Lagi, Jalan Raya Sugapa Hitalipa Di Palang dan Masyarakat Menyatakan Boikot Pilpres


Zadrak Nawipa, Linus Tabuni dan Karel Ogajau (Foto: Misael Maisini)
INTAN JAYA – Pemalangan di tempat ini sudah tiga kali dilakukan, karena selalu terjadi ketidakadilan dalam pemerintahan kabupatten intan jaya. Hal ini dijelaskan Benyamin Maisini ketika wartawan menghubungginya nomor kontaknya 0852 – 4485 – 0187, di tempat kejadian perkara , Rabu 21 Mei pukul 12. 00 Waktu Papua. 

Benyamin Maisini Menjelaskan; pada bulan Maret 2013 lalu di tempat ini pertamakali dilakukan pemalangan, karena pembagian esalon II, III dan IV yang tidak merata. Dan pemalangan kedua dilakukan pada bulan maret 2014, karena dualisme Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) inan jaya dan dualisme Panitia Pemilihan Distrik (PPD) dan saat ini masyarakat lakukan pemalangan, karena Suara dari masyarakat telah dicuri oleh KPU dan kasih ke Caleg lain, sehingga masyaraka intan jaya meminta suara dari lapangan itu yang harus diplenokan dan ditetapkan oleh KPU. 

Lanjut Maisini; jika KPU Tidak lakukan pengembalian suara kepada masing-masing caleg, maka pemilihan umum presiden akan diboikot. Karena Ketua Pokja Provinsi Papua, Zadrak Nawipa saat tiba di Sugapa dan berbicara dihalaman Polsek Sugapa bahwa; Berita acara pemilihan umum tahun 2014 Cuma satu sehingga suara dari Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang akan di rekap oleh PPD sehingga KPU tinggal pleno dan penetapan. 

Benyamin Menambahkan; KPUD intan jaya, Linus Tabuni saat itu juga pernah katakan; hal yang sama seperti kata-kata Zadrak Nawipa; suara dari lapangan itu yang dibawa ke KPUD, Suara tersebut jangan bawa pada pagi hari atau siang hari, tetapi masyarakat bersama TPS dan PPS bawa suara itu pada siang hari. Kalau pagi hari atau malam hari kami KPUD tidak akan terima.  “A begawogo ngela mbogindagangga nata wuguma dameaa nene, tibaguma na tawa timunggga na tawa dogomayaa tai nonopa dameaanimbuame’’.

Masyarakat yang lain, Ananias Sondegau juga mengatakan Boikot Pemilihan Presiden, jika suara dari lapangan tidak dikembalikan ke masing-masing Caleg Kabupaten maupun caleg Provinsi. Sondegau menambahkan; KPU Intan Jaya tidak akan turunkan suarat suara untuk pilpres di intan jaya, karena KPU tidak kembalikan suara rakyat.

Sebelumnya, selasa 20 Mei 2014 pukul 19. 25 Beny Tipagau saat menghubungnya dinomor kontak; 0812 – 4000 – 2227 di tempat kejadian perkara, Beny menjelaskan; sebenarnya masyarakat tidak ingin melakukan pemalangan, jika KPUD intan jaya dan oknum-oknum tertentu melakukan pleno di intan jaya secara langsung, umum, bebas dan rahasia. lanjutnya; masyarakat minta keadilan dari KPUD dan Oknum-oknum tertentu supaya suara dari rakya itu yang diplenokan dan ditetapkan.
wartawan bertanya siapa-siapa yang melakukan pemalangan, Tipagau menjelaskan;  tidak bisa bilang siapa-siapa, tetapi pemalangan ini dilakukan oleh masyarakat dari delapan distrik yang ada di kabupaten intan jaya yang menuntut keadilan, tegasnya. 

