Kapan Anak Daerah Intan Jaya Mau Diberdayakan ?

NABIRE-Kapan lagi kalau bukan sekarang, dan siapa lagi kalau bukan anak daerah intan jaya yang harus diperhitungkan pada urutan pertama pada keterlibatan dalam setiap kegiatan.Kondisi ini seperti terjadi pada kegiatan bimbigan teknis (BIMTEK) keuangan yang pesertanya lebih banyak terlihat putra non Intan Jaya.

Foto: Misael Maisini
Sala satu kepala Dinas,pada saat menyampaikan pesan dan kesannya mengatakan,peserta pelatihan Bimtek (Bimbingan Teknis)lebih banyak diisi putra non Intan Jaya.Hal ini secara langsung maupun tidak langsung menunjukan adanya pengabaian dan pembunuhan generasi mudah anak derah intan jaya untuk belajar dan bersaing dengan orang lain.

Kepala Dinas tersebut mengaku sangat kecewa,karena peserta yang mengikuti Bimtek (Bimbingan Teknis) nampak “muka baru” yang belum punya SK di Kabupaten Intan Jaya,baru didatangkan lantas diikutkan dalam kegiatan Bimtek,ujarnya.

Soal kemampuan atau ketidkmampuan anak daerah maupun non putra daerah,bukan ukuran.Justru supaya diawal meletakan pondasi pembagunan Intan Jaya,anak daerah harus diberdayakan karena mereka ingin belajar dari belum tahu,sehingga menjadi tahu. Dengan demikian,,tekad baik bimbigan teknis (Bintek) keuangan yang digelar Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan Kabupaten Intan Jaya menjadi “Tidak bernilai” dalam hal pemberdayan bagi anak daerah.

Hal ini terkesan Ibarat memberikan makan kepada orang yang sudah kenyang.Sangat mengecewkan anak daerah.Jika cara seperti ini tetap di perhatikan maka kedepan akan menciptakan jurang pemisahan antara yang satu dengan yang lain (Mengaduh-dombakan) sesama yang dulunya mempunyai hubungan kekeluragaan yang sangat erat antara satu sama yang lain,kemudian terpeca bela karena kepentingan dan kekuasaan semata.

Hal ini dilahirkan oleh para penguasa daerah Intan Jaya.Sebab,dapat jadi demi kepetingan para kepala SKPD. Jika demikian kepala SKPD bersangkutan tidak mencintai daerah dan masyarakatnya,karena hanya diatas bibir yang mengatakan sebagai penggagas pejuang dan lain sebgainya untuk lahirnya Intan Jaya. Justru kepala SKPD non putra Intan Jaya seperti BKD, Kependudukan dan Catatan Spil serta Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Perempuan adalah contoh baik yang patut ditiruh.

Sebaliknya, Dinas Pariwisata,Perhubunggan,Informatika dan Komunikasi merupakan contoh paling buruk dimata pemerintah maupun rakyat Intan Jaya yang harus dihindari. Bukan tanpa alasan.Merasa diri sebagai sang kepala Dinas, mendatangkan pegawai baru, lantas dalam hitungan detik langsung diserahai jabatan “katanya” Bendahara dan Operator Computer,tanpa ada satu penghargaan pun terhadap Pegwai lama yang notebene putra daerah dan mengabdi di Dinas Informatika dan Komunikasi(Almarhum Martinus Alfa Mujijau) bahkan dengan beraninya menayakan buku kas Dinas Infokom karena merasa diri orang dekat dengan Kepala Dinas perhubungan (Leo Sondegau).

Memang di sadari bahwa alamat Protes Pegawai Dinas Perhubungan,Pariwisata, dan Komunikasi adalah bukan kepada Pegawai baru atau Operator Computer.Tapi cara bertanya itu sebaiknya pakai etika organisasi. Atau mungkin sudah disuntik sang kepala Dinas (Leo Sondegau),sehingga bicaranya blak-blakan tanpa menyadari dirinya orang baru.

Selain itu,pergantian Bendahara baru pada Dinas Informatika dan komunikasi Yaitu (Martinus Alfa Mujijau ) di Kabupaten Intan Jaya tidak melalui Prosedur.Merasa diri sebagai pemegan kendali Dinas Perhubungan,Pariwasita,Informatika dan komunikas (Leo Sondegau ) di kabupten intan jaya,padahal justru “Buta Aturan”, sehingga kepala SKPD yang satu ini mengganti bendahara tanpa koordinasi.

Saat menayakan siapa sebenar-nya Bendahara yang mengikuti Bimbign Teknis (Bimtek) supaya sesuai dengan jumlah yang di atur panitia yang hanya tiga orang setiap Dinas yang mengikuti Bimtek.Namun di awal mengikuti Bimtek,Kepala Dinas (Leo Sondegau) mengatakan ikut saja semua.Padahal dalam kenyataanya Sudah di Ganti.

