Kita Harus Mengakhiri Alir Tangis Rakyat Papua



Oleh Mohamad Chandra Irfan

Siapa yang bisa memenjarakan bahasa dan kata-kata? Tak satu orang pun berhak memenjarakannya. Biar itu orang yang punya senjata. Biar itu orang yang punya kuasa. Biar itu orang yang punya banyak harta. Tak ada yang bisa memenjarakan bahasa dan kata-kata. Apalagi teriakan “Merdeka!” yang diawali terlebih dahulu seruan “Papua”.

Di Papua, bukan hanya terjadi agresi militer. Tapi di bumi Papua, hal lain yang terjadi adalah agresi budaya. Agresi budaya ini mestilah menjadi satu bahan untuk kita rumuskan bersama. Di antara organ tubuh kita, mulai dari mata, telinga, hingga pancaindra lainnya, mesti menjadi peka terhadap kehancuran bersama: penindasan atas nama kuasa dan senjata.

Yang umum kita kenal selama ini soal Papua hanyalah tarian adat dan paduan suaranya. Tapi kita selalu menjadikan mata kita sendiri buta terhadap realitas sesungguhnya. Bahwa di balik tarian adat dan paduan suara yang kerap dibanggakan banyak kalangan di Indonesia, terjadi pembantaian diam-diam terhadap orang Papua-nya.

Tak heran, pekikan perang dengan suara khas burung, selalu menggema di mana-mana pasca rakyat Papua berteriak “merdeka”. Kawan-kawan Papua percaya, dengan begitu ia sedang menabung masa depan Papua menuju satu gerbang yang mereka cita-citakan: merdeka. Selain euforia dalam teriakan khas yang meniru suara-suara burung, jauh di dalam dadanya, mereka sedang menyucikan dirinya dari roh-roh jahat yang bernama, sebut saja di antaranya: Indonesia dan Amerika Serikat.

Dalam suasana gegap gempita sekaligus penuh duka, budaya bisa menjadi siasat lain dalam menundukkan penguasa. Ya, sebagai media propaganda. Mau tidak mau, sepakat ataupun tidak, berbicara Papua, yang berhak menentukan secara mandiri masa depan bangsanya, masa depan kehidupannya, masa depan tatanan sosialnya, adalah harus orang Papua.

Tak ada doa yang sempurna, selain digenapkan dalam aksi massa. Kita harus mengakhiri segala kebejatan di seisi semesta—menjadi satu barisan dengan kawan-kawan Papua. Sebab cinta terhadap rakyat Papua hanya akan menjadi basa-basi semata, apabila tak dibarengi tindakan yang nyata. Berteriak atas nama cinta pada sesama manusia. Berteriak untuk menyulam kembali gagasan merdeka, di jalan raya.

Bukan satu atau dua manusia yang hilang nyawanya di bumi Papua akibat moncong senjata. Data-data hanya menjadi catatan yang kehilangan rumah, kala ia tersimpan di laci penguasa, yang hanya cukup mereka ketahui, tak pernah diselesaikan dengan seksama. Seandainya saja aku bisa menghapus tiap ingatan pembantaian di Papua, ingin sekali ingatan-ingatan itu kugunting, memilih dan memilah mana yang paling aku suka.

Tapi tak bisa. Tak bisa. Genosida di Papua terus menjadi cermin nyata manakala aku duduk di beranda hanya untuk menghabiskan sisa usia, atau di gedung pertunjukan manakala menonton pementasan yang penuh dengan adegan palsu dan penuh dusta. Bumi Papua selalu mengetuk-ngetuk dengan segala peristiwa kejam yang menimpanya. Aku tersiksa, tapi rakyat Papua jauh lebih tersiksa dan nyaris binasa.

Mula-mula aku mengatupkan mata, sebelum kantuk benar-benar tiba. Dalam pandangan yang gelap dari berbagai warna, yang tersisa hanya ingatan hitam yang memanjang ke arah Papua. Sejak itu, adegan paling tragis dalam kepalaku mulai masuk satu per satu. Seorang perempuan yang diperkosa tentara. Seorang lelaki berambut gimbal ditabrak tanpa sebab apa-apa.

Seorang lelaki mengepalkan tangan kirinya sambil bilang “merdeka”, ususnya terburai memanjang ke tanah yang baru saja dijarah Pemerintah Indonesia, dijaga ketat Brimob dan tentara. Seorang buruh kepalanya kena batu sebesar tubuh koala. Seorang anak kehilangan ibunya karena baru saja mengikuti aksi massa. Bisakah adegan ini diakhiri? Kepalaku semakin berat membayangkan anak-anak yang kepalanya akan dipenggal, tinggal menunggu usia mereka menginjak dewasa. Tak ada adegan bahagia. Tak ada!

Aku menyangkal Edo Kondologit, bahwa bumi Papua adalah surga yang jatuh ke bumi. Sekarang tidak begitu adanya. Bumi Papua adalah darah yang terus menggelontor dari tiap organ tubuh orang-orang Papua. Surga di Papua telah beralih menjadi neraka yang tak kenal batas usia. Setiap bayi yang lahir sudah ditentukan usianya oleh makhluk yang bernama pemerintah dan aparat kolonial Indonesia dan Amerika Serikat, bukan lagi oleh Tuhannya.

Tak ada lagi surga di Papua. Itu hanya kalimat untuk menibobokan kita. Kini, neraka itu bernama Papua dan para penjaganya adalah pemerintah, aparat dan korporat dari Indonesia dan negeri asing lainnya. Mereka saling berebut kuasa untuk mendapatkan investasi yang membabi buta.

Jika sekarang bumi Papua adalah neraka, maka orang-orang yang berjuang untuk keluar dari kerak neraka yang diciptakan secara biadab, selamanya adalah orang-orang yang sedang membangun kembali surga. Meski nyawa selalu jadi taruhannya.

Tak lama lagi, asalkan kita tetap satu suara, antara kawan-kawan Papua dan kawan-kawan Indonesia yang bersepakat untuk membangun kembali surga dan sejarah Papua yang sebenarnya. Kita akan merebut kembali Bintang Kejora di langit pagi seputih salju Puncak Jaya, seharum bunga gerbera. Lantas kita akan mengibarkannya di seantero jagat raya. Menyanyi dan menari tanpa jeda. Sampai benar-benar terbentuk sebuah bangsa yang mengamalkan ilmu sejahtera untuk semua umat manusia.
Kita harus mengakhiri alir tangis rakyat Papua. Tentu saja dengan segenap perlawanan yang patuh terhadap kesepakatan bersama, yakni: mati atau merdeka!


Sumber: http://pembebasan.org/kita-harus-mengakhiri-alir-tangis-rakyat-papua/