Ditempat yang berbeda sala satu DPRD Kabupaten Intan Jaya mengatakan; kami sudah sampaikan kepada kapolda papua Tito Karnivan bahwa suara dari masyarakat itu yang dipleno dan ditetapkan, jika hal itu tidak dilakukan, maka kami masyarakat intan jaya akan boikot pemilihan presiden. Lanjutnya; kami juga sudah sampaikan ke kapolda bahwa; kami minta suara dari rakyat dan apabila itu tidak dikembalikan, maka akan terjadi perang di intan jaya, namun Kapolda Papua, Tito Karnivan tidak tanggapi hal itu.

Sementara ditempat yang berbeda, Rabu 21 Mei 2014 pukul 11. 25 Waktu Papua, ketika wartawan menghubunggi Aner Maisini dari Partai Amanat Nasional (PAN) nomor urut sembilan yang maju caelg di DPR-P dengan nomor kontak: 0813 – 4062 – 9497, Aner menjelaskan; Panitia Pemungutan Suara (PPS) dan Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) sudah serahkan berita acara dari tiap-tiap kampung di kabupaten intan jaya kepada Panitia Pemilihan Distrik (PPD) agar lakukan. Rekapan itu sudah diserahkan ke KPUD intan jaya, namun kenapa KPUD ke Biak dan lakukan pleno dan penetapan di hotel Aston Jayapura.   

Lanjut Aner ; perolehan suara dari lapangan untuk sebelas (11) caleg yang maju di DPR-P diahlikan untuk satu Caleg. Caleg tersebut memperoleh suara dilapangan tiga ribu suara (3. 000) dan setelah tiba di jayapura suara caleg tersebut bertambah menjadi enam puluh satu ribu (61. 000) suara. Hal itu menurutnya; sejarah baru kehancuran daerah yang segaja diciptakan KPUD dan oknum-oknum tertentu di intan jaya, karena suara dilapangan Partai PAN yang menang dengan perolehan suara dua pulu empat ribu enam ratus enam puluh enam suara yang di alihkan ke caleg attas nama Thomas Sondegau dari partai Demokrat nomor urut tujuh.  
Aner melanjutkan; mendesak Komisi Pemilihan Umum Provinsi (KPUP), Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) dan Makama Konstitusi (MK) untuk segera meninjau kembali kecurangan yang dilakukan KPUD inta jaya dan segerah memberhentikan tiga KPUD intan jaya. 

Wartawan menyanya; tiga orang KPUD intan jaya yang diminta untuk diberhentikan itu siapa-siapa? Aner mengatakan; Linus Tabuni sebagai Ketua KPUD intan Jaya, Linus Bagau sebagai ketua Pokja kabupaten intan jaya dan Serpianus Sondegau, karena agenda nasional yang sengaja ingin dibatalkan oleh KPUD, jadi ini bukan salah masyarakat dan masalah para caleg.  Lanjutnya; sebenarnya yang ciptakan masalah adalah tiga KPUD tersebut sehingga apapun masalah yang akan terjadi kemudian hari di intan jaya harus di tagung oleh KPUD atas kecurangan-kecurangan yang dilakuakan selama pemilihan calon legislatif kabupaten intan jaya 2014 ini, Tegasnya. 