Hal ini baru diketahui bendahara lama,yaitu (Martinus Alfa Mujijau) pada saat sekedar untuk mengecek Dana di Bank Papua Cabang nabire,namun mantan bendahara ini dikagetkan dengan permintaan Rekening Giro oleh salah satu petugas BPD.Karena masalah itu tidak ada hubungannya dengan petugas Bank,justru masalah Dinas,sehingga mantan bendahara (Martinus Alfa Mujijau ) pun menolak menyerakan Rekening giro.

Menolak menyerhakan Rekening Giro itu karena Pergantian Bendahara Ada Aturannya.Tidak bisa semuanya itu diatur sewenang-wenangnya oleh Kepala Dinas Perhubungan,Pariwisata,Informatika dan Komunikasi (Leo Sondegau). Apalagi saat itu sedang bermasalah dan belum ada solusi/ jalan kelur yang baik.

Martinus Alfa Mujijau

PEMBANGUNAN DI INTAN JAYA HARUS ADA KOORDINASI DENGAN MASYARAKAT ADAT

Sugapa – Intan Jaya, Siang itu kami mulai berjalan sambil bercerita menuju Jogatapa dan setibanya disana kami jumpai masyarakat yang sedang menonton pertandingan bola. Wah,.. asiknya bukan main kami juga ikut meramaikan kegiatan tersebut. sementara kami sedang nonton pertandingan tersebut ada yang panggil kami dari arah Kantor Distrik Sugapa. Kami kesana dan menjumpai mereka sambil bersalam – salaman dan kami bercerita sambil menonton bola.

Foto: Misael Maisini
Tepatnya hari senin tanggal 08 Agustus 2011 pukul 12. 29 WPB mereka mengajak kami untuk pergi cerita disamping kantor Distrik sehingga kami bertiga kesana. Disana mereka menyampaikan keluhan mereka yang selama ini di abaikan oleh Pemda Intan Jaya maupun para Kontraktor di Sugapa.

Kami sudah serahkan tanah ke pemda Intan Jaya dan tanah – tanah yang awalnya sudah digusur tidak dibangun bangunan sehingga rumput tumbuh lalu mereka mengusur tanah – tanah baru dan membangun bangunan ditempat yang baru gusur, hal ini kami sangat tidak senang, karena tempat – tempat keramat juga digusur tanpa sepengetahuan kepala suku Sambilli, Thom Abugau.

Sehingga harapan kami kedepan harus mengetahui kepala suku, sebab kepala suku yang tahu persis tentang alam dan tanah, dia tahu dimana tempat -tempat keramat dan dimana tempat – tempat bukan keramat, jangan datang dan membangun tanpa sepengetahuan kepala suku dan masyarakat setempat, tegas Damaskus Sani.

Bangunan – bangunan yang dibangun disinipun sangat membingungkan kami, karena dalam satu lokasi ada berbagai kantor yang bercampur baur. Kami akan bingung karena disitu ada kantor dinas Kesehatan, dinas DPU, kantor KPU maupun kantor – kantor yang lain dan juga rumah – rumah para pejabat tidak dibangun satu tempat, semua kantor dan perumahan kocar - kacir.

Hal ini akan membuat kami masyarakat bingung di kemudian hari. Kemudian hari apabila ada urusan di kantor dan lain sebagainya yang jelas dari satu tempat kami akan ketempat yang lain. kami usulkan agar kedepannya pemda Intan Jaya harus bangun satu dinas dalam satu lokasi demikian juga dengan dinas – dinas lain, jangan kocar – kacir seperti bangunan yang sudah ada ini, Tambah Yohanes Tigau.

Akhir – akhir ini kami melihat banyak persoalan, terutama Minuman Keras yang sudah beredar disini, ini sangat berbahaya dan berbahaya bagi kabupaten Intan Jaya. dimana – mana persolan selalu terjadi karena dipicu dari mengkonsumsi minuman keras. Minuman keras ini harus dimusnahkan dari sekarang dan semua pihak harus mengambil sikap tegas terutama Dewan Adat Intan Jaya dan Pemda Intan Jaya. Jika pengedar miras ini dibiarkan, maka daerah ini akan menjadi daerah merah. Oleh sebab itu harus diatasi sebelum terjadi, tegas Yohane Tigau.

Akar Rumput Intan Jaya Mengharapkan Jiwa Seorang Pemimpin

Bukan saatnya kita percaya basa-basi, tapi tindakan nyata di ditengah – tengah akar rumput. Uang bukan patokan atau ukuran, tapi yang menjadi Patokan atau ukuran adalah Sebuah bukti dari perputaran Roda Pembangunan di negeri Intan sesuai dengan apa yang di harapkan oleh masyarakat akar rumput.

