Jagan Membanding-Bandingkan Sesama-mu


Hitung Babi (Foto: Misael Maisini)
Dipenggunungan Tengah Papua Sebagian Besar Masyarakat Hidup Sebagai Petani. Bagi Seorang Petani,Ternak Babi adalah Aset ekonomi. Menghitung Babi berarti Memperkirakan Keuntungan Ekonomis Yang Bakal Diraahi. Kata-kata ini Menyarankan Agar Orang Tidak Terlalu Sering Menghitung-hitung Labanya Tetapi Lebih Baik “Menghitung”Berkatnya. Artinya,Kita Sebaiknya Bersyukur Kepada TUHAN ALLAH Atas Segala Karunia-NYA,Terutama Hidup Yang Boleh Kita Nikmati Ini, Walaupun Kadang Hasil Kerja ( Penghasilan ) Kita Hanya Sedikit.
Orang Yang Tidak Bisa Menyukuri Prestasinya Yang Sudah Dicapainya dan Selalu Merasa Belum Tercapai Puncak Serta Ingin Selalu Merasa Belum Mencapai Puncak Serta Ingin Selalu Menggapai Tingkat Yang lebih Tinggi lagi, Dia Bukan Orang Sukses. Mengapa??? Karena Orang Yang Selalu Mengejar “ Sukses”ini Telah Menjadi Budak Ambisinya Sendiri.
Ia Tidak lagi Menjadi Manusia Yang Berprestasi,Tetapi “Mesin Abisi” Yang Tidak Bisa Dihentikan. Ada Bahaya Yang Mengintainya Si “Mesin Ambisi” ini. Kalau Ia Gagal Mencapai Sesuatu Yang Sudah Direncanakan dan Diperkirakanakan Berhasil, Ia Akan Frustasi dan bahkan Mangalami Depresi. Ia Menganggap bahwa Dirinya Tidak Berharga Lagi. Ia Merasa Kadar Eksistensinya Diturunkan Sampai Ketitik nol.

Orang yang telah Menjadi “Mesin Ambisi”,Yang Tidak Bisa Berhenti Mengejar”Sukses”,Ada Baiknya Mengingat Kata-Kata Bijak ini,”Apalah Untungnya Bagi Seorang Manusia Jika Seandainya Ia Bisa Mendapat Seluruh Dunia Tetapi Kehilangan Jiwanya”??? Kata-Kata Bijak ini Mengingatkan Agar Orang Tidak Mencari Harta Kekayaan  atau Mengejar Prestasi Sedemikian Hebatnya Sehingga Melupakan Kehidupan Rohaninya,Menjadi Jau Dari TUHAN ALLAH dan Sesamanya. Harta Benda atau Prestasinya Melimpah Ruah,Tetapi Kahidupan Rohaninya Kering. Ibarat Pohon Yang Tidak Menghasilkan Buah.

Apa artinya Kesuksesan Yang Dicapai Dengan Cara-Cara Yang Tidak Menjujung Serta Memuliakan Manusia dan Kemanusiaan,Tetapi Justru Merendahkan dan Menginjak-Injak Martabat Manusia dan Kemanusiaan??? Memang Benar bahwa Setiap Orang Harus Mempunyai Ambisi. Memang Benar Bahwa Seseorang Mempunyai Keiginan Berprestasi. Yang Salah adalah Jika Orang itu Diperbudak Oleh Ambisinya Sendiri dan Menjadi “Mesin Ambisi” atau Tersihir oleh “Sukses” .
Ada Bahaya Jika Anda Terlalu Sering Menegok Kiri Kanan dan Membanding-Bandingkan Kesuksesan atau Keberhasilan Orang Lain Dengan Kesuksesan Anda Sendiri.  Kalau Orang Lain Lebih Sukses Dalam arti Prestasinya lebih Menonjol, lebih Popular Anda Bisa Terjerumus Kedalam Keirian atau Kedengkian. Kalau Anda lebih Sukses, Anda Bisa Terperosok Kedalam “KESOMBONGAN”.  Lalu Anda Memandang Orang Lain Dengan Sebelah Mata. Yang Seharusnya Anda lakukan adalah Menyadari Bahwa Kesuksesan Tidak Bisa Dibanding-Bandingkan Seperti Kita Membanding-Bandingkan Harga Barang.
Ada Sebuah Cerita yang Dapat Mengingatkan Anda Untuk Tidak Dapat Membanding-Bandingkan Sesama Anda. Cerita Tentang Burung Merak Yang Mengolok-Olok Burung Bangau. Burung Merak Mengejek Burung Bangau Karena Bulunya Jelek (Hanya Putih Saja) Sementara Bulunya Sendiri Indah Berwarna-Warni.”Memang Benar Bulumu Indah,”Kata Si Bangau.”Tetapi,”Lanjutnya,”Kalau Soal Terbang, Aku lebih Unggul Dari Pada Kamu. Aku Bisa Terbang Tinggi di Langit Biru Menembus Awan,Sementara Kamu Bisanya Cuma Berkeliaran di Tanah Seperti Ayam.”