Bermasalah, KPUD Intan Jaya Diadukan Ke Bawaslu

Linus Tabuni, Ketua Kabupaten Intan Jaya (baju putih), dan kedua anggota, Linus Bagau dan Serpianus Sondegau (Foto: Oktovianus Pogau/Suara Papua)
PAPUAN, Jayapura — Komisioner Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Intan Jaya diadukan oleh sejumlah saksi partai politik, karena dalam rapat pleno rekapitulasi suara tingkat Provinsi yang diselenggarakan di salah satu hotel ternama di Kota Jayapura, Rabu (7/5/2014) dini hari, dianggap telah menghilangkan ribuan suara partai dan Calon Legislatif (Caleg).
“Kami akan ajukan keberatan atas hasil rekapitulasi suara dari KPUD Intan Jaya kepada Bawaslu Provinsi Papua, karena ada suara kami yang hilang,” kata Isak Rumbarar, saksi dari Partai Golkar dalam sesi pleno.
Ia mengatakan, hasil pleno KPUD Intan Jaya telah menghilangkan ribuan suara calegnya dan caleg dari partai lain.
“Kami ingin KPUD Intan Jaya mengklarifikasi hal ini, bagaimana suara yang hilang. Dan kami segera ajukan form keberatan kepada Bawaslu,” katanya.
Sergius Wabiser, saksi dari Partai PKPI mengaku caleg dari partainya dirugikan karena di dua distrik Kabupaten Intan Jaya, partainya meraih suara sebanyak 16 ribu lebih, tetapi dalam rapat pleno KPUD Intan Jaya ditingkat Provinsi caleg dan partainya tidak meraih suara sama sekali.
“Ini sangat disayangkan, suara partai dan Caleg kami hilang. Kami akan ajukan form keberatan kepada Bawaslu Papua,” katanya.
Sementara itu, saksi dari Partai Gerindra, Irenius Likuboly mengatakan, pihaknya langsung meminta pimpinan sidang rapat pleno Komisioner KPUD Papua, Musa Sombuk untuk segera menghentikan rapat pleno KPUD Intan Jaya karena merugikan para caleg dan partainya.
“Kami secara tegas menolak rapat pleno KPUD Intan Jaya. Kami minta ditutup tanpa tanda tangan kami,” tegasnya.
Secara terpisah, Ketua Bawaslu Papua, Roberth Horik mengatakan, pihaknya telah menerima dan segera memproses aduan keberatan dari para saksi partai dan Caleg terkait rapat pleno rekapitulasi suara KPUD Intan Jaya yang baru saja berlangsung.
“Semua laporan akan kami tindak lanjuti. Ada form keberatan disini, silakan diisi, dan akan kami teruskan,” ujarnya.
Sementara itu, rapat pleno tingkat Provinsi Papua kembali dilanjutkan dengan rekapitulasi suara dari KPUD Kepulauan Yapen yang sebelumnya ditunda karena bermasalah.
LINCOLD ALVI

Pleno KPU Intan Jaya Ricuh, Caleg Terobos Masuk Ruang Pleno

       Terjadi keributan diluar tempat dilangsungkan pleno KPUD tingkat Provinsi (Foto: Oktovianus Pogau/Suara Papua)
PAPUAN, Jayapura — Rapat pleno rekapitulasi suara Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Intan Jaya ditingkat Provinsi, yang digelar di salah satu hotel ternama di Kota Jayapura, pada Rabu (7/5/2014) dini hari, sekitar pukul 04.20 Wit, diwarnai aksi terobos masuk ke dalam ruang rapat oleh sejumlah oknum Caleg yang merasa raihan suaranya dihilangkan.
Wartawan suarapapua.com, yang mengikuti jalannya rapat pleno tersebut sejak Selasa (6/5/2013), hingga dini hari melaporkan, jalannya rapat pleno tersebut sebelumnya berjalan lancar, namun tiba-tiba ada sejumlah oknum Caleg asal Kabupaten Intan Jaya yang menerobos masuk ruang rapat sambil berteriak.
“Kembalikan suara saya sebanyak 24.000 yang hilang. KPUD Intan Jaya telah menghilangkan suara sah saya,” kata Aner Maisini, Caleg Partai Amanat Nasional (PAN) nomor urut 9 dari Dapil III yang dalam pleno tadi memperoleh suara 1.000.
Namun, aksi sejumlah oknum Caleg yang berlangsung kurang lebih lima menit itu dapat segera diatasi oleh aparat kepolisian yang bersiaga.
“KPUD Intan Jaya harus mempertanggung-jawabkan suara yang hilang,” kata Thobias Bagubau, salah seorang saksi.
Komisioner KPUD Papua, Musa Sombok yang memimpin jalannya persidangan langsung menghentikan rapat pleno KPUD Intan Jaya, karena selain mendapat aksi protes dari para oknum Caleg, juga aksi keberatan dari para saksi partai.
“Rapat ini kami tutup dengan penuh keberatan,” katanya.
Sejumlah saksi dari PAN, PKPI, HANURA, PKS, GOLKAR dan GERINDRA secara bergantian mengajukan keberatan dengan hasil suara yang diplenokan oleh KPUD Intan Jaya.
“Partai Golkar juga keberatan dan akan ajukan pernyataan tertulis kepada Bawaslu Papua terkait pleno KPUD Intan Jaya,” kata saksi partai Golkar, Isak Rumbarar.
Ketua Bawaslu Papua, Roberth Horik yang juga ikut memantau jalannya rapat pleno menyampaikan pihaknya akan segera memproses ajuan keberatan para saksi partai terkait pleno KPUD Intan Jaya.
“Semua laporan akan kami tindak lanjuti. Form keberatan yang ada silakan diisi,” katanya.
Sementara itu, rapat pleno tingkat Provinsi Papua kembali dilanjutkan dengan rekapitulasi suara dari KPUD Kepulauan Yapen dan KPUD Sarmi yang sebelumnya bermasalah.
LINCOLD ALVI