Foto: Mepa
Pemimpin di negeri Intan harus melayani dan beta tinggal dengan akar rumput koteka dan cawat.Para Pemimpin Intan Jaya bersama Masyarakat.

Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang selalu merasakan penderitaan akar rumput dan juga pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mengadakan komunikasi langsung antara atasan dan bawaan begitu juga antara bawaan dengan atasan sehingga melahirkan suasana saling mengoreksi dan saling melengkapi. Jika ada suasana saling mengoreksi dan saling melengkapi antara atasan dan bawaan demikian juga antara bawaan dengan atasan, maka roda pembangunan intan jaya akan lebih baik dan lebih maju dari sekarang.

Ini yang dikatakan pemimpin yang merasakan penderitaan akar rumput negeri Intan. Sehingga pemimpin merasa masyarakat akar rumput merupakan satu bagian yang tak dapat dipisa-pisakan dari pada-nya. Ibarat satu anggota tubuh yang terdiri dari mata, telingga, hidung, tangan, kaki dan lain Sebagainya, contohnya apabila tangan kita terpotong oleh pisau atau suatu benda, maka yang akan merasa sakit adalah satu anggota tubuh itu, yaitu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.

Namun sebaliknya apabila tidak terjadi komunikasi, saling melengkapi, saling mengoreksi antara atasan dengan bawaan dan bawaan dengan atasan, maka yang menjadi korban pembangunan dan korban politik adalah akar rumput Intan Jaya. Jiwa seorang pemimpin harus merasakan keluhan, kelemahan, kekurangan dan harapan-harapan dari akar rumput Intan Jaya, pemimpin dan bawaan harus mengadakan evaluasi dalam setiap dua bulan entah itu antara atasan dan bawaan dan juga bawaan dengan atasan serta bawaan dengan pihak berkompeten lainnya.

Hal ini dilakukan agar sikap seorang pemimpin benar-benar memahami dan mengetahui penderitaan akar rumput serta melihat, mempelajari dan menjawab keluhan – keluhan mereka. Untuk melihat, mempelajari dan menjawab keluhan – keluhan akar rumput bukanlah hal yang mudah semudah membalik telapak tangan langsung jadi, namun dibutuhkan waktu dan proses.

Dalam waktu dan proses tersebut dibutuhkan kejujuran, kesetiaan, kebijaksanaan, ketaatan, keberanian dan ketenagan serta saling menerima dan menghargai antara atasan dengan bawaan, demikian juga sebaliknya.
“Pemimpin yang baik berawal dari bawaan yang Baik dan Bijaksana serta Sonowi yang baik berawal dari Kogome yang baik dan Bijaksana”,..Semoga,.!!!

Penulis Adalah Anjing Jalanan/Keago – Keago Home
Tinggal di Port Numbay – Papua Barat

Persaingan Versus Pembangunan di Intan Jaya


           
Pemerintah kabupaten adminsteratif Intan Jaya telah berjalan kurang lebih delapan bulan,setelah mentri dalam negeri melantik MaximusZonggonau sebagai pejabat bupati.Namun secara efektifnya dapat dikatakan enam bulan,terhitung sejak pejabat bupati mebentuk kabinet dan melantik para pejabat esalon II,III,IV Diakui atau bahkan dilupakan pun, walaupun usianya baru seumur jagung dalam menjalankan roda pemerintahannya selama  beberapa bulan terakhir telah banyak menunjukkan keberhasilan melalui sejumlah sektor pembangunan daerah.

Foto: Misael  Maisini
Hasil tersebut tentu merupakan keberhasilan seorang pejabat bupati serta kebanggaan daerah dan masyarakat,supaya nama Intn Jaya menjadi harum di kancah daerah hingga Nasional. Sebagai pejabat bupati yang memiliki ‘pekerjaan rumah’ yang harus ia laksanakan, sudah barang tentu bukan pekerjaan mudah semudah membalik telapak tangan langsung jadi.

Disatu sisi ia dikejar oleh waktu, karena ada ketentuan batasan waktu yang diberikan oleh pemerintah pusat untuk menggerakan roda pemerintahan Atministrasif Intan Jaya dalam periode tertentu dan disisi lain  ada banyk harapan, keluhan dan kebutuhan rakyat yang perlu dijawab dalam wakyu yang sama. sehingga tugas mulia yang diembanya, ibarat ‘sambil menyelam minum air yaitu melaksanakan tugas yang dipercayakan pemerintah pusat sambal menjawab kebutuhan dan tuntutan masyarakat didaerah kepemimpinannya. Namun sebaliknya selama beberapa bulan roda pemerintahan Adminstertif Intn Jaya berjalan ada saja pemalangan dan keributan terus terjadi di kantor penghubung yang letaknya di siriwini itu.