Nikolaus Hagisimijau
Cerita ini Bagus Untuk Mengingatkan Kita Sebagai Orang Dewasa Bahwa “Masing-Masing Orang Dikaruniai Kelebihan Yang Khas”.  Jadi Tidak Perlu Membanding-Bandingkan Kesuksesan Kita Dengan Kesuksesan Orang Lain. Yang Baik Dilakukan adalah Membandingkan Kesuksesan Kita Sendiri Sekarang dan Kesuksesan Kita Diwaktu lalu. Yang Penting Bahwa Kita Sudah dan Selalu Berusaha Melakukan Yang Terbaik. Bagimanapun Juga Kesuksesan Bukanlah Tujuan. Kesuksesan adalah Sarana kita Untuk Menjadi lebih “Manusiawi”. Apalah artinya Kesuksesan Kalau itu Dicapai Dengan Mengorbankan Manusia, Tidak Hanya Diri Sendiri Tapi Juga Orang Lain??? Kita Musti Ingat Bahwa” Uang, Ilmu bahkan Teknologi, Harus Mengapdi Kepada Umat Manusia”. Manusia Harus Menjadi Tujuan dan Cita-Cita Segala Yang Kita Lakukan.”Proyek Apa Pun Yang Direncanakan Seseorang Demi Masa Depan Yang Lebih Baik, Prinsip Etis Yang Mendasar Haruslah Bahwa Manusia TIDAK Boleh Dijadikan Sekadar SARANA”. Manusia Haruslah Menjadi Cita-Cita dan Sekaligus Kriteria. Uang,Modal, Kerja, Ilmu,Teknologi adalah Sarana.  Semuanya ini Harus Digunakan Dalam Rangka “MELAYANI UMAT MANUSIA”. Manusia Haruslah Tetap Menjadi SUBYEK,Tak Pernah Boleh Menjadi OBYEK.
Dengan Menyadari Bahwa Kerja atau Karya Termasuk Didalamnya Jabatan, Gaji, Tingkat Kesuksesan,dan lain-lain “Haruslah Diabdikan Untuk Kemajuan Umat Manusia”, Kita Tidak Semestinya Iri Melihat Orang Lain Sukses,Tidak Semestinya Merasa Frustasi Jika Kita Tidak Bisa Menjadi Lebih Sukses Dari Pada Sebelumnya. Tetapi, Sebaiknya, Kita Pun Tidak Boleh Sombong Kalau Kita Kebetulan Lebih Sukses Daripada Orang Lain. Kerja Atau Karya Hanyalah Salah Satu Sarana Bagi Kita Untuk Lebih Memanusiakan Diri Kita Sendiri Dan Sesama. Tujuan Pokoknya Adalah Manusia Itu Sendiri, Bukan Karya Atau Kesuksesan.


Oktopianus Pogau Diancam Wakapolres Manokwari


Okto Pogau Diancam Wakapolres Manokwari
*Pertama*, pada tanggal 23 Oktober 2012, saat aksi KNPB di depan kampus
UNIPA, Manokwari, saya bukan hanya di pukul, namun yang lebih parah lagi
dua orang anggota Polisi mencekik leher saya dari belakang, padahal saya
telah menunjukan kartu pers. Kemudian, seorang anggota Polisi memukul tepat
di bibir atas saya dari depan (walau tidak terlalu kuat). Saat aksi
tersebut berlangsung, saya dikurung atau dikerumuni oleh sekitar 5-6 orang
anggota Polisi. Artinya, jika ada saksi-saksi, termasuk wartawan yang
berada 10-15 meter dari hadapan saya, tentu mereka tidak dapat melihat aksi
pemukulan dan pencekikan yang dilakukan anggota Polri kepada saya.

*Kedua,* pada tanggal 23 Oktober 2012, sekitar pukul 13.30 WIT, satu jam

usai saya dipukul, saya langsung mengirimkan SMS kepada Kapolres Manokwari,
AKBP Agustinus Supriyanto (sekarang mantan), saya menyampaikan aksi
pemukulan yang saya alami, dan meminta kesediaannya untuk bertemu dengan
saya. Namun, Kapolres tidak menanggapinya, padahal, SMS tersebut telah
masuk di handphonenya.

*Ketiga,* memang saya akui, pada tanggal 23 Oktober setelah aksi pemukulan

dan pencekikan leher, saya tidak ke dokter untuk melakukan visum, namun
saya langsng pulang ke rumah. Pada malam hari sekitar pukul 23.00 WIT,
Kapolres menelepon saya untuk bertemu karena mendengar ada aksi pemukulan
terhadap saya, dll (laporannya sudah pernah saya kirim dahulu).

*Keempat,* pada tanggal 24 Oktober, sekitar pukul 16.00 WIT, saya bersama

tiga orang Wartawan di Manokwari bertemu dengan Kapolres, dia memberikan
pilihan, jalan damai, atau proses hokum. Saya meminta untuk segera
diselesaikan melalui proses hokum. Dan kemudian, sekitar pukul 15.00 WIT
hingga 19.00 WIT berita acara pemeriksaan dan laporan polisi dibuat, dan
termasuk dilanjutkan besok hari 25 Oktober 2012 sekitar pukul 11.00 WIT
hingga 13.30 WIT.

*Kelima,* saat saya diperiksa Propam sejak tanggal 24 Oktober dan

dilanjutkan pada tanggal 25 Oktober, saya selalu dan tetap mengatakan
sesuai apa yang terjadi; yakni, saya pertama kali diancam oleh seorang
anggota Polisi berpakaian preman untuk meninggalkan tempat aksi, saya
menyatakan bahwa saya wartawa, dia bentak meminta tunjukan kartu pers, saya
segera menunjukannya, namun belum sampai kartu dikeluarkan, saya sudah
dipukul dimuka tepat dibibir atas oleh seorang anggota Polisi berpakaian
preman. Saya teriak lagi, kalau saya benar-benar wartawan dan mempunya
kartu pers, setelah mengangkat kartu pers, dua orang dari belakang saya
mencekik leher saya dan menahannya agak lama, sampai dua orang wartawan
melerai aksi mereka, dan kemudian mereka melepaskan saya. Saat itu, saya
dikerumuni sekitar 5-6 orang anggota Polisi. Artinya, jika Kasi Propam
menyatakan bahwa laporan saya selalu berubah-rubah, dan menyatakan pelaku
hanya satu anggota Polisi, serta mengaku hanya kerak baju saya yang
ditarik-tarik, maka sangat-sangat tidak benar pernyataan tersebut, dan ini
saya kira pembohongan public yang dilakukan polisi untuk membenarkan
perbuatan mereka.