Anggota KPUD Baru Di Rombak Tanpa Sepengetahuan KPUD Lama

INTAN JAYA- politik uang terjadi di Indonesia pada umumnya dan khususnya di kabupaten intan jaya, politik uang dalam seleksi penerimaan KPUD Intan Jaya, Pengamanan dan Uang kampanye.

Yanuarius Sondegau dan Misael Sondegau (Foto; Misael M)
Salah satu anggota KPUD Intan Jaya saat bertemu-nya di Jogata Senin 24/03/2014 pukul 3. 15 WPB mengatakan; atas perintah Bupati Intan Jaya dan KPUD Intan telah merombak Anggota KPUD baru tanpa sepengetahuan KPUD Lama. Pada tanggal 07/03/2014 ketua KPUD Intan Jaya telah mengganti Sekretaris KPUD intan jaya dan Sekretaris KPUD Baru dengan inisiatif sendiri dengan mengatakan bahwa ketua KPUD intan jaya tidak tahu tentang Logistik, jadi sekretaris yang baru di angkat ini mengurus Logistik dengan menganti Ibu Endang untuk mengirim logistik ke intan jaya.
Ulah dari sekretaris baru membuat atministrasi keuangan hancur sehingga saat ini kami hanya diberi uang perorang 2 Juta- 2 Juta untuk naik ke intan jaya. jadi saya tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan saat pemilihan DPRD dan DPRP.

Sementara di tempat yang berbeda salah satu Tokoh Masyarakat, Elias Joani mengatakan; Pihak Gereja dan Semua orang yang punya hati untuk kabupaten intan jaya tidak boleh diam ditempat dengan melihat hal ini. dan juga Elias mengatakan bahwa TNI/POLRI yang saat ini bertugas di intan jaya jangan membela yang salah karena di Suap oleh oknum-oknum tertentu, namun TNI/POLRI seharusnya melihat mana yang salah dan mana yang benar, jangan bicara dibibir bilang keamanan namun kenyataanya buat Propokator agar masyarakat saling bunuh-membunuh.
Sementara salah satu Toko Pemuda Jokatapa, Yanuarius Sondegau mengatakan; TNI/POLRI datang ke intan jaya untuk berdagang dan cari bisnis seperti Judi Togel yang dalam satu bulan dibayar 18 Juta, Minum Mabuk, tukang ojek, pedagang, Adu Ayam dan operator sensor. Tugas sebagai keamanan haruslah di fungsikan sesuai dengan keadaan masyarakat intan jaya bukannya nonton-nonton dan membela orang yang sebenarnya sudah bersalah.

Yanuarius Sondegau juga mengharapkan agar Mahasiswa dan intelektual intan jaya yang ada di lapangan tidak  mempropokasi masyarakat intan jaya, karena masyarakat masih awam sehingga mereka akan mengikuti apa yang di sampaikan oleh mahasiswa dan intelektual. Oleh sebab itu tugas dan tagungjawab mahasiswa dan intelektual intan jaya adalah bagimana mengarahkan masyarakat ke jalan yang benar  supaya masyarakat memilih Celeg sesuai dengan hati nurani mereka tanpa dibayar atau dibujuk-bujuk.

