatapa untuk pasarkan hasil bumi tersebut di pasar yang beratapkan langit.
Sehabis pasarkan hasil bumi tersebut mereka harus menumpanggi motor ojek yang harga jau maupun dekat mencapai lima puluh ribuh rupia sampai dua ratus ribu rupia (RP. 50.000,- - 250.000,-). Walaupun hasil bumi yang mereka pasarkan tidak mencapai lima puluh ribuh rupiah, mereka harus mengeluarkan uang dari kantung mereka untuk membayar para tukang ojek tersebut.
Dalam membayar ongkos perjalanan mereka apabila ada kekurangan, maka para tukang ojek ini akan mengambil dompet masyarakat dan memeriksa dompet para masyarakat setempat. apabila terdapat uang, maka mereka akan mengambilnya sendiri dan apabila tidak terdapat uang didalam dompet, para tukang ojek ini akan marah hingga gertak mereka.
Malang sungguh nasib rakyat kecil. Status sosial kerap membuat mereka dijadikan obyek untuk mengeruk uang mereka oleh para tukang ojek yang pada umumnya anggota Polisi dan Tentara yang bertugas di Intan Jaya.
Para tukang ojek ini kayaknya mereka yang berkusa disana, sehingga mereka yang mengatur masyarakat setempat bahkan beraninya mereka mengambil uang mama – mama disana,..? Apakah ini hal yang wajar,..?
Wadohh,..!!! bosok – besok pasti lebih parah lagi dari hari ini, bisa – bisa mereka (Tukang ojek) menjadi penguasa disana. Pasti dan pasti akan terjadi, karena ada yang lihat, tetapi seolah – olah macam tidak lihat, pasti dan pasti terjadi karena semua lihat, tetapi tidak ada yang bertindak.
Apabila semua diam membisu lalu siapa yang akan berbicara dan bertindak,..? untuk masyarakat yang sedang di bodohi oleh penjilat – penjilat itu. Atau diam membisu karena senang melihat masyarakat kita ditipu, diperas bahkan dicaci maki.
Siapakah yang akan berbicara untuk masyarakat,..? atau biarkan agar para penjilat itu melakukan hal terus menerus kepada masyarakat kita,..?
Wadohh,.. siapa yang tidak sakit hati kalau masyarakatnya ditipu apalagi kalau keluarganya yang ditipu oleh penjilat – penjilat itu.
Belakangan ini para tukang ojek disana mulai berani dan berani untuk menegur para masyarakat setempat, seolah – olah para tukang ojek itu merupakan penduduk pribumi,..?
Kalau hal ini yang terjadi disana bagimana dengan hari yang akan datang,..? dan bagimana jika semua diam dan tonton agar hal itu terjadi,..? apakah penjilat – penjilat ini tidak akan menjadi kepala besar,..? yang jelas penjilat – penjilat ini akan menjadi kepala besar, sehingga beraninya mereka bisa menghilangkan nyawa masyarakat setempat tanpa peduli, karena mereka akan menjadi pengusa dan penguasa bumi Intan Jaya kedepannya.
Mengakhiri tulisan ini Komisi mengatakan bahwa;
“sekarang adalah waktunya untuk bertindak. Tidak pernah ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu”
“Ora Et Labora”
Salam Perubahan,….!!!
Apa Yang Engkau Tabur Kini, Engkau Akan Menuainya
MIGANI FC YANG KETINGGALAN
Didaerah atau suatu wilayah mempunyai suatu potensi entah itu sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang sangat kaya. Sumber daya alam maupun sumber daya manusia ini diberikan Cuma-cuma oleh Yahwah Elohim, tingal bagiman orang-orang tersebut untuk mengolahnya dan mengembangkannya. Potensi-potensi tersebut sudah ada dalam diri tiap-tiap pribadi, sepertinya dalam bidang olahraga kususnya Bola Kaki kabupaten Intan Jaya memiliki potensi yang sangat bagus.
Namun sangat disedihkan dan disayangkan bagi putra-putri kabupaten intan jaya. Gimi,…yee,..walaupun kabupaten intan jaya sudah dimekarkan pada tahun dua ribu delapan lalu,namun Ganewa,..Hema kabupaten tawapa tuya naga kana,….ketinggalan betul dengan kabupaten-kabupaten lain yang sama-sama dimekarkan. Hal ini disebabkan ambisi yang membudaya.