*Keenam*, pada tanggal 27 Oktober, sekitar pukul 15.00 WIT, Kasi Propam

AIPDA Gistanto menelepon saya untuk datang ke Polres, dan mengatakan bahwa
mereka akan segera mengantarkan saya ke RSUD Manokwari untuk melakukan
visum dokter, karena hasil tersebut syarat untuk dilanjutkannya
penyelidikan. Saya sempat bertanya, kenapa tidak dilakukan visum saat saya
membuat laporan polisi pertama kali, namun usai 4 hari kemudian. Namun,
Kasi Propam hanya menyatakan bahwa hal tersebut adalah perintah. Saya ke
Polres sekitar pukul 17.00 WIT, saya diantar seorang anggota Propam, dan
kemudian disusul oleh Kasi Propam AIBDA Gistanto datang juga ke RSUD
Manokwari. Dokter David yang saat bertugas menyatakan kepada Kasi Propam,
kenapa saya diantar ke RSUD untuk di visum selang 4 hari setelah kejadian,
seharunya saat kejadian, atau saat saya buat laporan polisi, seharusnya
Polisi sudah harus mengantar saya ke RSUD. Kasi propam yang saat itu
mendampingi saya diam saja, kemudian saya yang bicara, meminta agar dokter
menulis keterangan, bahwa aksi pemukulan tersebut ada, namun pihak kepolian
mengantar saya untuk di visum setelah 4 hari kemudian, maka tentu bukti
pemukulan tersebut sudah hilang, apalagi tidak terlalu parah (saya akan
berikan nomor handphone dokter David, silakan kawan-kawan komunikasi dengan
dia).

*Ketujuh, *sebelum dilakukan visum, sekitar pukul 12.00 WIT, Kapolres

Manokwari Agustinus Supriyanto (saat itu belum diganti) menelepon saya agar
meluangkan waktu untuk bertemua dengan Wakapolda Papua Paulus Waterpauw
bersama dirinya di Hotel Aston Niu Manokwari. Saya menyanggupi kehadiran
dalam pertemuaan tersebut. Malam hari sekitar pukul 22.00 WIT, saya bertemu
bersama Wakpolda dan Kapolres ditemani oleh Wakil Pemimpin Umum media
CAHAYA PAPUA, Patric Tandirerung. Wakapolda membuka pembicaraan dengan
menyatakan, bahwa dia dapat atensi atau perintah khusus dari Kapolda Papua
Tito Karnavian untuk bertemu dengan saya, sekaligus membicarakan kejadiaan
yang saya alami. Kepada beliau, saya menceritakan kronologisnya, kemudian
sudah pada sampai tahap proses hokum, dan minta anak buah yang melakukan
tidakan tersebut diproses secara hokum hingga tuntas, agar menunjukan
aparat tidak kebal pada hokum.  Patrick Tandirerung meminta kepada
Wakapolda agar anak buahnya yang melakukan kesalahan tidak hanya di proses
menggunakan KUHP atau hukuman disipliner dan lain2, namun mereka juga harus
diproses menggunakan UU Pers, sebab telah nyata-nyata menghalangi
kerja-kerja pers. Wakapolda menyanggupi akan diproses menggunakan UU Pers,
serta jika terbukti, mereka akan segera memproses hingga tuntas, dan
meminta kami untuk terus memantau, dan mengabarkan tentang perkembangan
kasus tersebut. Atas nama Kapolda Papua, Wakapolda juga* menyampaikan

permohonan maaf *kepada saya atas nama pribadi, dan atas nama kesatuaan.
Sekaligsus, Wakapolda memerintahkan Kapolres saat itu meindaklanjuti, dan
segera menurunkan kasus saya kepada Kapolres baru yang akan terpilih nanti.

*Kedelapan*, pada tanggal 30 Oktober saya diminta datang lagi ke Polres
*Kesembilan*, pada malam hari kemarin (Kamis, 1 november 2012) saya membaca
berita soal komentar Kasi Propam Polres Manokwari dan Wakapolres di koran
MEDIA PAPUA, saya langsung menelepon Kasi Propam AIPDA Gistanto untuk
memastikannya. Dia membantah tidak berkomentar di public, termasuk komentar
di koran. Katanya yang punya kapasitas dan kewenangan untuk berkomentar
adalah atasannya. Namun saya menyatakan, wartawan menulis komentar anda di
koran, apakah itu benar, dia membantah pernah berkomentar di koran, apalagi
di wawancarai oleh Wartawan (ini perlu diselidiki, apakah wartawan sempat
mewawancarai dirinya atau tidak). Kemudian, saya telepon lagi ke mantan
Kapolres Manokwari AKBP Agustinus Supriyanto awalnya menangani kasus saya
terkati komentar Wakapolres, dia membantah menyatakan itu, dan katanya
tidak punya kewenangan untuk bicara, dan intinya dia berpegang teguh pada
perintah Wakapolda, agar dituntaskan hingga terang, dan jika ingin meminta
tanggapan, dia sarankan saya agar lansung menelepon orang yang berkomentar
di koran (Wakapolres yang dia maksud). Saya menyanggupinya, dan meminta
agar no telepon Wakapolres dikirimkan, dia mengirim no wakapolres. Setelah
saya SMS Wakapolres untuk meminta kesediaan bicara dengan saya ditelepon,
namun Wakapolres tidak meresponinya, namun hanya membalas SMS panjang dan
bertele-tele, yang intinya menyatakan bahwa sedang serius ditangani,
kemudian laporan akan terus disampaikan kepda Polda. Namun saya SMS lagi
untuk minta telepon, tidak dibalas juga, dan ketika saya minta diadakan
pertemuaan antara saya, pengacara saya, dengan Wakapolres, itupun tidak
ditanggapi. Namun, saya sedang usaha agar pertemuaan bisa terlaksana atau
terselenggara hari ini, Jumat 2 November 2012.