Ketua KPU Provinsi Zadrak Nawipa & Ketua KPUD Intan Jaya Linus Tabuni
Ketua PPD Distrik Sugapa, Misael Sondegau mengatakan dirinya siap bekerja untuk masyarakat dan alam intan jaya dengan benar dan jujur tanpa melihat kepetingan kelompok dan kepentingan pribadi. Kuota suara yang sudah dipilih dari masyarakat melalui TPS dan PPS Itulah yang kami naikan ke KPUD untuk itu saya harap KPUD Jangan ulur-ulur waktu, karena waktu untuk menyelenggarakan agenda Negara tinggal 14 hari lagi.
Sondegau juga mengharapkan kubu-kubu yang bertikai beberapa minggu lalu segerah bersatu untuk menjaga keamanan daerah ini dan juga para pejabat intan jaya, para caleg, jangan propokasi masyarakat intan jaya agar masyarakat memilih para celeg sesuai hati nurani masyarakat.

MENAGIS BERSAMA RAKYAT PAPUA, YANG SEDANG MEMBURU MEMPEREBUT HAK ULAYATNYA

Pada umumnya dibelahan bumi Papua selalu saja terjadi konflik perebutan tanah, hak-hak, hak ulayat, harta benda dan seterusnya. Situasi ini menjadi masalah sosial yang sering bahkan kian membara di mana saja manusia Papua itu hidup dan didiaminya. Situasi ini terjadi maka pihak keamanan dilancarkan diberbagai penjuru angin di provinsi Papua telah diutus oleh pemerintah pusat maupun daerah menembatkan pihak keamanan agar mengamankan situsi kongkrit perang ini. Pengamanan harus di amankan sesuai dengan hukum yang telah tertata rapi dalam Undangan –undangan khusus untuk pengamanan keamanan rakyat /waraga Negara lebih khusus Papua. Papua akan selalu menjadi pilihan bagi pihak keamanan, untuk menagani masalah yang dibeberkan di atas misalnya perebutan tanah, hak-hak, hak ulayat, harta benda dll. Namun terkadan pihak keamanan yang hadir membuat situasi konflik yang dibuat menjadi tambah panas bahakan kehadiranya menjadi batu sandungan untuk bertambah konflik, serta terkadang pihak keamanan menjadi pelaku terjadinya konflik.
Panorama Intan Jaya (Foto: Misael Maisini)

Situasi perang yang terjadi di Timika antara Suku Moni dan Suku Dani, merupakan perbutan tanah. Perbutan tanah itu sering melewati beberapa cara penyelesaian konflik. Pertama Perebutan tanah, secara hukum adat istiadat, yang disebut dengan hak ulayat kedua suku tersebut tentu satu tidak mempunyai hak ulayatnya. Kedua perebutan secara siapa yang kuat dalam perang, namun belum tentu pihak mana yang menag tetapi jelas bahwa yang menang merupakan hak ulayat secara paksa terkadang bukan hak ulayatnya. 
Dua situsi ini yang terjadi dalam perang di Timika. Bagi kami pengamat situasi di atas tidak perlu adakan poin kedua dalam perebutan tanah. Karena di tanah Papua semua hak ulayat telah dan sudah punya hak ulayatnya yang masing-masing berdasarkan suku-suku yang ada. Allah Leluhur Bangsa Papua telah mengatur sedemikian rupa dalam pembagian tanah sesuai dengan hak ulayat. 