Ada apa dengan bangunan mewah bercat pernis tersebut ?. Ketika mengintip kedalam, ternyata nampak terlihat sekelompok orang datang dengn baju keki hansip penuh wibawah namun penuh kecewa dan pesimis terhadap roda pemerinthan yang sedang berjalan.

Ada apa di dalam bangunan mewah yang dibangun oleh para tukang dengan kontruksi bangunan tahan gempa ini ? Ternayata, setelah menengok ke dalam, selain pejabat bupati yang dilantik  berdasarkan SK Menri Dalam Negeri, ada juga ‘bupati- bupati kecil’ yang berkuasa dan meminkan peranya atas pemerintahan Adminstratif intan jaya. Akibatnaya nampak tercipta golongan dan kelas-kelas yang menimbulkan kesenjangan cukup pemprihatinkan. Ada yang merasa diri golongan kelas satu ada pula dikelasduakan dan seterusnya.

Memang tidak menjadi soal, entah dinomor satu atau dinomorduakan yang paling penting adalah tidak mempengaruhi visi dan misi pejabat bupti. Ibarat halnya orang lian yang makan nagka, tetapi lainyaa yang kena getanya. sehinga entah dengan maksud terselubung atau tidak bau dampakny tidak mempengruhi kinerja kepemimpinn pejabat bupti serta yang paling dikuatirkan rakyat jelata ditingkat akar rumput, sebab memang dalam hal kondisi rakyat dengan keadaan yang kumu dan polos terhadap semu pengaruh, perubahan dan masalah karena mereka harapkan adalah bagimana merasakan segarnya angin pembangunan dan perubahan setelah hadirnya intan jaya ditengah merek.

Namun harapan itu tinggalah harapan semata. Karena yang sedang terjadi adalah ‘kekuasan dan kepentingan’ melulu disemua lini pembangunn. Mengapa tidak, setelah dikelurkanya Undang-Undang Daerh Otonomi baru dengan nama Intan Jaya bersama pejabat Bupati disusul lagi dengan penyusunan kabinet dalam pemerintahan Administeratif hany nama dan waja bupti yang ada ditengah masyarkat.

Bukan tanpa Alasan masyarakat diwilaya Intan Jaya tahu hanya bersyukur kehadiran kabupaten Intan Jaya secara simbolis saja, karena para pejabat dengan proses administersinya bukan dijalankan diintan jaya, namun justru di Nabire.
Selama proses administerasi dijalankan dinabire dengan Alasan kantor penghubung di Nabire yang letaknya di Sriwini para  kepala SKPD juga semu mengontrak sejumlah rumah, bahkan rumah pribadi dijadikan sebgai kantor.

Mungkin  belum cukup dengaan kantor penghubung di Sriwini dan ditambah lagi dengn motor bebek plat merah berwarna hijau merek Jupiter yang perna dibagikan kepada para kepala SKPD lagi- lagi mengontrak rumah.

Kantor Bupati Intan Jaya, Foto: Robby Migau
Motif apa dibalik semu itu ?Apakah dan hibah hanya unutk menunjang tugas para kepala SKPD dan merasa diri besar pangkat dan golongan besar saja lalu bagimana dengan penunjang kebutuhan bagi staf dan golongan kecil, karena soal golongan dan jabatannya memang beda tapi kebutuhan hidup  di Nabire kan sama toooo,..…………….Kenapa suru dataang berkantor di Nabire tapi penunjang tugasanya hanya diberikan kepada yang golongan besar saja. Apa lagi jarak tempat tinggal warga intan jaya lebih banyak bermukim disekitar Karang Tumaritis dan Gerbang sadu. Ketimbang para kepala SKPD dan mereka yang merasa diri golongan kelas satu yang hanya cukup mengelurkan ongkos bensin tidak lebih dari sepuluh ribuh per hari.

Dari kondisi dan pengalaman ini, mukinkah pembangunan intan jaya akan dijalankan dengan balas dendam sesuai periode kepemimpinanya. Tercipta jurang dan gep-gep. kalau demikian siapa yang untung dan siapa yang rugi,.? Tentu saja hanya para elit politik yang notebane penguasa dan penguasa semakin menjadi Konglo-merat sementara rakyat jelata sedang konglo- melarat.

Bahkan lebih disesalkan lagi adalah rakyat Intan Jaya belum mengetahui wajah dan kinerja para pejabat yang perna dilantik bupati dan karya nyata ditengah-tengah masyarakat belum ada, namun dikagetkan  sengan isu pemilukada dan justru cikal bakal kandidatnya adalah para pejabat yang kinerjanya belum diketahui etnis kotek dan cawat di intan jaya itu,entalah,..................


                                     Penulis adalah sala satu tokoh pemudah Intan Jaya tinggal di
                                     Bumiwonerejo, Nabire ( Martinus Alfa Mujijau).