*KOMENTAR SINGKAT SAYA,
*Pertama,* saya melihat dengan jelas pihak kepolisian sedang berupaya
mengkriminalkan saya dengan ancaman akan di kurung penjara selama 4 tahun
lamannya, ini ancaman terbuka yang mereka sampaikan agar saya terus tidak
melawan, dan termasuk tidak memberitakan aksi-aksi tidak terpuji yang telah
mereka lakukan kepada saya yang notabene adalah wartawan, lebih khusus
wartawan berkulit hitam dan berambut gimbal.

*Kedua,* sangat jelas bawah apara tidak serius menuntaskan kasus ini, sebab

sudah hampir dua minggu (9 hari sejak kejadian), anak buah mereka yang
diperiksa hanya baru 1 orang anggota Intel. Seharusnya, semua yang ada di
lapangan, termasuk yang melihat kejadian saya diminta keternangan. Ini
kesannya aparat sedang menjaga nama baik aparat, serta melindung anak buah
mereka yang telah jelas-jelas melakukan tindakan pidana dan criminal pada
saya.


*Ketiga*, pernyataan Wakapolres sudah sangat jelas, bahwa kasus saya tidak

akan diproses dengan seadil-adilnya, namun mereka akan berusaha dengan
berbagai cara agar dapat mengkriminalkan saya, ini sangat tidak terpuji dan
sangat keterlaluan. Dan ini juga menunjukan tindakan arogansi, serta
cenderung melawan atasan dia.

*Keempat,* solidaritas teman-teman wartawan sangat saya butuhkan untuk

mendesak Polres Manokwari, dan Polda Papua agar serius menuntaskan kasus
saya, dan jika Propam Polres Manokwari tidak mampu menangani kasus saya,
maka sebaiknya diserahkan pada Propam Polda Papua agar lebih berimbang, dan
mampu bekerja secara optimal dan efisien.

*Kelima,* saat aksi pada tanggal 23 Oktober 2012, saya datang ke lokasi

kejadian dengan kapasitas saya sbagai wartawan, bukan massa aksi, apalagi
diisukan ikut dalam aksi tersebut. Saat aksi chaos antara aparat dengan
massa, saya tidak lari, panic, apalagi takut, sehingga saya saat itu berada
di tengah polisi, dan disebelah polisi bukan massa aksi. Dan saya memang
datang untuk meliput, dan menuliskan tentang aksi tersebut. Jangan semua
orang yang berkulit hitam, rambut keriting, serta punya ras Melanesia di
kategorikan sebagai separatis, massa aksi, anggota KNPB, minta merdeka,
dll.


*Keenam*, dibawah saya akan kirimkan nomor HP beberapa orang terkait,

Kapolda Papua, Wakapolres Manokwari, Kasi Propam, mantan Kapolres, dan
dokter David yang melakukan visum pada saya, silakan hubungi mereka untuk
memastikan kasus ini berjalan dengan baik, dan agar tidak ada
ancaman-ancaman untuk mengkriminalkan saya.

*SILAKAN KONTAK:*

*Kapolda Papua:*

Irjen (Pol) Tito Karnavia = +62811161777

*Kapolres Manokwari: *

AKBP Ricky Taruna Maruh +


*Mantan Kapolres Manokwari: *

AKBP Agustinus Supriyanto +62811791992

*Wakapolres Manokwari:*

Kompol Mughoni +6281344102020

*Kasi Propam Polres Manokwari: *

AIPDA Gistanto +6285244081433

*Dokter di RSUD Manokwari yang visum: *

Dokter David +6281265675050
--
*Oktovianus Pogau*
Journalist
Mobile: +6281240558375
Jln. Mayjen Sutoyo, Cawang, Jakarta Timur
http://suarapapua.com <http://www.pogauokto.blogspot.com>

Kapan Anak Daerah Intan Jaya Mau Diberdayakan?


NABIRE-Kapan lagi kalau bukan sekarang, dan siapa lagi kalau bukan anak daerah  intan jaya yang harus diperhitungkan pada urutan pertama pada keterlibatan dalam setiap kegiatan.Kondisi ini seperti terjadi pada kegiatan bimbigan teknis (BIMTEK) keuangan yang pesertanya lebih banyak terlihat putra non Intan Jaya.