Ambisi yang membudaya ini sebenarnya bagus dan baik apabila itu sesuai dengan jurusan-nya atau skill-nya dan ingin membicarakan kepentingan umum, tetapi kalau bukan jurusannya, wah,..ini sangat parah. Yang jelas kalau bukan jurusannya dan tidak memiliki keterampilan di bidang tersebut, maka yang jelas hal itu akan membuat Virus penghambat dan pembunuh bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Mana mungkin seorang mantri tidak mempunyai keterampilan dibidang tersebut lalu mengajar disala satu sekolah, yang jelas mantra itu akan binggung dan tidak mengerti bagimana mendidik anak muridnya secara baik dan benar, demikian juga sebaliknya bagimana seorang Guru lalu mengambil jarum suntik lalu menyuntik sala satu pasien. Hea,…heaa yeh,..pasien bisa mati tiba-tiba tu,……
Melihat potensi-potensi putra-putra bola kaki intan jaya yang sangat terkatung-katung itu, maka kedepannya harus menempatkan orang-orang yang mendidik maupun melayani, artinya bahwa menempatkan orang-orang yang betu-betul mempunyai keahlian dalam sala satu bidang atau sesuai dengan jurusannya. Apabila kedepannya hal ini dilihat dan dilakukan, maka akan ada perubahan dalam mengembangkan potensi-potensi bola kaki maupun mengembangkan potensi-potensi yang lainya.
Seseorang yang mempunyai keahlian maupun mempunyai jurusan lalu dia bekerja sesuai dengan apa yang ada pada dia, maka dia anggap hal itu mudah saja, karena dia anggap bisa karena dia sudah terbiasa dengan pekerjaan itu. Kita musti sadari bahwa Sejak Yahweh Elohim menempatkan kita di Kandungan tiap-tiap Mama kita sejak Itu pula Yahweh Elohim menaruh “Nasib” kita, yaitu Talenta atau Potensi sehingga potensi atau talenta itu harus dilihat, digali dan dikembangkan dalam segala bidang terutama untuk Melayani Sesama yang Membutuhkan.
Ingat Penetuan Nasib Sendiri adalah Hak Asasi Manusia yang diberikan langsung oleh Yahweh Elohim kepada pribadi masing-masing. Nasib Anda Tidak ditentukan oleh siapa-siapa, kecuali Yahweh Elohim Tinggal bagimana tiap-tiap pribadi itu untuk melihat, mengolah dan mengembangkannya. Mama kita melahirkan, menjaga, merawat, membesarkan memotifasi, menasehati serta Meluruskan seluruh hidup kita, Agar kita mengikuti jalan Tuhan. Sedangkan orang lain hanya mengsponsori kita dalam segala karya kita, agar kita mengikuti jalan Yahweh Elohim untuk dapat menemukan “Jati Diri Kita” sebagai Manusia yang Utuh, Keutuhan sebagai manusia yang Utuh adalah Kerendahan Hati serta Keteladanan hidup yang Membebaskan, Meneguhkan dan Melayani.
Untuk mengembangkan dan mencapai potensi-potensi tersebut tentu ada sponsor dari berbagai pihak, terutama Pemerinttah kabupaten intan jaya. Tanpa sponsor tidak mungkin potensi-potensi itu dapat digali dan dikembangkan. untuk mencapai potensi-potensi tersebut membutuhkan waktu dan proses. dalam waktu dan proses itu tentu memerlukan suatu Pengorbanan untuk menemukan jati diri seseorang sebagai manusia yang utuh.
Sehingga Penetuan nasib sendiri adalah hak Asasi Manusia yang mutlak, sehingga kami tidak bisa katakan bahwa nasib seseorang berada ditangan seseorang yang lain atau ditentukan oleh orang lain. Singkat kata Tuhan Alllah sudah taruh potensi kita sejak dalam kandungan mama kita, sehingga penetuan nasib kita ada di tangan kita. Untuk mencapai Tujuan itu dibutuhkan “Kesadaran, Komitmen, Ketaatan, Ketenagan, Kekompakan, saling menerima, rendah hati, Jujur, Berani Bijaksana, kasih dan Rela Berkorban untuk Melayani”.
Tanpa kedua belas hal ini tidak mungkin suatu Tindakan dapat dilakukan untuk mencapai Tujuan yang kita inginkan bersama. “Sedikit Tindakan Lebih Bermanfaat dari pada Sejuta Kata”, Mari kita bertindak untuk Nasib kita kedepan untuk mengapdi kepada masyarakat, gereja, bangsa dan negara.