MIGANI MENE: KATAKAN TIDAK PADA SAPUSA


Katakan Tidak Pada Sapusa, Berarti Tidak Ikut Menyanyi Sapusa, Tidak Me - Rekam lagu – lagu Sapusa entah di Hendphone, di Laptop maupun di alat bantu lain - nya.
Kawan – Ku Sebelum Kau Merubah Diri Sendiri, Jangan Harap Kau Mau Rubah Diri Orang Lain. Bagimana kau mau mengajak Orang Lain Untuk Katakan “Tidak Pada Lagu Sapusa”, Sedangkan Kau Sendiri Masih Cinta Lagu Sapusa dan Ikut Menyanyi, Merekam dan Melakukan - nya. 

PERUBAHAN Itu di Mulai Dari Diri Pribadi dan ke Kelompok, maka di sana akan Tercipta Suatu Perubahan.

Kawan – Ku,…. Sadarlah,….Bahwa;
TUHAN ALLAH Menempatkan setiap SUKU di setiap Dearah dengan budaya mereka masing – masing. Demikian juga Budaya SUKU MIGANI di Tanah Migani.  Budaya Migani di berikan TUHAN ALLAH kepada nenek Moyang Migani untuk di teruskan dari Generasi ke Generasi. 
Ataukah,.? Nenek Moyang Migani pernah belajar kah,..??? Mengenai bagimana cara buat Rumah,.?  bagimana cara menyanyi,.? Bagimana cara buat Kebun,.? Bagimana Cara Buat Cawat dan Koteka,.?  dan cara – cara lain – lain,..!!! Penulis rasa TIDAK,..!!! karena  Budaya itu di berikan Cuma – Cuma dari TUHAN ALLAH kepada Tiap – Tiap SUKU di setiap daerah dan wilayah Untuk di Teruskan dari generasi ke generasi.  

Mulai Saat Ini Generasi Harus Sadar Akan Hal ini, Karena Cara yang selalu digunakan oleh neo- kolonial di belahan dunia  mana saja adalah bagimana meng - Hancurkan Budaya Kaum Pribumi.  Ketika budaya Kaum Pribumi sudah dihancurkan, maka “Jati Diri” sebagai orang pribumi terhilang; jika ini yang terjadi, maka Dasar Pijakan ter - Hilang, Hancur dan kehilangan Arah Hidup, setelah budaya dihancurkan dan dimusnahkan oleh Neo - Kolonial,  maka neo- kolonial “Akan Menguasai Tanah dan Kekayaan Alam Kaum Pribumi”.  Begitu tanah dan kekayaan alam sudah di Kuasi oleh Neo- Kolonial, maka habis juga kaum pribumi di atas tanah leluhur mereka.

Kawan – ku,…Bukalah Mata – Mu dan Lihatlah,...!!!

Rumah Adat Suku Migani; Foto; Martinus Nayagau
Budaya Migani Saat ini Terkikis dengan Sendiri - nya dan Mulai Punah dari Bumi Intan Jaya. Jika Generasi Saat Ini Tidak Sadar Akan Hal ini, maka Budaya Migani Akan Punah dan Punah dari Bumi Intan Jaya. 

Kebenaran Dapat di Salah - kan, Tetapi Tidak Dapat Di Kalah - kan, Karena Kebenaran Tetaplah Kebenaran




SALAM PERUBAHAN,…!!!
APA YANG ENGKAU TABUR KINI, ENGKAU AKAN MENUAINYA

Masyarakat Intan Jaya Jangan Hanya Ingat Makan Hari Ini dan Pakai Hari Ini

Pemandangan Negeri Intan, Foto; Martinus Nayagau
Berbagai fakta membuktikan bahwa sumber daya alam hilang akibat dari kaum pribumi dengan sengaja maupun tidak sengaja melepaskan lahan secara besar – besaran hanya untuk mendapatkan keuntungan sesat. Hal ini juga diakibatkan dari harapan kaum pribumi akan mendapatkan hidup yang lebih baik jika menjual tanah atau melepas lahan kepada para pembeli atau para pengusaha, namun sebaliknya kaum pribumi kehilangan sumber – sumber hidup setelah menjual tanah atau lahannya kepada pengusaha. 

Pengusaha juga kadang memanfaatkan keterbatasan dan ketertinggalan kaum pribumi untuk membuat usahanya dilahan yang telah dilepaskan oleh kaum pribumi, sehingga para pengusaha tidak pernah membuat perjanjian yang jelas dan pasti untuk kaum pribumi. sehingga kaum pribumi pada akhirnya tidak bisa berbuat apa – apa, karena telah ditipu oleh pengusaha dengan jaminan yang tidak jelas dan tidak pasti.