Martinus Alfa Mujijau yang Sedang Pegang Kamere
Sala satu kepala Dinas pada saat menyampaikan pesan dan kesannya mengatakan peserta pelatihan  Bimtek (BIMBINGAN TEKNIS) lebih banyak diisi putra non Intan Jaya. Hal ini secara langsung maupun tidak langsung menunjukan adanya pengabaian dan pembunuhan generasi mudah anak derah intan jaya untuk belajar dan bersaing dengan orang lain.
Kepala Dinas tersebut  mengaku sangat kecewa ,karena peserta yang mengikuti Bimtek (Bimbingan Teknis) nampak “muka baru” yang belum punya SK di Kabupaten Intan Jaya,baru didatangkan lantas diikutkan dalam kegiatan Bimtek,ujarnya.

Soal kemampuan atau ketidkmampuan anak  daerah maupun non putra daerah bukan ukuran. Justru supaya diawal meletakan pondasi pembagunan  Intan Jaya anak daerah harus  diberdayakan karena mereka ingin belajar dari belum tahu, sehingga menjadi tahu. Dengan demikian tekad baik bimbigan teknis (Bintek) keuangan yang digelar Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan Kabupaten Intan Jaya menjadi “Tidak bernilai” dalam hal pemberdayan bagi anak daerah.
Hal ini terkesan Ibarat memberikan makan kepada orang yang sudah kenyang. Sangat mengecewkan anak daerah. Jika cara seperti ini tetap di perhatikan maka kedepan akan menciptakan jurang pemisahan antara  yang satu dengan yang lain (Mengaduh-dombakan) sesama yang dulunya mempunyai hubungan kekeluragaan yang sangat erat antara satu sama  yang lain kemudian terpeca bela karena kepentingan dan kekuasaan semata. Hal ini dilahirkan  oleh para penguasa daerah Intan Jaya. Sebab dapat jadi demi kepetingan para kepala SKPD. Jika demikian kepala SKPD bersangkutan tidak mencintai daerah dan masyarakatnya, karena hanya diatas bibir yang mengatakan sebagai penggagas pejuang dan lain sebgainya untuk lahirnya Intan Jaya justru kepala SKPD non putra Intan Jaya seperti BKD, Kependudukan dan Catatan Spil serta Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Perempuan adalah contoh baik yang patut ditiruh.


Sebaliknya, Dinas Pariwisata, Perhubunggan, Informatika dan Komunikasi merupakan contoh paling buruk dimata pemerintah maupun rakyat Intan Jaya yang harus dihindari. Bukan tanpa alasan. Merasa diri sebagai sang kepala Dinas, mendatangkan pegawai baru lantas dalam hitungan detik langsung diserahai jabatan “katanya” Bendahara dan Operator Computer, tanpa ada satu penghargaan pun terhadap Pegwai lama yang notebene putra daerah dan mengabdi di Dinas Informatika dan Komunikasi (Almarhum Martinus Alfa Mujijau). bahkan dengan beraninya menayakan buku kas Dinas  Infokom karena merasa diri orang dekat dengan Kepala Dinas  perhubungan (Leo Sondegau).


Memang di sadari bahwa alamat Protes Pegawai Dinas Perhubungan, Pariwisata dan Komunikasi adalah bukan kepada Pegawai baru atau Operator Computer, tetapi cara bertanya itu sebaiknya pakai etika organisasi. Atau mungkin sudah disuntik sang kepala Dinas (Leo Sondegau), sehingga bicaranya blak-blakan tanpa menyadari dirinya orang baru.
Selain itu, pergantian Bendahara baru pada Dinas Informatika dan komunikasi Yaitu (Martinus Alfa Mujijau) di Kabupaten Intan Jaya tidak melalui Prosedur. Merasa diri sebagai pemegang kendali Dinas Perhubungan, Pariwasita, Informatika dan komunikasi (Leo Sondegau ) di  kabupten intan jaya padahal justru “Buta Aturan”, sehingga kepala SKPD yang satu ini mengganti bendahara tanpa koordinasi.


Saat  menayakan siapa sebenar-nya Bendahara  yang mengikuti Bimbign Teknis (Bimtek) supaya sesuai dengan jumlah yang di atur panitia yang  hanya tiga orang setiap Dinas yang  mengikuti Bimtek. Namun di awal mengikuti Bimtek,Kepala Dinas (Leo Sondegau) mengatakan ikut saja semua. Padahal dalam kenyataanya Sudah di Ganti.  Hal ini baru diketahui bendahara lama,yaitu (Martinus Alfa Mujijau) pada saat sekedar untuk mengecek Dana di Bank Papua Cabang Nabire, namun mantan bendahara ini dikagetkan dengan permintaan Rekening Giro oleh salah satu petugas BPD, karena masalah itu tidak ada hubungannya dengan petugas Bank, justru masalah Dinas, sehingga mantan bendahara (Martinus Alfa Mujijau) pun menolak menyerakan Rekening giro. Menolak menyerhakan Rekening Giro itu karena Pergantian Bendahara Ada Aturannya. Tidak bisa semuanya  itu diatur sewenang-wenangnya oleh Kepala Dinas Perhubungan, Pariwisata, Informatika dan Komunikasi (Leo Sondegau). Apalagi saat itu sedang bermasalah dan belum ada solusi/ jalan kelur yang baik.
                                                                            ***Martinus Alfa Mujijau***

Perempuan Maju Perempuan Menang (Minandaggage Hagoma Hitiya Dogogo Minandaga Wugindii)

INTAN JAYA-Jaman duluh perempuan pengunungan tengah papua pada umumnya dan perempuan intan jaya pada khususnya di tekan oleh budaya bahwa perempuan tetap perempuan yang tidak bisa berbuat apa-apa sehingga orang tua jaman duluh sudah kawinkan anak perempuan mereka secara paksa, karena telah melihat kulit bia dan babi dari seseorang.
Sosialisasi MRP Tentang Caleng DPRD Kuota Perempuan 
Motifasi orang tua di pengunungan tengah papua dan khusunya orang tua di kabupaten intan jaya hanya mengingat harta benda untuk kebutuhan sesaat sehingga anak perempuan mereka harus di kawinkan secara paksa, namun ada beberapa wanita yang keluar dari gegaman budaya tersebut untuk tetap berjuang keras dan tetap bersekolah dan sekolah untuk mengapai masa depan yang lebih cerah. Salah satu contoh wanita yang keluar dari gegaman budaya Migani adalah seorang wanita anak kepala suku (Migani; Sonowi Joa) dari suku migani Ciska Abugau Ad. M. a. pd.