Apabilah ada Cara kedua maka hal itu dipertanyakan karena cara itu sering terjadi dalam kanca rana politik Nasional. Lebih khusus dalam pertahanan batas-batas wilayah pertahanan negaranya. Tetapi situsi ini tidak perlu terjadi di muka bumi Papua yang selalu di sebut Pulau Papua adalah Surga kecil yang jatuh ke bumi Cendrawasi. Artinya semua yang ada di tanah papua telah ada sesuai dengan rencana Allah leluhur bangsa Papua, bahkan setiap titik tanah telah menunjuk pemilik hakl ulayatnya.
Namun situasi perang di Timika, ada beberapa pihak yang memboncengi demi keperluaan diri, dan juga pihak keamanan juga terlibat perang, bukan kehadirannya untuk mengamankan melainkan membunu data ini diperole dari tempat terjadi perang dan dalam perang tersebut ada salah satu pihak perang dikorbangkan. Ini berarti ada indikasi pelanggaran hukum yang ada di Negara Indonesia, dan juga salah gunakan keberadan atau kekuasaan keamanan di arena perang. Sebenarnya pihak keamanan netral untuk mengamankan namun di medan lapangan perang terjadi sesuatu yang tidak diinginkan oleh kanca hokum yang ada.

Kami sebagai kaum intelek tanah Papua merasa tidak beres dalam penaganan dan juga terjadi konflik yang terjadi di Timika. Maka untuk menangani persoalan ini dapat diselesaikan secara hukum adat istiadat yang didukung oleh hukum Negara. Mengapa demikian, perang ini berkaitan dengan hak ulayat, tanah adat yang ada. Berarti akan jelas untuk penyelesaiannya berdasarkan siapa yang berhak tanah ini, milik nenek moyang suku Moni atau suku Dani. Maka jelas dan mudah untuk mengatasinya.

Dengan melihat realitas yang terjadi kimi berpesan kepada pihak Gereja baik Kristen Katolik maupun Kristen Prostestan bersatu untuk mengamankan umatnya, dan campur tangan pemerintah Mimika, dan pemerintah provinsi Papua. .Hal ini dibiarkan maka kestabilan keamana di papua tidak terjamin dan juga akan mengangu pesta demokrasi yang dilakukan pada bulan April. 
Semua usaha ini di buat dan aman maka air mata darah yang kian tampah henti mengalir akan pelahan-pelahan menjadi kering. Tandahnya bahwa tidak ada permusuan antara manusia Papua serta hidup sesuai dengan hak ulayat dan tanah adat masing-masing orang Papua.

Penulis: Benny Magay yang sedang mengeyam pendidikan di STFT Fajar Timur Abepura

MASALAH DUALISME SK PPD DI INTAN JAYA MASIH BELUM JELAS

INTAN JAYA-Di kabupaten intan jaya telah terjadi dua (2) Lisme SK PPD, SK dari Amos Widigipa dan SK PPD dari Linus Tabuni sehingga hari kamis tanggal 13/03/2014 masyarakat intan jaya melakukan pemalangan bandara Soko Paki Sugapa hingga pada hari ini Jumat 21/03/2014 ini telah melakluakn pemalangan jalan raya yang berujung pada saling lempar batu yang mencederai masyarakat pendukung masing-masing.
Dengan melihat kejadian ini wakapolres Paniai telah memberi  pemahaman kepada PPD yang melakukan pemalagan, dengan mendegar  arahan itu, maka PPD menerima arahan tersebut dan bubar pada jam 12. 00 dari Tempat Kejadian Perkara di Jogatapa Sugapa dengan aman.
Saling melempar ini terjadi ketika KPU Provinsi menginjak bandara Soko Paki Sugapa pada hari ini Jumat 21/03/2013 pukul 1. 45 Wpb sehingga masyarakat dari kubu masing-masing telah siaga dimasing-masing tempat untuk melakukan balasan antara kubu masing-masing.