Sesuai pantauan “Komunitas Mahasiswa Independen Somatua Intan Jaya” (KOMISI) dari Magataga sampai Mbulu – mbulu pada bulan juli sampai dengan Agustus tahun 2011 di Intan Jaya telah melihat lahan Hutan yang telah dilepas oleh masyarakat kepada pengusaha kayu di sepanjang jalan Duginduga menuju Kemadoga tepatnya di Migipigumba Intan Jaya.

Hutan – hutan yang dianggap keramat oleh nenek moyang pun dibabat habis tanpa peduli akan leluhur yang menghuni alam tersebut, karena yang diharapkan masyarakat “Hanya Ingat Makan Hari Ini dan Pakai Hari Ini” sehingga tempat dimanah Roh – roh dan arwah – arwa para leluhur tinggal tidak di pedulikan oleh masyarakat. Namun disisi lain sebenarnya roh – roh dan arwa – arwa para leluhur itulah yang melahirkan, menyusui dan membesarkan kaum pribumi untuk menikmati alam yang telah ada.

Saat ini roh – roh dan arwah – arwah tidak akan menyakiti kaum pribumi yang menjual tanah dan hutan, tetapi akan dirasakan pada beberapa tahun mendatang, karena ditempat itulah kaum pribumi dilahirkan dan dibesarkan, namun kaum pribumi tidak sadar dan masih terus menjual tanah dan hutan.  Disisi lain  hutan dan kayu tidak akan dinikmati oleh anak dan cucu mereka, karena telah di jual habis.

Masyarakat Intan Jaya perlu sadar dan tahu bahwa pohon – pohon atau hutan – hutan berada didekat pinggiran rumah dan bukit – bukit kecil sedangkan di gunung hanya terdapat pohon – pohon kecil yang dalam bahasa setempat mengatakan (Tugapa), oleh sebab itu “Komunitas Mahasiswa Independen Somatua Intan Jaya” (KOMISI) menegaskan kepada seluruh masyarakat Intan Jaya dari Anepone – Sanepone sampai Mbulu – Mbulu bahwa harus membuat perjanjian yang jelas dan pasti dengan pengusaha kayu atau hutan. 
Jika pengusaha kayu tidak membuat perjanjian yang jelas dan pasti kepada masyarakat, jangan masyarakat coba – coba untuk melepaskan lahan, karena pada akhirnya masyarakat yang akan mengalami segala kerugian, yaitu berupa tempat keramat, hutan maupun kayu dan juga generasi tidak akan menikmati. 

                                                            Oleh Misael Maisini



MENJADI MANUSIA YANG SESUNGGUHNYA MELALUI BUDAYA

*) Oleh Frans Sondegau
Setiap suku - bangsa memiliki kebudayaannya masing-masing dan setiap orang dila- hirkan dalam budaya itu, sehingga apa yang dibuatnya sesuai dengan kebudayaannya, seperti gambar di bawah ini. 
Adat Suku Moni/Migani, Foto Frans Sondegau
Kebudayaan berarti bahwa dunia dengan sadar diangkat ke dalam rencana kehidupan setiap suku-bangsa. Artinya kebudayaan adalah pedoman hidup yang dengan sadar, harus dipegang dan dipatuhi untuk hidup yang lebih lama! Karena, budaya sebagai dasar atau penunjuk hidup yang diturunkan dari nenek-moyang, untuk keturunannya demi kehidupan yang aman, nyaman dan teratur.
Untuk mewarisi budaya itu, orang tua meneruskan kepada anaknya, berupa nasehat, agar anaknya bisa mempunyai masa depan yang cera, berdasarkan nasehat itu. Oleh sebab itulah, ketika seorang berbuat hal-hal yang tidak diinginkan atau tidak sesuai dengan budaya yang dimilikinya maka, banyak orang selalu mengatakan; “Pupugu mene au” (Manusia angin/manusia tidak punya adat).

 Manusia yang tidak  tahu adat, berarti; Mereka bagaikan pohon yang tidak mempunyai akar, yang hanya tumbuh di atas udarah begitu saja. Apakah pohon seperti ini bisa tumbuh lebih lama? Lalu bagaimana dengan orang yang tidak tahu adat? Yang jelas adalah orang yang tidak tahu adat, tidak bisa hidup lebih lama, sebab dia tidak tahu nilai-nilai yang diwariskan oleh orang tuanya melalui nasehat, sebagai pedoman hidup.

Suku Migani adalah suku yang kuat dengan budaya dan kaya dengan nilai-nilai budaya yang luhur berdasarkan konsep nama Emoo.
Suku Migani tidak suka yang namanya permusuhan, perzinahan, perkelahian, perang suku dan lain-lain, singkatnya, “Biga dua augo nggaeo, Emoo senggapao nata mene” artinya mereka tidak suka dengan hal-hal yang tidak disukai oleh banyak orang sebab Emoo sedang memperhatikan mereka. 