Ciska Abugau mengenyam pendidikan dasar di kampung asalnya di SD YPPK St. Fransiskus Xaverius Titigi dan melanjutkan Sekolah Menengah Pertam-nya di Moanemani. Walapun  budaya migani mengancam pendidikannya, namun Ibu Ciska tetap keluar dari gegaman budayanya untuk melanjutkan pendidikannya di Sekolah Pendidikan Guru Taruna Bhakti Waena.

Ciska Abugau selesai di SPG tahun 1989 dan kembali ke kampungnya di Titigi dan  mengajar di sana selama satu tahun dan menikahi Jhon Mirip pada tahun 1991 dan melanjutkan perguruan tinggi D2 Uncen selama dua tahun dan Ciska diangkat jadi calon pegawai pada tahun 1992 dan di Tugaskan di SD YPPK Bilogai dan tahun 2000 pindah ke Jayapura ikut suami-nya  dan Tugas di Sekolah Dasar Inpres perumnas II Waena- Jayapura selama sepuluh tahun. Dan tahun 2011 Ciska Abugau dipilih menjadi anggota Majelis Rakyat Papua dari Dapil enam utusan kabupaten intan jaya.

Ciska Abugau saat ini sedang duduk di Majelis Rakyat Papua Pokja Perempuan Propinsi Papua di Jayapura. Saat ini ciska mempunyai keinginan besar bahwa kenapa perempuan Gunung tidak bisa seperti perempuan-perempuan lain yang sudah maju dan menjadi pemimpin dalam birokrasi maupun di instansi-instansi sehingga ciska ke intan jaya dan melakukan sosialisasi ke-1 pada tahun 2012 bahwa perempuan juga harus sama seperti laki-laki untuk memimpin daerah ini dan sosialisasi ke-2  di lakukan pada tahun 2014 tepat pada hari selasa tanggal 04 Maret 2014 di Aula Dole Au Migo Au Nduni Wajimba-Bilogai Intan Jaya.

Dalam sosialisasi ini di hadiri oleh Bapak Kabag Humas kabupaten intan jaya Andreas Sudarwanto, mewakili kepala Distrik Sugapa Yance Abugau selaku Sekdis Sugapa dan Bendahara Distrik Ibu Dwi Astari.  Sosialisasi ini di buka secara resmi oleh Sekretaris Distrik Sugapa Yance Abugau pada pukul 12. 13 Wpb dan di tutup oleh pemerintah kabupaten intan jaya yang mewakili Bupati Kabupaten Intan Jaya Andreas Sudarwanto kabag Humas Setda kabupaten intan jaya pada pukul 2. 34 Wpb.


Dalam sosialisasi ini Ciska Abugau mengatakan bahwa; perempuan hanya saya sendiri sehingga saya tidak punya kekuatan sehingga perempuan Migani yang maju calon Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Intan Jaya harus bersatu dan pilih perempuan. Jadi pada intinya perempuan pilih perempuan karena di kabupaten intan jaya ada dua ratus dua puluh lima (225) calon DPRD untuk merebut dua puluh (20) kursi masing-masing daerah pemilihan satu sepuluh kursi dan daerah pemilihan dua sepuluh kursi.


Mama Antonia Migau yang Berdi Bicara; Sala Satu Caleg
Ini program Majelis Rakyat Daerah Propinsi Papua Pokja Perempuan yang di lakukan di dua puluh Sembilan (29) kabupaten kota dalam rangka mengangkat Kuota perempuan di calon legislative. Jadi kuota untuk perempuan ada 30 % dan untuk laki-laki 70 %. Ciska Abugau sudah memasang balihio di intan jaya dengan kata; Perempuan Maju Perempuan Menang, Perempuan Pilih Perempuan dan Coblos Boleh Beda Tapi Hati Tetap Satu Itulah Hati Perempuan Si Angrek Hitam Dari Timur. Kata-kata ini memberi motifasi dan ispirasi kepada mama-mama yang memenuhui aula itu.


Sementara bapak Andreas Sudarwanto mengatakan bahwa; mama-mama harus berani melawan budaya Migani bahwa perempuan juga bisa menjadi seorang pemimpin untuk memimpin masyarakat yang ada di intan jaya, contoh; dulu Ibu kartini melawan budaya sehingga dia bisa menjadi contoh bagi perempuan-perempuan saat ini seperti Ibu Ciska yang saat ini sedang memotifasi mama-mama untuk maju menjadi DPRD di Intan Jaya. jadi mulai saat ini mama-mama harus sekolahkan anak-anak perempuan jangan ingat mas kawin lalu kasih kawin perempuan-perempuan, karena perempuan merupakan tiang Negara. Jadi perempuan mau pilih perempuan itu kembali kepada perempuan saat ini untuk menetukan nasib perempuan kedepan.