Dengan melihat situasi yang memanas saat ini, maka masyarakat intan jaya pada umumnya meminta pihak yang INDEPENDENT dan pihak Gereja untuk mengatasi masalah PPD 6 Distrik yang ada di kabupaten Intan Jaya, karena PPD 6 Distrik dikabupaten intan jaya masih Dua (2) Lisme SK.
SK PPD dari Amos Widigipa dan SK PPD dari Linus Tabuni, masing-masing mempertahankan prinsip sehingga hari ini Jumat 21/03/2014 telah terjadi saling melempar yang mencederai masing-masing pihak.
Pemalangan Jalan Masalah PPD di Intan Jaya (Foto: Misael M)
Sehingga malam ini jumat 21/03/2014 Bupati Intan Jaya, Ketua KPU Provinsi, Kapolres Paniai dan PPD 6 Distrik ada lakukan pertemuan tertutup seputar dualisme SK PPD di kediaman Bupati yang di jaga oleh anggota Wakapolres Paniai bersama Polsek Sugapa untuk mencari jalan keluar yang terbaik untuk sukseskan Agenda Negara 09 April 2014 mendatang.
Jika tidak ada jalan keluar yang jelas akan terjadi konflik. Untuk itu masyarakat intan jaya pada umumnya meminta ke Pihak Gereja dan pihak yang Independen untuk melihat Kebenaran dan keadilan. Yang salah harus disalahkan dan yang benar harus dibenarkan menurut ajaran Agama di muka bumi ini tanpa memperhatikan Kepentingan apapun dan dengan cara apapun. 

Orang Migani Menyapa Dengan Hati

Amakaniee – Amanoaee – Amakibaiee – Amajambaee – Amadulukanee – Ndolapanuao

Migani Amakanee (Foto: Istimewa)
Salah satu suku di tanah Papua yang memiliki kata salam lebih dari satu kata adalah suku bangsa Migani. Ada banyak kata yang digunakan untuk menyalami orang seperti Amakanee, Amakanie, Amajambaee, Amakibaee, Amalulukanee, Delapanowaee, dan lain-lain. Pemakaian kata-kata ini tidak selalu sama, tergantung kepada siapa ia harus menyapa, dimana dia harus menggunakan, dan kapan dia ucap setiap kata yang mengandung makna sangat mendalam itu.
Contohnya, kepada seseorang akan disapa dengan kata Amakanee, tetapi kepada orang banyak (lebih dari satu)  akan disapa dengan kata Amakaniee. Berbeda pula penyapaannya kepada seorang ibu yang pejabat, atau seorang ibu yang miskin papa. Kepada seorang yang dikasihi disambut dengan kata yang lain dan juga kepada seorang remaja sedawar mereka sapa dengan kata Ndolapanuaoo.

Hal ini berbeda dengan suku-suku lain di Papua. Orang Paniai memberi salam dengan satu kata Koyao kepada siapa saja dalam semua kesempatan dan situasi. Orang Sentani menggunakan kata Foi Moi, di Biak dengan kata Tabea, Dani Wa wa wa wa dan lain lain seterusnya. Suku-suku ini (selain Migani), mereka harus menggunakan kata tambahan didepan kata salam untuk memperjelas kepada siapa mereka memberi salam. Seperti di Paniai, bila memberi salam kepada seorang lelaki bujangan, disapa dengan kata Kagipaidabaa Koyaoo,  kepada seorang wanita disapa Kagiwaudabaa Koyaoo, atau di Biak kepada seorang gadis manis disana Insosee Tabea Mufa, dan lain-lain.

Menjelaskan tata bahasa seperti ini tentu menjadi tugas orang-orang linguistik untuk menganalisa susunan dan bentuk tata bahasa suku-suku di kepulauan Melanesia. Tetapi yang kami mau angkat dalam tulisan ini adalah keunikan yang dimiliki suku bangsa Migani ketika mereka menyalami orang. Bahwa, tidak semua sapaan sama, dan tidak banyak kata yang dipakai untuk menyalami orang. 1 kata untuk 1 moment atau 1 kata kepada siapa dan tentu itu dengan hati yang tulus.
Ketulusan itu akan nampak dalam pemakaian ucapan itu sendiri. Ucapan itu sendiri akan menentukan tingkat kesadaran dan kedewasaan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa kita sebagai manusia harus belajar menghormati, menghargai dan memposisikan orang lain pada tempatnya lewat kata-kata dan sapaan. Sebab, apabila kita menghargai dan menghormati orang, sebaliknya, kita akan dihargai dan dihormati.
Kesadaran alami itu sudah diajarkan turun temurun oleh moyang Migani kepada anak cucunya. Setiap orang Migani, harus mengenal tingkat stratifikasi sosial dalam kalangan orang Migani sendiri maupun dalam pergaualan dengan suku-suku disekitarnya. Disana ada Sonowi Menee, maka hargai orang itu sebagai Sonowi. Dialah pemimpin kita, sehingga kita sapa dia dengan kata-kata yang memang menjadi miliknya. Dia adalah rakyat miskin, guru, pemuda/i yang sama dengan saya atau berbeda dengan saya, maka hargai orang lain itu dengan baik, tetapi tidak hanya lewat sapaan, tetapi lebih dari itu dengan hati yang tulus dan ikhlas. Hal itu akan diuji dengan pemakaian kata-kata itu sendiri.