Salam Perubahan,……….“ORA ET LABORA”
“APA YANG ENGKAU TABUR KINI ENGKAU AKAN MENUAINYA.”
Misael maisini
……………………..
ketua umum komisi
Namun sangat disedihkan dan disayangkan bagi putra-putri kabupaten intan jaya. Gimi,…yee,..walaupun kabupaten intan jaya sudah dimekarkan pada tahun dua ribu delapan lalu,namun Ganewa,..Hema kabupaten tawapa tuya naga kana,….ketinggalan betul dengan kabupaten-kabupaten lain yang sama-sama dimekarkan. Hal ini disebabkan ambisi yang membudaya.
Ambisi yang membudaya ini sebenarnya bagus dan baik apabila itu sesuai dengan jurusan-nya atau skill-nya dan ingin membicarakan kepentingan umum, tetapi kalau bukan jurusannya, wah,..ini sangat parah. Yang jelas kalau bukan jurusannya dan tidak memiliki keterampilan di bidang tersebut, maka yang jelas hal itu akan membuat Virus penghambat dan pembunuh bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Mana mungkin seorang mantri tidak mempunyai keterampilan dibidang tersebut lalu mengajar disala satu sekolah, yang jelas mantra itu akan binggung dan tidak mengerti bagimana mendidik anak muridnya secara baik dan benar, demikian juga sebaliknya bagimana seorang Guru lalu mengambil jarum suntik lalu menyuntik sala satu pasien. Hea,…heaa yeh,..pasien bisa mati tiba-tiba tu,……
Melihat potensi-potensi putra-putra bola kaki intan jaya yang sangat terkatung-katung itu, maka kedepannya harus menempatkan orang-orang yang mendidik maupun melayani, artinya bahwa menempatkan orang-orang yang betu-betul mempunyai keahlian dalam sala satu bidang atau sesuai dengan jurusannya. Apabila kedepannya hal ini dilihat dan dilakukan, maka akan ada perubahan dalam mengembangkan potensi-potensi bola kaki maupun mengembangkan potensi-potensi yang lainya.
Seseorang yang mempunyai keahlian maupun mempunyai jurusan lalu dia bekerja sesuai dengan apa yang ada pada dia, maka dia anggap hal itu mudah saja, karena dia anggap bisa karena dia sudah terbiasa dengan pekerjaan itu. Kita musti sadari bahwa Sejak Yahweh Elohim menempatkan kita di Kandungan tiap-tiap Mama kita sejak Itu pula Yahweh Elohim menaruh “Nasib” kita, yaitu Talenta atau Potensi sehingga potensi atau talenta itu harus dilihat, digali dan dikembangkan dalam segala bidang terutama untuk Melayani Sesama yang Membutuhkan.
Ingat Penetuan Nasib Sendiri adalah Hak Asasi Manusia yang diberikan langsung oleh Yahweh Elohim kepada pribadi masing-masing. Nasib Anda Tidak ditentukan oleh siapa-siapa, kecuali Yahweh Elohim Tinggal bagimana tiap-tiap pribadi itu untuk melihat, mengolah dan mengembangkannya. Mama kita melahirkan, menjaga, merawat, membesarkan memotifasi, menasehati serta Meluruskan seluruh hidup kita, Agar kita mengikuti jalan Tuhan. Sedangkan orang lain hanya mengsponsori kita dalam segala karya kita, agar kita mengikuti jalan Yahweh Elohim untuk dapat menemukan “Jati Diri Kita” sebagai Manusia yang Utuh, Keutuhan sebagai manusia yang Utuh adalah Kerendahan Hati serta Keteladanan hidup yang Membebaskan, Meneguhkan dan Melayani.
Untuk mengembangkan dan mencapai potensi-potensi tersebut tentu ada sponsor dari berbagai pihak, terutama Pemerinttah kabupaten intan jaya. Tanpa sponsor tidak mungkin potensi-potensi itu dapat digali dan dikembangkan. untuk mencapai potensi-potensi tersebut membutuhkan waktu dan proses. dalam waktu dan proses itu tentu memerlukan suatu Pengorbanan untuk menemukan jati diri seseorang sebagai manusia yang utuh.
Sehingga Penetuan nasib sendiri adalah hak Asasi Manusia yang mutlak, sehingga kami tidak bisa katakan bahwa nasib seseorang berada ditangan seseorang yang lain atau ditentukan oleh orang lain. Singkat kata Tuhan Alllah sudah taruh potensi kita sejak dalam kandungan mama kita, sehingga penetuan nasib kita ada di tangan kita. Untuk mencapai Tujuan itu dibutuhkan “Kesadaran, Komitmen, Ketaatan, Ketenagan, Kekompakan, saling menerima, rendah hati, Jujur, Berani Bijaksana, kasih dan Rela Berkorban untuk Melayani”.