Yance Abugau; Perempuan-perempuan mau menang atau mau kalah kembali kepada kesepakatan, kekompakan dan persatuan dari mama-mama untuk mengangkat seorang perempuan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten intan jaya.
Sala satu calon DPRD Antonia Migau mengatakan bahwa; kami kaum wanita selalu di siksa dan  dipuku pahal kami mama-mama yang melahirkan anak dengan susa paya, menyesui, membesarkan dan menyekolahkan anak-anak, namun bapa-bapa tidak pernah hormati kami mama-mama, maka dengan itu saya maju caleng dari partai Keadilan Persatuan Indonesaia dari Dapil II (Homeyo, Wandai dan Mbiandoga) dengan Misi; Waktunya Untuk Kaum Wanita Bangkit Berdiri, Bersuarah, Membela Hak-hak Wanita.

Tambah; Wilmince Sondegau yang maju dari partai PDIP Mengatakan bahwa; kita mau lawan laki-laki sehingga kami maju, kenapa perempuan tidak bisa maju jadi anggota DPRD sementara celeg lain Paulina Belau yang maju dari partai PKS mengatakan bahwa pendidikan dan gelar tidak menjadi tolak ukur untuk maju menjadi calon DPRD yang terpenting bagimana calon yang akan maju mempunyai kemauan keras  dan semangat untuk tetap menjadi DPRD.

Sementara mama Theresia Sondegau mengatakan bahwa apa yang menjadi beban pikiran dan pembicaraan kami mama-mama selama ini yang telah diungkapkan oleh ibu Ciska sehingga kami mama-mama pada umumnya menagis, senang, dan bangga atas semua penyampaian yang di sampaiakan ibu Ciska. Kami juga bersyukur kepada Tuhan karena kehadiran ibu Ciska di tempat ini bisa memberi kami dorongan dan semangat untuk maju DPRD, namun saat ini di kabupaten intan jaya akan main bayar-bayar suara selain bayar-bayar suara Tempat Pemungutan Suara dan Pengawas Pemilu Daerah selalu di lakukan oleh bapa-bapa sehingga kami mama-mama di kabupaten intan jaya meminta lembaga Komisi Pemilihan Umum daerah (KPUD) kabupaten  intan jaya untuk tempatkan mama-mama di beberapa TPS dikampung-kampung kabupaten intan jaya, karena selama beberapa tahun ini mama-mama atau perempuan tidak terlibat dalam kegiatan pemerintahan untuk itu di tahun 2014 ini kami mama-mama di kabupaten intan jaya meminta KPUD Kabupaten intan jaya untuk tempatkan mama-mama/perempuan di TPS maupun PPD di delapan Distrik yang ada di kabupaten intan jaya. Semoga…!!!





AKTIFITAS PEMDA INTAN JAYA MASIH LIBUR


INTAN JAYA_Sepertinya biasanya umat kristiani di seluruh dunia sudah mulai libur dari awal Desember hingga pertengahan desember. Libur-libur desember biasanya ditentukan oleh pemimpin di suatu instansi, Lembaga dan sekolah-sekolah.

Pemandangan Ibu Kota Kabupaten Intan Jaya(Foto. Misael M)
Sejak tanggal 15 Desember 2013 pemerintahan di kabupaten intan jaya sudah di liburkan, namun sampai bulan Maret 2014 pemerintah kabupaten intan jaya masih libur di kabupaten Nabire, Timika, Jayapura dan Jakarta. hal ini di sampaikan oleh salah satu staf di salah satu dinas yang sudah lama mengapdikan dirinya untuk masyarakat di distrik Sugapa- Intan Jaya sejak tahun 1995 hingga tahun 2014 saat menjumpainya di Jogatapa pada tanggal 1 Maret 2014 pukul 09. 35 wpb.

Tambahnya; Sejak pelantikan esalon II, III dan IV banyak orang yang diangkat menjadi kepala dinas, kasubag dan staf namun semuanya tidak mengapdi di intan jaya hanya sedikit orang yang mengapdi untuk Negara dan masyarakat. Kebanyakan pegawai tinggal di kabupaten Nabire dan Timika nanti saat habis bulan mereka datang ambil gaji lalu balik lagi ke Timika dan Nabire. jadi saya juga bigung dengan cara kerja orang-orang model ini, karena mereka diangkat untuk makan uang saja.
Saya rasa orang-orang yang tidak kerja lalu makan uang saja ini mereka sudah berdosa terhadap Tuhan, Alam dan Masyarakat intan jaya, tetapi saya tidak bermaksud mengejek mereka, karena Tuhan Allah telah berikan talenta kepada setiap orang di dunia ini sejak kandungan ibu mereka sehingga mereka tinggal kembangkan telenta mereka masing-masing dalam segala karya demi memuji dan memuliakan Tuhan agar kelak apa yang kita tabur kita bisa tuai.
Sementara Philipus Abugau salah satu staf yang kerja di dinas Inspektorat mengatakan; kantor-kantor di intan jaya sudah libur dari pertengahan bulan Desember 2013 sampai saat ini bulan Maret 2014 sehingga masyarakat intan jaya jadi korban.

Dari awal bulan Desember 2013 sampai maret 2014 ini masyarakat alami susah, sakit, lapar hingga banyak yang meninggal dunia, entah itu bayi, anak-anak dan orang dewasa.
Lanjut Abugau; ada banyak masalah yang akan muncul di intan jaya sehingga pemerintah kabupaten intan jaya dalam hal ini bupati kabupaten intan jaya musti membuka mata hati untuk membagun kerja sama, komunikasi dan diskusi bersama pihak Gereja, Intelektual, Mahasiswa, Tokoh Masyarakat, tokoh pemuda, tokoh wanita dan pihak- pihak yang berkompoten dalam rangka mengantisipasi masalah-masalah yang akan muncul.