Asyik memang mempelajari bahasa-bahasa suku-suku di Papua. Dan, berbahagialah bagi mereka yang mengetahui bahasa suku lain, apalagi lebih dari tiga bahasa. Sebab orang yang merdeka adalah orang  yang mengenal bahasa suku lain, selain bahasa ibu.
Pada jaman sekarang,  dunia dituntut untuk harus menguasai bahasa Inggris. Tetapi sebenarnya tidak juga. Kami berpendapat, bahasa Inggris juga penting, tetapi lebih penting lagi kalau kita menguasai bahasa dari suku-suku tetangga, termasuk tetangga rumah kita. Contohnya; kalau tetangga kita orang Bugis, sepantasnya kita harus mengerti bahasa orang Bugis, apalagi kalau sudah mahir berbahasa Bugis. Kita diterima ibarat seorang raja dikalangan orang Bugis. Sebaliknya, kalau orang Bugis menguasai bahasa Ayamaru, wow ... orang Bugis itu diterima dengan baik dikalangan masyarakat Ayamaru. Contohnya agak mirip sedikit dengan Jhon Tabo, mantan bupati Tolikara.
Kembali ke pokok persoalan, bahwa orang Migani memberi salam dengan hati. Memang benar dan harus diakui bahwa orang Migani ketika memberi salam dia akan tunduk kepala sedikit sambil pegang susunya sendiri atau lipat jari tunjuknya kearah dirinya sendiri. Atau salam Kipo Motii (salam dengan jari), juga hormat di dada.

Orang Migani adalah salah satu suku bangsa yang berada di tengah suku-suku lain. Disebelah barat ada suku Mee. Dibagian selatan ada Damal dan Amungmee. Disebelah timur ada Nduga, Dani, Lani dan sampai ujung di Oksibil. Dibagian utara ada suku Kew dan Mamberamo. Sebagai suku yang ada ditengah-tengah, orang Migani harus menghargai saudara-saudaranya yang berada disekelilingnya. Secara alami sudah terbentuk sehingga orang Migani menguasai bahasa dari suku-suku tetangganya.

Menurut Bartol Mirip, orang Migani bagian Timur dan terutama orang Nduga (Hitadipa, Agisiga, dst) sangat fasih berbahasa Mee, Damal, Amungme, Lani dan Dani. Mereka menguasai semua bahasa, dan oleh karena itu pergaulan mereka sangat jauh.
Detik ini, orang Migani sejak Pastor Kamerer sembunyi di negeri Biandoga, 70 tahun silam, mereka sudah belajar banyak dari suku-suku tetangganya. Bahasa suku lain yang mereka kuasai, adalah modal utama untuk membangun hubungan pergaualan dan persahabatan. Sebab hanya dengan menguasai bahasa, kunci dunia terbuka dan informasi dan komunikasi mengalir dengan sendirinya. Kehadiran Kabupaten Intan Jaya menjadi bukti, bahwa orang Migani siap menyapa siapapun dia pada waktunya dan posisinya. Dan tentu, dengan hati.
Orang Migani menyapa dengan hati.   

                                         Ditulis oleh; Engelbertus P Degey