Tanpa kedua belas hal ini tidak mungkin suatu Tindakan dapat dilakukan untuk mencapai Tujuan yang kita inginkan bersama. “Sedikit Tindakan Lebih Bermanfaat dari pada Sejuta Kata”, Mari kita bertindak untuk Nasib kita kedepan untuk mengapdi kepada masyarakat, gereja, bangsa dan negara.
Salam Perubahan,……….“ORA ET LABORA”
“APA YANG ENGKAU TABUR KINI ENGKAU AKAN MENUAINYA.”
Misael maisini
……………………..
ketua umum komisi
KOMISI MINTA SEGERE HENTIKAN INVESTASI DI INTAN JAYA
PT. Freeport yang memboncenggi PT. Minesave yang selama 12 tahun lebih, sudah menghancurkan flora dan fauna Sugapa - Intan Jaya. Kini sedang marak didaerah ular merah Wolai Distrik Mbeamo - Intan Jaya. Dengan melihat pengalaman itu koordinator tim survei pekabaran injil di daerah tersebut Ev. Barnabas Holombau, S.KK mengatakan bahwa kami dari pihak survei pekabaran Injil tidak menerima Investasi dari pihak mana pun yang datang mengeksploitasi kekayaan alam yang terkandung di atas dan di bawah permukaan bumi Intan Jaya.
Holambaum mengatakan tidak akan menerima Investasi dalam bentuk apapun dan dengan cara apapun. Alasan mendasar penolakan ini adalah masyarakat suku Payu,suku Wola dan suku-suku di kabupaten Intan Jaya mengandalkan kekayaan alam yang ada di sekitarnya untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Masyarakat Intan Jaya memandang Tanah dan hutan sebagai Ibu yang memberikan asi bagi mereka, maka kelestarian alam dan keutuhan ciptaan harus dilestarikan dan dijaga demi kelangsungan hidup masyarakat setempat.
Hal yang senada diungkapkan oleh ketua ikatan mahasiswa pelajar Intan Jaya sekota studi Manokwari. Kiss Bagau bahwa saya sebagai mahasiswa sangat setuju dengan pendapat dari koordinator tim survei pekabaran injil di daerah tersebut Ev. Barnabas Holombau,S.KK, karena pengalaman dari sebelum daerah Intan Jaya menerima pemerintahan, yang terkusa adalah Firman Tuhan, maka kenapa Investasi-Investasi yang dikatakan di atas bisa harus masuk kewilayah primitif itu. Seharusnya pemerintah dan Investasi harus menghargai kepada tim pekabaran Injil, karena mereka bekerja untuk menyelamatkan jiwa-jiwa manusia yang masih primitif.
Saya sendiri berpesan kepada direktur PT. Minesave untuk segera menarik diri dari daerah-daerah tersebut. Kami dari mahasiswa/wi kota studi Manokwari berpesan kepada direktur PT. Minesave untuk melakukan koordinasi dengan masyarakat setempat dan penginjil-penginjil sebagai perintis daerah suku-suku terasing dan juga kepada perpanjangan tangan dari PT. Minesave yang ada di Sugapa kedaerah Wolai.
Kami menegaskan juga bahwa jangan mengatas-namakan masyarakat setempat untuk mendatangkan Investasi, karena masyarakat setempat menggantungkan hidup pada alam lingkungan, jika alam –hutan dibabat habis, maka masyarakat setempat akan kehilangan sumber kelangsungan hidup; dan berdampak pada pemusnahan etnis secara pelan tapi pasti.
Di tempat yang sama disampaikan oleh ketua umum Komunitas Mahasiswa Independen Somatua Intan Jaya (komisi), Misael Maisini bahwa Komisi dengan tegas menolakak Investasi yang masuk di seluruh wilayah Intan Jaya. Kami menilai Investasi diseluruh wilayuah Intan Jaya merupakan pembunuhan masyarakat setempat secara tidak langsung, tegas Maisini. Sehingga komisi dengan tegas menolak investasi dalam bentuk apapun dan dengan cara apa pun yang masuk wilayah Intan Jaya. Hal ini disampaikan dalam jumpa pers komisi dipendopo Asrama Tunas Harapan Selasa 11/04/2011.
Langganan:
Postingan (Atom)