Kadang banyak orang selalu bertanya-tanya katanya; “Memang saya tahu bahwa setiap suku memiliki budayanya masing-masing, tetapi seperti apakh kebudayaan itu? Nilai-nilai apakah yang diwarisi oleh nenek-moyang untuk diwarisi oleh anak-cucunya?”.
Di bagian awal, sudah dijelaskan bahwa kebudayaan adalah pedoman hidup yang dengan sadar, harus dipegang dan dipatuhi oleh setiap suku, untuk hidup yang lebih lama! Karena, budaya sebagai dasar atau penunjuk hidup yang diturunkan dari nenek-moyang untuk keturunannya, demi kehidupan yang aman, nyaman dan teratur!  Oleh sebab itu, nilai-nilai yang diturunkan dari nenek-moyang Suku Migani, berupa nasehat adalah sebagai berikut:
 “Aganawaga aumba nggane duame” (Kasihilah sesamamu) sebab jika engkau mengasihi sesama maupun musuhmu, maka engkau tidak akan mengalami kesusahan, karena sesamamu dan terutama Emoo akan mengasihi engkau!
 Mene noa sege kiduame” (Jangan mencuri) sebab Emoo sedang memperhatikan engkau!
 Mene wagakimapuame” (Jangan membunuh) sebab darah orang yang anda bunuh, selalu mengikut dan menghalangi/mengutuk seluruh perjuangan hidupmu!
 Mene ne segema dole kihimbuame“ (Jangan menipu), karena jika engkau menipu, bisa terjadi perang besar antar  saudara!
 Tubaga kiduame” (Jangan berzinah), karena jika engkau buat zinah, saudara-saudaramu akan melempari dengan batu dan membunuhmu, lalu akan dibuang dalam sungai! (homage sego bindia/tane paya)
 Aga mbai mina inigata dupiduame“ (Jangan mengawini marga-marga tertentu) karena alasan pertama; asal nenek-moyangmu satu/sama. Kedua; jika engkau mengawini marga yang sebenarnya tidak bisa kawin, hidup engkau dan keturunanmu tidak akan hidup lama (umur pendek)!”. Hal ini memang terjadi dan nyata dalam kehidupan Suku Migani.
 Mene noa dumugu-damaga kiduame“ (Jangan menginginkan atau merampas hak orang lain) sebab Emoo akan memberikan segala yang engkau inginkan, karena pasti semuanya itu Dia sudah atur untukmu dan untuk mereka sedemikian rupa, dan ada saatnya untuk engkau menerimanya. Tetapi itupun harus dengan kerja keras dan usaha darimu, jadi jangan pernah tinggal diam karena semuanya itu tidak mungkin dia sendiri turun dari langit!”. Dan ada berbagai macam nasehat yang selalu diingatkan oleh orang tua kepada anaknya untuk hidup yang sesuai dengan orang lain inginkan, maupun Emoo yang dimaksudkannya.
Nilai-nilai inilah yang menjadi pedoman hidup bagi Suku Migani, pada umumnya. Belum lagi, nasehat-hasehat rahasia yang diberitahukan secara khusus oleh orang tua, kepada anak sulung atau anak yang dikasihinya.  Dan nilai yang paling menonjol dalam Suku Migani adalah Kasih! Mengapa? Buktinya bahwa; walaupun dalam peperangan besar, musuh menyerang dan satu atau dua orang kesulitan jalan karena dikepung oleh musuh, mereka akan membiarkan/membebaskan orang tersebut, untuk tetap hidup. Atau jika dalam peperangan itu, dari pihak musuh seorang, tali busurnya putus atau anak panahnya habis, maka dari pihak sebelah akan berikan anak panah atau tali busur, lalu mereka katakan; ”Pasanglah busurmu dan lawanlah!” atau “Ambillah anak panah ini dan lawanlah!”.
          Dalam peperangan besar saja, Suku Migani melakukan hal demikian! Apalagi dalam hal-hal kecil, dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu berasal dari mana? Memang, yang jelas dari Kasih! Dan Kasih itu berasal dari Hati, dan mereka selalu mengatakan bahwa suara hati adalah suara Emoo yang tidak jauh dari kehidupan dan yang campur tangan dalam seluruh kegiatan dan  kehidupan mereka. Oleh sebab itulah, semua perbuatan, kata-kata/nasehat maupun tujuan mereka hanya merujuk pada Emoo sebagai Penguasa yang Tertinggi.