Masalah-masalah yang akan muncul di kemudian hari diperkirakan akan memecahbelakan masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain dan akan berujung pada konflik horizontal yang dapat melumpuhkan seluruh gerak pemerintahan kabupaten intan jaya sehingga ucapan intan jaya Maju, intan jaya Sehat, intan jaya Bersih dan intan jaya Pintar akan menjadi ucapan kosong, maka sebelum jauh bupati intan jaya dan jajarannya diminta mem’fasilitasi pihak Gereja, Intelektual dan Mahasiswa dalam rangka membagun pemahaman kepada public di kabupaten intan jaya melalui seminar, diskusi lepas maupun membagun hubungan kerja sama antara bawaan dengan atasan, atasan dengan bawaan, masyarakat dengan pemerintahj dan pemerintah dengan masyarakat agar kedepan tidak terjadi konflik horizontal yang merugikan semua pihak,Semoga…!!!

Kilau Emas Lemahkan Nurhani, Butakan Hati

Tak di sangakah kilau emas menyebabkan manusia terlenah dan lebih banyak untuk menempatkan posisinya sebagai makluk termulia, ciptaan Tuhan lebih rendah dari nilai kemanusiaan yang sebenarnya.
Ilustrasi: Sosialisasi Komisi ke-1

Sejarah di berbagai dunia membuktikan kehancuran sebuah hubungan manusia dalam organisasi maupun subuah lembaga besar seperti sebuah Negara hanyalah di akibatkan oleh kemualiaanya harta yang bersumber dari kekayaan Alam (SDA) .
Khusus wilaya papua emas adalah komonditas utama , sumberdaya alam ini di ciptakan Tuhan di atas pulau ini dan di peruntungkan bagi manusia yang berdiam turun temurun dengan maksud yang baik, namun karena nilainya yang tinggi, harta bernilai tinggi ini menjadi ajang perebutan berbagai pihak dari luar negeri maupun local .

Sentral terhadap sumber daya alam (SDA) ini  mulai di lakukan terang -terangan dengan memanfaatkan berbagai cara. tak peduli lagi norma kemanusiaan yang penting dapat emas dengan jumlah yang bayak.  Ekspansi secara local guna menguasai lokasi yang mengandung emas mulia marak di lakukan …… sehingga emas merusak moral kemanusiaan dan membutakan hati ,melemakan nurani semua manusia. *Melianus Duwitau*

Sejarah Nama Bandar Udarah Soko Paki


Alfons Belau Pake Koteka Sedang Gulung Rokok
INTAN JAYA-Semenjak pemerintah kabupaten Paniai memekarkan Distrik Sugapa masyarakat setempat merencanakan akan pentingnya Bandar udara, karena jangkauan antara Paniai dengan Distrik sugapa sangatlah jauh, maka beberapa tokoh masyarakat setempat mencari tempat yang baik untuk membuka bandar udarah. Dengan melihat situasi itu, maka Maigepigidegambuga/Gempabumi Belau mencari rotan untuk mengukur bandar udarah. Maigepigidegambuga memanjat sebuah pohon yang tinggi lalu mengukur bandar udarah dari atas pohon yang tidak jauh dari kampungnya. Hal ini disampaikan oleh Lukas Belau sehingga saya hendak ke rumah Maigepigidegambuga, namun karena dia keluar, maka saya kembali ke Saisiga ternyata disana ada Kamusani Belau.

Saya pun hendak mewawancarai Kamusani pada hari senin tanggal 14 Januari 2013 pukul 09.35 wpb, ia mengatakan bahwa saat itu kira-kira tahun 1970-an masyarakat setempat dari setiap gereja yang ada di intan jaya datang untuk memulai kerja dengan bahan dan alat yang sangat tradisional berupa kuyu runcing untuk menggali tanah dan kulit kayu untuk mengangkat tanah yang sudah digali.

Alat-alat tersebut kami ambil dari kayu-kayu khusus yang dapat bertahan hujan dan digin dan kami kerja dibawa pengawasan staf  Distrik.  Kamusani Belau Mengeluarkan Foto lamanya yang saat itu kerja lapangan Soko Paki  dan mengatakan bahwa; saya masih ingat kata-kata staf distrik saat itu mereka katakan; pesawat Merpati akan mendarat dibandara yang kamu buat, untuk itu kamu harus kerja sampai bandara  ini Jadi.

Saat kerja bandara ada beberapa orang yang tertimbun oleh tanah, mereka yang tertimbun tanah diantaranya Sogo Au Mirip, Kolebaba Bagau dan Kinimina Japugau. Selain ketiga korban ini ada juga korban-korban lain, Nama ketiga korban inilah yang digabung menjadi nama bandara di Distrik Sugapa yaitu SOKO PAKI. Soko paki inilah nama Bandar Udarah di Ibu Kota Kabupaten Intan Jaya, namun sampai saat ini bandar udara soko paki belum jelas statusnya, apakah bandara Soko Paki milik masyarakat adat, milik pemerintah atau milik Gereja.? Sehingga perlu dibicarakan oleh tiga tungku; adat, pemerintah dan gereja agar dikemudian hari tidak terjadi hal-hal yang merugikan semua pihak.