Di dewasa ini, hampir semua orang tidak mengenal adat istiadat sebagai budayanya sendiri dan tidak mengakui budaya sebagai pedoman hidup lagi, bahkan membenci budayanya  sendiri, khususnya bagi kaum muda. Pemikiran seperti ini muncul, dengan alasan; “Ini adalah zaman perkembangan dan kami adalah kaum intelektual”.
Apakah zaman berkembang, untuk meniadakan budaya atau adat-istiadat? Memang, itu benar bahwa zaman ini adalah zaman modern/perkembangan! Tetapi kita harus melihat kebiasaan-kebiasaan mana yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman! bukan berarti untuk meniadakan budaya seluruhnya. Karena, jika seorang tahu tentang budayanya sendiri, berarti ia menyadari dirinya sendiri dan apa yang dibuatnya dan ia sedang mengangkat jati dirinya, demi kehidupan serta keturunannya untuk masa depan.
 Saya merasa sangat aneh, ketika melihat banyak anak muda (Migani) sekarang, yang tidak tahu sama sekali bahasa daerahnya sendiri, apalagi nama Emoo dan maknanya. Jika bahasa daerah sendiri saja tidak tahu, bagaimana kita bisa tahu budaya kita? Itu wajar dan maklum..! karena banyak anak yang lahir-besar di kota dan daerah-daerah yang jauh dari daerah asalnya. Tetapi, apakah orang tua juga tidak tahu bahasa daerah sehingga tidak bisa ajarin bahasa daerah kepada anaknya? Ini bukan kesalahan anak tetapi juga kesalahan dari orang tua! Mengapa harus tahu bahasa daerah, minimal bahasa sehari-hari? Sebab, dalam bahasa daerah itulah tersembunyi makna terpenting dari budaya kita. Oleh sebab itu, saya harap  kita harus tahu sedikit tentang budaya, khususnya, bagi putra-putri Intan Jaya. 

Saya sebagai anak Migani menegaskan, kita yang berasal dari Suku Migani, “Lihatlah di bawah telapak kakimu, karena jauh dari kaki anda adalah budaya orang lain bukan budayamu!” memang bisa saja untuk ditiru budaya orang lain atau budaya perkembangan, tetapi jangan sampai kita dihanyutkan dalam budaya itu. 
Kita adalah anak budaya dan saya yakin, jika kita berjuang berdasarkan budaya, pasti kita akan menjadi orang yang sukses. Dengan melihat situasi sepeti ini, berbagai pertanyaan yang muncul dalam benak hati saya; “Sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang, Apakah anak-cucu kita masih bisa tahu bahasa kita, bahasa Migani? Apakah mereka masih bisa tahu budaya Migani dengan nilai-nilai tersebut di atas? Apakah mereka masih bisa tahu berkebun atau membuat rumah yang asli ciri khas Suku Migani? Karena kita saja sudah tidak tahu lagi!  Jadi, berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, harapan saya untuk ke depan, jika anda dan saya mau turun sosialisasi di Intan Jaya, hal-hal yang perlu diingatkan kepada masyarakat kita Suku Migani adalah sebagai berikut:
Ø Ingatkan nilai-nilai yang sudah ditulis di atas, berdasarkan nama Emoo! Karena mungkin mereka sudah diombang-ambingkan oleh perkembangan zaman, apalagi sekarang sudah pemekaran kabupaten baru yang pengaruh atau arus perkembangannya sangat kuat!
Ø Diberitahukan kepada masysarakat Migani; Rahasia yang dulu hanya untuk anak sulung, berikanlah juga kepada anak-anakmu yang lain, jika anda mau, anak-anakmu tetap tahu tentang budaya - nya, sebab mereka bukanlah anak orang lain yang anda piara!
Ø Kepada kaum muda, kawinlah istri dari Suku Migani sendiri, jika anda ingin, anak-cucumu tetap Migani dan tahu budaya - nya!

Ø Ingatkan mereka untuk kerja, sebab fakta membuktikan bahwa banyak masyarakat yang selalu mengatakn, jika ada masalah mereka katakan, “masalah ini kita tunda supaya uang turkam datang baru kita selesaikan!”. Ingatkan mereka bahwa, uang turkam, otsus atau respek, bukanlah uang dari nenek-moyang anda. Ingat kata yang dulu nenek-moyang pakai, “aga iwa nggaga go nua tuikine! Dua dia nua nuya. Ingat itu!
Ø Jangan menjadi manusia perkembangan zaman! Ingat  TUHAN yang dulu nenek-moyangmu sebut dengan EMOO!!!!!! Sebab baru mekar kabupaten baru saja, masyarakat sudah jauh dari GEREJA.
Hiduplah sebagai seorang yang hidup berdasarkan budaya, jika anda ingin hidup  lama di muka bumi ini.


“Manusia baru menjadi manusia sesungguhnya, lewat kebudayaanya! Ini merupakan suatu proses yang mempersatukan kesadaran dengan apa yang dibuatnya, demi kehidupannya.”

Ora Et Labora
SALAM PERUBAHAN,…!!!
“APA YANG ENGKAU TABUR KINI, ENGKAU AKAN MENUAINYA”
                                      
Penulis adalah Anggota KOMISI Seksi Kerohaniaan, Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT) Fajar Timur